News Ticker

Latest Posts

HIDUP DENGAN BANYAK PERAN

- Thursday, October 18, 2018 2 Comments

Sejak awal saya ingin hidup bermanfaat bagi banyak orang, dan ini lumrah saya rasa dan banyak dipikirkan oleh orang lain juga. Sehingga wajar ketika memasuki dunia kampus saya langsung melibatkan diri di banyak kegiatan organisasi mahasiswa. Ketika sudah selesai dari kampus tentunya beberapa peran mulai dijalani dalam masyarakat karena dilihat ada keinginan dan kemampuan tentunya. Keinginan yang kuat dari awal inilah pula yang menyebabkan saya harus banyak belajar dari berbagai kegiatan kelompok semasa di kampus dulu maupun di luar kampus. Walaupun memang keinginan menjadi modal utama namun juga harus dibarengi dengan kemampuan agar benar-benar bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Menjalani banyak peran di masyarakat memang tidak semua orang melakukannya. Tapi bisa dikatakan tiap orang paling sedikit memiliki dua peran dalam hidupnya, pertama menjadi kepala atau anggota keluarga dan pekerja. Dua peran ini bisa dikatakan menjadi peran yang wajib bagi orang yang sudah dewasa. Namun tidak menutup kemungkinan bagi sebagian orang memiliki peran yang lebih dari dua dalam kehidupannya. Bagi saya ini menjadi konsekuensi dari hidup sebagai makhluk sosial, apa lagi berada di lingkungan perkampungan yang masih kental dengan ikatan sosialnya. Seperti saya, setidaknya ada enam peran yang saya jalani dalam kehidupan saya beberapa waktu ini dan  kedepannya.
Pertama, sebagai kepala keluarga sejak menikah pada tanggal 22 September 2018 yang silam. Ini menjadi peran saya yang paling baru dan merupakan sebuah keharusan bagi saya. Menjadi kepala keluarga tentunya banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Juga tanggung jawab yang besar ada di pundak untuk menjamin kehidupan anggota keluarga. Peran yang satu ini juga akan banyak berkaitan dengan peran-peran lain saya selanjutnya dalam kehidupan. Seperti tuntutan untuk menjalani peran saya yang kedua yaitu profesi guru. Walaupun ini sudah lama saya jalani namun karena ini menjadi profesi tentunya sangat berkaitan erat dengan peran sebagai kepala keluarga. Profesi guru ini menjadi peran utama dalam kehidupan saya setelah kepala keluarga.
Peran yang ketiga adalah berkaitan dengan profesi saya sebaai guru yaitu kepala madrasah. Sejak tahun 2012 lalu saya sudah menjalani peran sebagai kepala madrasah di MTs NW Tanak Maik. Sebagai kepala tentunya saya harus memimpin lembaga pendidikan ini dengan menjalankan setidaknya 3 tugas yaitu, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan keuangan dan manajemen madrasah. Peran sebagai kepala Madrasah mengharuskan saya untuk bisa fokus pada bagiamana agar madrasah bisa berjalan sesuai dengan visi dan misi yang sudah ditetapkan.
Peran yang keempat yang saya jalani adalah sebagai peneliti di lembaga survey. Peran ini semakin menguat dua bulan terakhir ini dengan bergabungnya saya dengan lembaga survey lokal yang lebih memberikan ruang untuk mengeluarkan ide dan gagasan. Yang kelima adalah sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Masbagik Timur, desa tempat saya tinggal selama ini. Peran BPD ini tentunya sangat vital di desa karena termasuk dalam pemerintah desa yang bertugas salah satunya adalah untuk mengawasi berjalannya program desa. Pada lingkup yang lebih kecil lagi, yaitu di kampug tempat saya tinggal, sejak 2013 lalu saya dipilih sebagai ketua Pemuda. Dengan demikian saya banyak berkutat dengan urusan kepemudaan yang jaringannya meluas ke desa bahkan ke luar desa sendiri. Peran kelima ini sesuai dengan keinginan saya sejak lama yaitu memajukan kehidupan pemuda di tempat saya. Peran yang lain adalah saya aktif di beberapa organisasi pemuda seperti Karang Taruna dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Selain itu juga aktif di beberapa komunitas yang sesuai dengan keilmuan yang saya dalami yaitu berkaitan dengan literasi.
 Hidup dengan banyak peran seperti saya ini tentu membutuhkan pengelolaan waktu yang baik agar semua peran bisa dijalani dengan baik sesuai dengan kadarnya. Peran yang banyak ini mengharuskan saya untuk bisa proporsional membagi waktu agar semuanya bisa berjalan pada jalurnya. Ada dua kategori dari semua peran ini menurut saya, yang pertama adalah sebuah keharusan dan tuntutan, yang ini menjadi prioritas utama. Peran ini tentunya yang berhubungan dengan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Yang kedua adalah kategori pengabdian dan hobi, tentunya ini menjadi prioritas kedua, namun harus tetap berjalan setelah prioritas utama terpenuhi. Dengan pembagian ini saya tentunya bisa mengatur waktu dan perhatian agar semuanya bisa maksimal sesuai dengan kadarnya masing-masing. Sehingga harapan untuk hidup dengan banyak peran bisa tercapai dan berjalan sesuai harapan dan tentunya bisa memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat di sekeliling. Peran lain yang belum bisa terwujud adalah peran sebagai seorang penulis nonfiksi maupun kolumnis. Harapannya ini bisa terwujud pada waktu yang akan datang. Semoga.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6     

HIDUP UNTUK MEMBERI

- Wednesday, October 17, 2018 No Comments

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
(Hadist)

Sejak memasuki dunia kampus pada tahun 2004 dulu, saya langsung tertarik dengan dunia aktifis mahasiswa. Saya kagum dengan mereka yang berkumpul dan berorganisasi dan membicarakan hal-hal yang menyangkut kemaslahatan orang lain. Di samping juga kemaslahatan sendiri sebagai kelompok mahasiswa menjadi perhatian yang tidak luput dari pembicaraan dan tindakan mereka. Akhirnya saya terjun ke dunia aktifis mahasiswa bersamam teman-teman-teman yang lain. Di sinilah saya belajar mengenai permasalahan dan penyelesaiannya baik yang bekembang di lingkungan kampus maupun di negera secara umum, bahkan pemaslahan dunia tidak lepas dari diskusi-diskusi dan kajian kami. Ini semakin membuat saya bersemangat terlibat dan aktif dalam dunia katifis mahasiswa.
Kegiatan saya yang begitu banyak di kampus berbanding terbalik dengan saat saya masih di bangku sekolah. Walaupun tergolong sebagai anak yang mendapat prestasi secara akademik namun saya menjadi pribadi yang tidak pandai bersosialisasi. Saya terpinggirkan dari kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan diri, sehingga sangat bepengaruh pada keberanian saya untuk mengemukakan pendapat di muka umum, terutama di dalam kelas. Hal inilah juga yang mendorong saya untuk aktif di dunia aktifis mahasiswa. Saya bertekad harus bisa public speaking yang menjadi kelemahan saya di dalam kelas sejak di bangku sekolah. Banyka kegiatan yang kami lakukan baik itu diskusi, kemah bersama, sampai demonstrasi untuk menyuarakan aspirasi. Aktifitas ini terus berlangsung di tengah kesibukan saya kuliah sampai akan menyelesaikan kuliah dan wisuda.
Selain untuk bisa public speaking, dorongan kuat juga untuk terjun ke duni aaktifis mahasiswa adalah untuk pembekalan diri agar bisa bermanfaat di lingkungan sendiri saat sudah selesai di kampus. Dan memang tepat apa yang saya harapkan, dengan banyaknya aktifitas yang saya lakukan saat kuliah maka implikasinya adalah saat saya berada di tengah-tengah masyarakat. Tekad untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain saya wujudkan ketika sudah berada di komunitas asal saya. Berbagai pengalaman yang saya dapatkan saat kuliah saya terapkan di rumah, tanpa memikirkan apa yang akan saya dapatkan. Pada prosesnya maka saya pun terpilih menjadi ketua pemuda di kampung kemudia berlnajut menjadi ketua Karang Taruna di desa. Kesemuanya ini saya niatkan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Hal pertama yang saya bangun adalah kerangka berpikir teman-teman pemuda agar bisa menjadi generasi yang betul-betul siap menggantikan generasi tua. Dengan banyak berdiskusi dan berlatih public speaking saya mencoba untuk mendorong agar teman-teman pemuda bisa tampil di muka umum dan mengemukakan pendapatnya dengan baik. karena saat itu, hal inilah yang sangat kurang di lingkungan saya. Alhamdulilah dengan mendorong secara aktif maka semakin banyak pemuda yang bisa tampil di muka umum dengan baik sehingga kekurangan yang selama ini dilamai bisa tertutupi. Hal ini kemdia meadapat sambutan yang baik di kalangan tua, sehingga ini bisa menjadi dorongan semangat bagi kami pemuda untuk terus belajar menajdi lebih baik.
Keinginan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain banyak mendorong saya dan teman-teman mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan seremonial. Mulai dari Perayaan Hari Besar Islam, Peringatan Hari Besar Nasional sampai kegiatan sosial diselenggarakan oleh komunitas pemuda. Hal ini tentu mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat danmenjadi dorongan semangat. Hal yang menjadi tugas rumah saya dan teman-teman yang lain saat ini adalah bagaimana membangun perekonomian komunitas pemuda agar berdaya. Semoga ke depan hal ini bisa tercapai agar pemberdayaan ekonomi bisa tercapai di kalangan pemuda.      

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6

MUSRENBANG RKPDES, MASBAGIK TIMUR FOKUS DI PEMBERDAYAAN

- No Comments

Pada hari selasa, 16 Oktober 2018 bertempat di aula kantor desa Masbagik Timur diadakan musyawarah rencana pembangunan desa (musrenbangdes) dengan agenda pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDES) tahun 2019. Musyawarah ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait baik dari kecamatan maupun dari desa Masbagik Timur sendiri. Hadir pada acara ini yaitu Camat Masbagik, Tim Pendamping Desa, BPD, LKMD, Kepala Dusun dan perwakilan warga dan kelompok perempuan.
Acara ini dibuka oleh Kepala Desa Masbagik Timur, Marunah, yang mengemukakan pandangan-pandangan terhadap visi ke depan pembangunan desa yang Ia pimpin. Dalam sambutannya Kepala Desa menekankan disiplin dan partisipasi semua unsur dalam memberikan masukan terhadap rencana pembangunan desa. Dengan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, Kepala Desa ingin dana desa yang begitu besar tidak hanya untuk pembangunan fisik berupa rabat dan talut saja namun juga untuk pembangunan manusia. Hal senada dilontarkan oleh Camat MasbagiK bahwa pentingnya membangun pola pikir masyarakat dan pembuat kebijakan bahwa pembangunan manusia jauh lebih penting dilakukan untuk investasi jangka panjang.


Ditemui setelah pembukaan acara, kepala Desa Masbagik Timur menjelaskan apa yang telah disampaikannya pada saat memberikan sambutan pada acara musrenbangdes. “Pembangunan yang akan kita fokuskan di Masbagik Timur adalah pembangunan non fisik, kita ingin masyarakat bisa berdaya sehingga bisa mandiri ke depannya. Tidak lagi bergantung kepada dana pemerintah dan bantuan saja”. Lanjutnya, “selain itu juga perlu dibangun kemandirian usaha desa untuk menopang pembanguan ke depan”. Ditambahkan oleh Kepala Desa, “dengan menjadi mandiri, ke depannya desa kita tidak lagi bergantung dengan dana dari pemerintah pusat, bila perlu kita tolak bantuan yang ada kalau kita sudah mandiri.”


Ditemui secara terpisah, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Salman membenarkan apa yang disampaikan oleh Kepala Desa Masbagik Timur. “Memang betul, sudah saatnya pembangunan kita arahkan kepada pemberdayaan dan investasi jangka panjang. “Sudah saatnya pembangunan manusia menjadi fokus untuk pembangunan di Desa kita ini”, imbuhnya.   
Kegiatan musrenbangdes Masbagik Timur berakhir pada siang hari dengan menelurkan beberapa keputusan seprti yang diharapakan oleh Kepala Desa dan banyak lalangan bahwa pembangunan tahun 2019 nanti akan dititikberatkan pada pemberdayaan dan kemandirian usaha melalui BUMDes. Selalin itu juga kegiatan pemberdayaan pemuda melalui Karang Taruna dan POKDARWIS juga mendapat perhatian yang besar pada tahun 2019 nanti. Sehingga diharapkan apa yang menjadi cita-cita Kepala Desa yang tertuang dalam visi dan misinya bisa terwujud pada masa pemerintahannya.  

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6

#nonfiksi       

TENTANG PILIHAN (Bagian 2): LAIN DULU LAIN SEKARANG

- No Comments

Pada pemilihan legislatif 2019 yang akan datang begitu banyak orang yang terlibat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan sampai akademisi pun ikut terlibat. Semua tentunya membawa cita-cita ingin memajukan daerah dan negeri ini melalui jalur parlemen sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak menutup kemungkinan juga ada dorongan-dorongan lain secara pribadi yang membuat banyak kalangan terlibat dan berebut kursi anggota legislatif, baik dari pusat sampai ke daerah-daerah. Ada yang sudah menjadi anggota legislatif maupun orang-orang yang baru terlibat. Mereka tersebar dalam berbagai partai politik yang ada yang digunakan sebagai kendaraan politik untuk menuju kursi anggota legislatif.
Yang menarik pada tahun 2019 ini maupun tahun sebelumnya 2014 yaitu keterlibatan aktifis massa yang berlatar belakang ormas pemuda dan mahasiswa. Memang tidak sedikit yang sudah duduk di kursi anggota legislatif, terutama aktifis 98 yang berjuang untuk mewujudkan reformasi. Namun efeknya begitu besar sampai daerah-daerah mulai terasa sejak 2014 lalu dan meningkat pada PEMILU tahun 2019 mendatang, yang mana tahapannya sudah dimulai sejak September kemarin. Tentunya usia mereka masih tergolong muda dan sangat potensial jika dilihat dari kemampuan dan cita-cita pembangunan dan perbaikan seperti yang diusung sejak menjadi aktifis dulu.
Melihat keikutsertaan para aktifis ini dalam pemilu legislatif tidak sedikit yang menyangsikan kinerja mereka ke depannya. Banyak yang ragu akan prinsip dan cita-cita perjuangan mereka akan masih sesuai dengan saat mereka belum menjadi anggota legislatif. Keraguan ini tidak jarang datang dari teman mereka sendiri yang tidak masuk dalam putaran politik praktis. Ini terlihat dari banyaknya perdebatan yang terjadi maupun komentar yang muncul di lini massa media sosial Facebook. Beberapa anggapan yang mengemuka adalah bahwa para aktifis yang terlibat politik praktis sudah tergiur dengan empuknya kursi jabatan. Mereka dikatakan sudah lupa akan perjuangan yang mereka kobarkan lewat luar parlemen. Melalui parlemen jalanan, dulu mereka kerap menyuarakan aspirasi dan tuntutan rakyat yang dibawanya.
Mendapat tanggapan demikian, tentu para calon anggota lgislatif dari kalangan aktifis pemuda ini menyampaikan sanggahan untuk justifikasi atas pilihan yang mereka ambil. Menurut mereka, cita-cita perjuangan tidaklah berubah, masih seperti sedia kala saat dulu masih menjadi aktifis massa. Hanya saja taktik yang berubah, dulu melalui luar parlemen kalau sekarang berusaha melalui dalam parlemen. Keadaanlah yang membuat mereka harus merubah taktik perjuangan tanpa harus menafikan perjuangan lewat luar parlemen atau luar kekuasaan. Keadaan yang membutuhkan perbaikan dari dalam system itu sendiri. Butuh orang-orang baik untuk mengisi kursi-kursi penentu kebijakan agar kebijakan yang ditelurkan berpihak kepada rakyat.
Begitulah dinamika keterlibatan para aktifis pemuda dan mahasiswa yang menjadi calon anggota legislatif. Di satu sisi mendapat cemoohan dari kawan yang masih tetap di jalur luar parlemen, di satu sisi juga ini merupakan pilihan politik yang sah menurut undang-undang yang berlaku. Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keadaan sudah berubah, lain dulu lain sekarang, lain keadaan berbeda pula taktik perjuangan. Tidak ada yang salah selama ketika duduk di legislatif nanti mereka masih tetap di jalur perjuangan dan cita-cita mulia sejak dulu yaitu mewujudkan rakyat yang sejahtera. SEMOGA.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6  

SAATNYA BANGUN CINTA (Bagian 2): IKHLAS YANG BERTANGGUNG JAWAB

- No Comments

Dalam usaha membangun cinta bahwa saling menerima keadaan menjadi hal yang sangat penting. Karena tentunya ketika hidup bersama maka tidak ada hal yang bisa disembunyikan dari pasangan masing-masing terkait dengan karakter dan kebiasaan. Tidak ada istilah jaga image dari masing-masing individu karena semuanya terlihat dalam keseharian. Sehingga dalam usaha membangun cinta maka menerima apa yang ada menjadi hal yang sangat penting untuk terus menjaga kokohnya bangunan cinta.
Saling menerima keadaan masing-masing dari pasangan tentu dapat dilakukan dengan dasar keihklasan. Dengan begitu maka rasa kecewa terhadap keadaan pasangan bisa dihilangkan dari diri masing-masing. Namun tentunya tidak selamanya ikhlas menerima ini akan terus dipertahankan sehingga timbul tindakan membiarkan atas kekurangan-kekurangan yang ada. Tentunya ini bukan tindakan yang tepat juga mengingat kekurangan yang ada bisa saja bersifat alamiah dan permanen tapi juga ada kekurangan yang masih bisa diperbaiki. Maka keihklasan dalam hal ini bukanlah ikhlas menerima begitu saja apa yang ada, namun masih dimungkinkan usaha-usaha perbaikan ke arah yang lebih baik atas kekurangan yang ada.
Saat kita melakukan usaha-usaha menuju ke arah perbaikan inilah sebagai bentuk tanggung jawab pada diri masing-masing dari pasangan. Tidak ada pembiaran terhadap kekurangan yang ada pada masing-masing individu melainkan timbul usaha untuk memperbaiki. Upaya perbaikan yang dilakukan tentunya berupa teguran mulai dari yang ringan sampai ke teguran yang keras. Hal ini disesuaikan dengan tingkat kekeliruan yang dilakukan oleh pasangan.
Keikhlasan menerima disertai tanggung jawab untuk memperbaiki menjadi usaha saya dan pasangan untuk membangun cinta. Usaha untuk mencintai, bukan hanya untuk dicintai. Usaha untuk mecintai ini terwujud dalam ikhlas yang bertanggung jawab. Tidak pasrah dengan seperti apa adanya pasangan tapi berusaha untuk memberikan teguran untuk perbaikan sebagai wujud cinta. Karena pasrah dengan keadaan yang ada tanpa usaha perbaikan adalah bentuk dari rasa ingin dicintai, takut akan perasaan pasangan yang berubah ketika melakukan pebaikan-perbaikan terhadap diri pasangan. Jangan sampai perasaan ingin dicintai ini mengalahkan tanggung jawab yang seharusnya kita jalankan dalam usaha mencintai pasangan. Membangun cinta memang perlu keikhlasan untuk menerima seperti apa pasangan, namun keikhlasan yang bertanggung jawab adalah hal selanjutnya yang dilakukan sebagai bentuk rasa mencintai bukan hanya agar dicintai.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6  

TENTANG PILIHAN (Bagian 1): PILIHAN TERSANDERA STIGMA

- Saturday, October 13, 2018 No Comments

Dua kali perhelatan pemilihan umum, utamanya pemilihan presiden dan wakil presiden, yaitu tahun 2014 dan 2019 yang akan datang entah mengapa begitu sulit dalam menentukan pilihan. Bukan karena sulit menentukan mana yang terbaik dari yang baik-baik, namun sulitnya dalam mempunyai pilihan. Bagaimana tidak, saat sudah mempunyai pilihan sejak 2014 yang lalu maka bersiap-siap mendapat julukan salah satu dari dua istilah yang begitu tidak enak didengar. Sungguh tidak elok untuk disematkan pada manusia yang sudah mempunyai akal dan berbudaya. Bahkan lebih jauh lagi, perkara agama pun menjadi pembeda di antara yang seagama sekalipun. Yang mana saudara seiman bahkan sampai mengatakan saudaranya yang lain kafir karena beda pilihan. Menganggap diri paling beragama saat memilih salah satu pasangan calon atau partai tertentu.
Sulitnya mempunyai pilihan pada tahun politik terakhir ini tidak terasa pada tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) tidak santer terdengar pada tahun-tahun politik sehingga pilihan apapun itu tidak terlalu membebani pribadi masing-masing. Tidak ada saling cap ini dan itu, tidak ada yang merasa paling beriman lantaran pilihan politik. Kesemuanya itu sirna lantaran narasi-narasi SARA yang dikemukakan sejak tahun pemilihan umum 2014 dan dipelihara sampai saat ini. Tentu dengan tujuan politik semata, bukan tentang kepentingan umat beragama. Padahal banyak hal lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan tentunya, tidak semata terkait dengan narasi-narasi yang dibangun akhir-akhir ini melalui media sosial dan media massa.
Saling serang dan bertahan dalam sebuah kompetisi seperti pemilihan umum tentu tidak ada salahnya. Tergantung pada tentang apa yang menjadi isi dari serangan terhadap lawan. Tentu yang paling elok adalah adu program ke depan maupun yang sudah dijalankan. Namun kemudian ini menjadi celah yang empuk bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) untuk saling menyudutkan bahkan menjatuhkan. Nafsu menjatuhkan ini bahkan sampai pada tataran pribadi sang calon yang mana ilmu cocokologi (berusaha mengaitkan) merajalela di dunia maya dan sangat gampang disebarluaskan. Perang pernyataan di media massa oleh para elit politik juga menjadi tontonan bagi masyarakat, sehingga diskusi dan adu gagasan sudah jarang di dunia nyata. Dunia maya menjadi arena tarung bebas bagi para elit dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang terus memupuk kebencian.
Stigma-stigma yang berkaitan dengan SARA memang cukup membuat pilihan politik menjadi berat, apa lagi sudah menjurus ke stigma berkaitan dengan iman dan agama. Belum tentu dengan memilih partai A seseorang kemudian bisa diukur tingkat keimanannya, seperti gampangnya seseorang menganggap dirinya lebih beriman daripada yang lain karena memilih partai B yang kebetulan berciri religius. Jika ini dipelihara terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan timbul celah-celah perpecahan yang semakin lebar. Akan lebih sulit lagi jika menjadi kelompok minoritas pada suatu lingkungan dengan pilihan yang berbeda. Banyak sudah ditemukan perpecahan di bawah hanya karena pilihan politik di tingkat pusat, yang sampai menyentuh ranah perkawanan. Yang mana perkawanan ini bisa rusak gara-gara beda pilihan.
Oleh karena itu mari sudahi saling semat-menyematkan stigma negatif hanya karena beda pilihan politik. Akan lebih baik jika masing-masing kita menonjolkan kebaikan-kebaikan masing-masing calon yang menjadi pilihan dan menegasikan keburukan-keburukan yang dimiliki. Karena sesungguhnya kontestasi politik praktis adalah ajang adu gagasan berkemajuan, bukan saling buka aib. Tentu tidak salah mendasarkan agama sebagai landasan untuk menentukan pilihan, karena sudah diatur dalam masing-masing agama yang ada. Namun bukan menjadi dasar untuk memberikan stigma negatif kepada saudara seiman yang kebetulan berbeda pilihan, karena bisa saja kriteria yang digunakan adalah lebih besar kepada kemampuan di luar agama. Mengingat kompleksitas persoalan yang dihadapai negeri ini, melalui pemilihan umum yang akan datang maka penting untuk melahirkan pemimpin yang betul-betul kompeten dalam mengelola NKRI ini secara menyeluruh.  

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6                       

MEMBACA: DARI KEGEMARAN HINGGA BUDAYA

- Friday, October 12, 2018 No Comments

Banyak orang menjadikan membaca sebagai kebutuhan, namun pada saat-saat tertentu. Tentu, karena membaca dilakukan saat dibutuhkan saja, kalau merasa tidak butuh bisa saja ada rasa malas untuk membaca. Membaca sebagai kebutuhan ini bisa dikatakan terjadi saat, sebagain besar, dalam masa belajar di lembaga pendidikan formal. Dari sejak SD hingga perguruan tinggi, tentunya kita akan dipaksa untuk sesuai tuntutan kebutuhan pelajaran atau mata kuliah pada jenjang pendidikan tertentu. Lalu, bagaimana setelah selesai dari masa belajar di lembaga pendidikan? Mungkinkah ada bisa dij wab dengan perbandingan antara pengunjung toko buku yang jauh lebih sedikit dengan toko pakaian di sebuah pusat perbelanjaan? Atau juga perbandingan antara pengunjung toko buku dari kalangan mana saja?
Karena tidak menjadi kebutuhan lagi, bisa saja setelah selesai belajar di lembaga pendidikan, membaca tidak lagi sering dilakukan. Karena digantikan dengan kegiatan yang lain, bekerja tentunya. Aktifitas membca akan dilakukan jika ada kebutuhan lagi untuk mencari tambahan informasi maupun pengetahuan mengenai hal tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan. Tentu hal ini tidak salah, karena dorongan membaca belum berganti dari kebutuhan ke dorongan yang lain. Dorongan lain untuk membaca selain sebagai kebutuhan adalah ketika membaca sudah menjadi kegemaran, hobi, atau kesenangan. Orang yang mempunyai kegemaran membaca tentu akan mengisi waktu-waktu luang dengan membaca. Kegiatan membaca yang dilandasi dengan kegemaran tentu tidak akan terasa memberatkan, melainkan akan terasa ringan sehingga apa yang diinginkan melalui membaca akan tercapai, yaitu rasa senang. Ketika sudah menjadi kesenangan maka membaca menjadi pilihan utama untuk menghibur diri, dibandingkan dengan jenis hiburan lain yang bertebaran di lingkungan sekitar.
Karena membaca dilakukan teus menerus dengan dilandasi kesenangan, maka kesenangan membaca tersebut bis aberubah menjadi kebiasaan. Semakin sering kegiatan membaca dilakukan oleh seseorang maka akan menjadi terbiasa. kebiasaan membaca in tentunya bisa memenuhi dua tujuan membaca sekaligus, mendapatkan pengetahuan sesuai kebutuhan dan menambah wawasan tentang hal-hal di lingkungan, selanjutnya juga akan memenuhi hasrat kegemaran membaca sebelumnya. Jadi secara bersamaan dahaga akan ilmu pengetahuan dan pemenuhan hobi bisa tercapai dalam satu kegiatan. Bagi orang yang sudah terbiasa membaca atau ingin membiasakan membaca maka membawa buku menjadi sebuah keharusa ketika bepergian ke mana saja. Saat ke luar kota kita bisa membawa buku untuk dibaca saat menunggu di ruang tunggu, saat dalam perjalanan kereta api atau pesawat terbang, maupun pada saat-saat senggang di tempat lainnya setelah menempuh perjalanan.


Bagi orang yang biasa membaca akan menjadikan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi dahaga akan bahan bacaan. Buku akan menjadi kebutuhan yang akan terus-menerus dipenuhi demi memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan untuk pengembangan diri dan menambah wawasan tentang situasi terkini di dunia. Saat inilah membaca sudah menjadi bagian dari karakter sesorang. Karakter diri yang terus butuh akan bacaan, yang pada hakikatnya adalah karakter pembelajar. Pada akhirnya nanti membaca akan menjadi sebuah budaya yang berkembang di masyarakat dengan diawali dari kebutuhan, kemudian menjadi kegemaran, kebiasaan, dan menjadikan karakter diri. Dengan demikian maka budaya membaca di tengah masyarakat akan menjadikan bangsa Indonesia yang literat. tidak lagi ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Karena data membuktikan bahwa negara-negara yang maju secara ekonomi pun tidak lepas dari bangsa yang punya daya literat tinggi. Tentunya untuk menjadikan membaca menjadi budaya, oerlu dimulai dari rumah, orang tua bisa menjadi contoh, dan pada akhirnya penulis juga sudah mulai dari diri sendiri.
Sebuah puisi dari Taufiq Ismail berikut ini bisa menjadi penutup dari tulisan ini agar semakin mempertegas bahwa budaya membaca perlu didorong terus agar tidak terjadi apa yang dikhawatirkan pada puisi berjudul “Kupu-kupu di dalam Buku”.

“Kupu-kupu di dalam Buku”
(puisi karya Taufiq Ismail)

Ketika duduk di setasiun bis, di garbing kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perputakaan yang yang mengandung ratusan ribu buku dan
cahaya lampunya terang-benderang, kulihat anak-anak muda
dan anak-anak tua sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk
yang dipajang terbentang, orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil
bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya
tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian katanya,
“tunggu mama buku ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis
dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku di baca,
di tempat penjualan buku laris di beli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

1996


# komunitasonedayonepost
#ODOP_6

BELAJAR DARI “GURU” YANG MAHA TAHU

- No Comments


Belajar merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan baru baik dengan bertemu langsung dengan guru maupun tidak bertatap muka langsung. Bertatap muka langsung tentunya bisa kita dapatkan di lembaga pendidikan formal maupun non formal, mengikuti seminar, workshop, diskusi maupun kajian-kajian keilmuan lainnya. Namun tentunya tidak selamanya kita bisa bertatap muka langsung dengan sumber pengetahuan untuk belajar. Hal ini bisa disebabkan karena keterbatasan waktu, biaya dan usia tentunya. Oleh karenanya kita perlu mencari sumber pengetahuan lain untuk belajar yang bisa dilakukan tidak terbatas waktu. Tentunya juga tidak mengharuskan untuk bertemu langsung dengan yang tahu tentang suatu ilmu tertentu sebagai sumber belajar. Dari segi biaya juga tentunya relatif lebih murah sehingga terjangkau untuk banyak kalangan. “Guru” tempat belajar yang demikian itu adalah buku, sebagai “guru” yang maha tahu.
Buku tentunya sangat beragam jenis dan isinya, sehingga wajar dikatakan sebagai “guru” yang mahatahu. Dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada di muka bumi ini bisa kita temukan dan pelajari melalui buku. Sehingga proses belajar bisa kita lakukan lewat buku tentang ilmu tertentu yang ingin kita ketahui. Saat membaca buku kita tentunya menelusuri jejak-jejak pengetahuan yang tertuang dalam buku yang dibaca. Dengan banyak membaca buku kita bisa menelusuri relung-relung pemikiran dari orang yang menulis buku. Tentunya penulis buknalah orang sembarangan, sehingga secara keilmuan tidak bisa diragukan lagi. Tinggal mana yang akan kita pilih untuk pelajari, “guru” mana yang ingin kita telusuri relung pemikirannya sampai jauh ke dasar. Sekali lagi tanpa bertemu langusung dengan si pemilik ilmu tersebut sehingga proses belajar kita menjadi murah dan tak terikat waktu.
Belajar dari “guru” mahatahu tentunya kita lakukan dengan membaca intensif agar bisa memahami isi dari pelajaran yang disampaikan di dalamnya. Dengan begitu tujuan dari membaca yaitu memperkaya khasanah keilmuan dan pengetahuan diri kita bisa tercapai. Dari kegiatan membca itu tentunya kita mendapat berbagai macam ilmu dan pengetahuan, yang pada akhirnya bisa kita padukan menjadi ilmu dan pengetahuan yang lebih lengkap dan luas. Semakin banyak buku yang dibaca maka semakin banyak ilmu dan pengetahuan yang kita eksplorasi dan padukan menjadi pengetahuan diri sendiri yang akan memperkaya kita dengan ilmu pengetahuan. Semakin kaya kita akan pengetahuan maka kita bisa mengejar pengetahuan dari penulis yang kita pelajari pemikirannya lewat buku, bahkan kita juga bisa melampaui ilmu dan pengetahuan “guru” tidak langsung yang mahatahu tadi. 
Dengan belajar dari “guru” yang maha tahu (baca: membaca) maka kita bisa memperkaya pengetahuan kita tentang sesuatu bidang yang dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari kita, baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain. Apa lagi di tengah masyarakat yang kurang pengetahuannya lantaran tingkat pendidikan yang rendah seperti kebanyakan di daerah saya. Maka kehadiran ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu bagaikan cahaya dalam kegelapan yang mampu menerangi jalan sehingga tidak tersesat. Cahaya yang kita bawa berupa ilmu ini tentu sangat besar manfaatnya dalam suasana gelap pengetahuan masyarakat. Oleh karenanya banyak-banyaklah belajar dari “guru” yang mahatahu, banyaklah membaca agar bisa mendapatkan cahaya pengetahuan dan ilmu bagi diri maupun orang lain di sekitar kita. Dengan harapan cahaya penerang berupa ilmu dan pengetahuan yang kita miliki sebagai hasil dari membaca tadi bisa digunakan untuk memerangi kegelapan pengetahuan dan pemikiran masyarakat luas. Seperti katanya Fachmy Casofa, seorang penulis yang sudah banyak membantu tokoh-tokoh besar untuk menulis bukunya, salah satunya BJ Habibie, in absentia luci, tenebrae vincu”; saat tiada cahaya, kegelapan akan meraja. Dan tentunya kita tidak ingin terjadi hal seperti itu, jangan sampai masyarakat sekitar kita terkungkung dalam kegelapan tanpa cahaya penerang berupa ilmu dan pengetahuan. Maka mari membaca seperti yang diperintahkan oleh Allah swt dalam pembuka kalamnya yang agung dan suci. Iqra’; bacalah!      

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6      

SAATNYA BANGUN CINTA (Bagian 1): SALING MENERIMA

- 2 Comments


Pada tanggal 22 September 2018 Masehi yang lalu, bertepatan dengan 12 Muharram 1440 Hijriyah, saya resmi hidup berpasangan. Ijab Kabul yang saya lakukan dengan Bapak mertua adalah tanda penyerahan tanggung jawab kepada saya atas seorang perempuan yang selama 24 tahun telah dijaga dan dididiknya dengan kasih sayang dan tetesan keringat dan air mata. Tanggung jawab besar yang terkandung di dalamnya yaitu kewajiban menerima baik maupun buruk diri perempuan yang menjadi istri saya, teman hidup saya yang insya Allah sampai menutup usia di muka bumi dan berlanjut di tempat yang abadi nantinya di akhirat.
Perempuan yang bernama lengkap Elmi Yanti Lestari ini memang sudah lama berteman dengan saya di media sosial terbukti dengan catatan yang dikeluarkan oleh facebook kami berteman selama lebih kurang 7 tahun. Selama tujuh tahun tersebut bisa dikatakan sepertiganya baru berteman secara nyata. Lantaran saya mengenal secara nyata bahwa Dia adalah perempuan yang tinggal tidak jauh dari kampung saya, bahkan kami sama-sama tinggal di daerah dusun yang satu secara administratif. Agak lucu memang kalau mengingat kejadian ini, yang mana Facebook telah mempertemukan kami sejak lama namun baru-baru ini saling kenal di dunia nyata. Akhirnya kami dekat dan berteman cukup akrab dengan komunikasi yang relatif intens. Hingga pada akhirnya, singkat cerita kami memutuskan untuk hidup bersama.
Banyak yang bertanya, baik keluarga maupun teman dekat apakah kami sudah lama pacaran. Tentunya saya jawab dengan apa adanya bahwa kami bisa dibilang tidak pernah mengungkapkan saling mengikat dalam hubungan yang namanya pacaran. Namun kami dekat satu sama lain. Baru beberapa bulan terakhir sebelum memutuskan untuk menikah, saya menyatakan perasaan secara langsung dan meminta waktu untuk memantapkan hati dan menguji perasaan. Walaupun tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta kepada Tari (begitu sapaan akrabnya), saya akui suka dan jatuh cinta sejak lama kepadanya. Walaupun itu terus diuji dalam waktu yang cukup lama. Urusan jatuh cinta ini tentunya dipantik dengan adanya rasa suka terhadap paras maupun sikap pada lawan jenis. Dan ini sudah menjadi fitrah manusia yang dikaruniai oleh Sang Pencipta. Selama jatuh cinta tentu kebaikanlah yang banyak dilihat dan ditampilkan pada diri masing-masing. Sedikit yang ditahu tentang hal yang tidak baik dari pacar, bahkan kita pun akan menampilkan sedikit bahkan menyembunyikan semua keburukan yang ada pada diri kita. Itu karena kita sedang jatuh cinta. Juga pasti ada harapan-harapan terhadap orang yang kita cintai ini akan seperti apa dia kelak ketika hidup bersama.
Berbeda halnya ketika sudah hidup berdua, dalam satu rumah yang selama 24 jam bisa dikatakan tetap bersama. Tentu pada tahap ini akan tampak apa adanya, baik itu rupa maupun sikap masing-masing. Tidak ada lagi hal yang disembunyikan seperti saat sebelum menikah. Akan ada ketimpangan antara harapan yang ada sebelum menikah dengan kenyataan yang kita lihat pada diri masing-masing pasangan. Lalu bagaimana sikap kita saat sudah mengetahui apa kenyataan dari diri masing-masing pasangan? Maka saat inilah usaha untuk membangun cinta, ketika keburukan dari pasangan yang ditemukan maka diterima dengan ikhlas kemudian berusaha untuk menyukai dan mencintai. Inilah proses yang disebut dengan “bangun cinta” oleh banyak orang, bukan jatuh cinta. Karena jatuh cinta ini penuh dengan hal-hal yang semuanya baik karena asmara yang menggebu, serta harapan-harapan yang baik pula. Maka saat harapan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang didapatkan, saatnyalah untuk bangun cinta. Dengan demikian usaha untuk menerima apa adanya pasangan masing-masing bisa dengan mudah kita lakukan karena kita terus berusaha untuk mencintai. Sehingga rasa kecewa pun bisa ditepis, bahkan bisa dihilangkan agar masing-masing bisa terus saling berterima dan terus merasa cocok satu sama lain.
Usaha bangun cinta inilah yang tentunya saya dan Tari sedang jalankan. Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak kami ketahui satu-sama lain muncul saat sudah berumah tangga. Baik itu buruk maupun baik, pada intinya semua terlihat dengan jelas. Namun seperti yang dikatakan dalam buku yang saya baca, bahwa dari kejengkelan dan bahkan kekecewaan itulah kita mulai membangun cinta agar tetap berterima satu sama lain. Aku mencintaimu istriku.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6