News Ticker

Latest Posts

LEBARAN

- Tuesday, June 4, 2019 No Comments


Lebaran tahun ini terasa agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya ada dua hal yang membuat Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Pertama, di rumah sudah ada anggota keluarga yang baru, yaitu seorang istri. Tahun depan semoga juga bisa menmabah anggta baru dengan hadirnya si kecil. Kedua, kegiatan Ramadan Writing Challenge (RWC) 2019 yang saya ikuti yang dilaksanakan oleh Komunitas ODOP. Keduanya tentu mempunyai kesannya masing-masing.
Tidak seperti tahun yang sebeumnya, menyiapkan lebaran kali ini tentunya membutuhkan persiapan lebih. Kalau dulunya hanya memikirkan kebutuhan pribadi saja, namun kali ini tentunya harus menyiapkan kebutuhan istri juga. Pakaian dan keperluan lainnya tentunya bertambah dari segi jumlah dan jenis kebutuhan. Namun semuanya menjadi tantangan tersendiri dan bahagia sekali bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut.
Selain persiapan di atas, ada juga yang harus diselesaikan menjelang Ramadan berakhir. Kegiatan RWC 2019 cukup menyita perhatian karena harus setor tulisan setiap hari selama Ramadan. Beruntung saya bisa memanfaatkan waktu di sela-sela makan sahur dan subuh untuk menulis sesuai topic yang diberikan. Cukup menantang memang harus menulis setiap hari, yang terkadang tidak setiap hari mood menulis baik. Kadang writer’s block melanda juga, yang akhirnya setoran molor pada hari berikutnya. Namun demikian, kegiatan ini cukup berkesan karena saya bisa merekam gagasan saya pada hari-hari Ramadan tahun ini. Sehingga keterampilan mneulis diharapkan bisa meningkat dengan kegiatan ini. Begitulah, lebaran kali ini selain merayakan karena bisa selesai puasa Ramadan namun juga lebaran karena menyelesaikan tantangan dari Komunitas ODOP, yaitu RWC 2019.

#Day30
#RWC2019
#OneDayOnePost    

HILAL

- Monday, June 3, 2019 No Comments


Akhirnya Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan pada siding isbat bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Rabu. Ini artinya lebaran Idul Fitri tahun ini bertepatan dengan tanggal 5 Juni 2019. Keputusan ini diambil setelah dilakukan pengamatan hilal di beberapa titik pengamatan. Kemudian dilakukan sidang isbat melibatkan banyak kalangan.
Seperti sebelum-sebelumnya, pengamatan hilal ini dilakukan dalam rangka menentukan tanggal 1 Syawal. Kegiatan yang rutin diadakan menjelang akhir Ramadan agar bisa menjadi panduan umat muslin di Indonesia untuk melaksanakan Sholat Ied. Ini sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah sebagai pengayom umat beragama di Indonesia. Walaupun demikian, ada beberapa kelompok yang menggunakan metode penghitungan yang berbeda dengan pemerintah. Sehingga memutuskan awal bulan tidak sepenuhnua menggunakan pengamatan hilal. Sehingga kadang bisa berbeda dalam menentukan awal bulan Syawal. Tentunya ini berakibat perbedaan hari pelaksanaan sholat ied di Indonesia. Dan ini tidak menjadi masalah karena masing-masing punya dasar dan metode yang kuat.
Terkait dengan penentuan hilal ini, memang akan berdampak pada jamaah yang akan merayakan lebaran, sulit memberikan kepastian sampai waktu malam dating. Seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, saat di desa saya saat menyambut datangnya 1 syawal. Kebiasaan pada saat malam idul fitri kami melaksanakan pawai obor dan takbir keliling, namun belum ada kepastian akan lebaran besok. Saat di tengah perjalanan acara pawai, ternyata pemerintah memutuskan bahwa 1 syawal jatuh pada lusa hari, bukan besoknya. Maka setelah pawai selesai, kami melaksanakan sholat tarawih untuk malam ke-30 ramadan. Namun inilah resiko bahwa penentuan awal bulan berdasarkan posisi hilal. Walaupun dengan metode yang berbeda dan resiko lebaran yang berbeda, namun yang penting tetap saling menghargai perbedaan pendapat di kalangan Umat Muslim di Indoensia.

#Day29
#RWC2019
#OneDayOnePost

PETASAN

- No Comments


Entah sejak kapan mulainya bulan Ramadan marak dengan suara petasan. Sehingga malam-malam Ramadan dipenuhi dengan suara petasan yang bagi saya cukup mengganggu. Bahkan tidak jarang suara petasan ini mendapat tentangan dari masyarakat. Namun bagi yang membunyikan petasan mungkin sebuah kesenangan.
Pada tahun ini, di desa saya, dari awal puasa cukup tenang tanpa ada gangguan suara petasan. Karena dari pemerintah desa sendiri memberikan himbauan agar petasan tidak dibunyikan. Dan himbauan ini cukup efektif sampai pertengahan bulan Ramadan. Namun memeasuki akhir-akhir Ramadan, mulai hari ke-25, petasan sudah mulai muncul lagi. Sepertinya akan mengalami puncak pada malam lebaran.
Kalau dikaitkan dengan kebiasaan di dalam agama islam, mungkin tidak ada kaitannya sama sekali. Namun ini semata budaya massa yang lahir dengan momen tertentu, dalam hal ini adalah puasa. Tentunya banyak factor yang menyebabkan ini bisa terjadi. Sehingga kalau mau ini lebih tertib lagi maka butuh control yang kuat dari pemerintah local desa.   
#Day28
#RWC2019
#OneDayOnePost

AMPLOP DI BULAN RAMADAN

- Sunday, June 2, 2019 No Comments


Pada bulan Ramadan beberapa tahun belakangan ini saya banyak menerima amplop. Berasal dari beberapa instansi, baik lembaga pendidikan maupun lembaga keagamaan. Lembaga-lembaga ini berasal dari daera sekitar tempat tinggal, yang bisa saja berkaitan langusng dengan saya dan tidak berkaitan langsung. Dan saya amati, beberapa kali Ramadan menjadi sesuatu yang rutin saya terima.
Apa yang terlintas di benak banyak orang ketika mendengar orang menerima amplop? Diketahui bahwa konotasi amplop ini lekat dengan urusan uang bagi kebanyakan orang. Karenanya mendengar saya menerima banyak amplop maka akan terlintas saya menerima banyak uang. Namun pada kenyataannya tidak semuanya benar terkait dengan konotasi di atas, terutama bagi saya mengenai amplop di bulan Ramadan. Namun demikian, semuanya membawa kebahagiaan tersendiri.
Amplop di bulan Ramadan yang saya terima berupa ajakan untuk berbuat kebaikan. Amplop-amplop ini berasal dari Pengurus Yayasan Pendidikan, Panitia Pemangunan Masjid dan Mushala, Pengasuh Yatim-Piatau dan yang lainnya. Tradisi amplop di daerah saya, mungkin di daerah lain juga, adalah tidak melulu tentang menerima. Tetapi juga tentang berbagi kepada yang lainnya. Melalui amplop ini, mereka mengajak kami masyarakat yang ada untuk berbagi terhadap mereka yang membutuhkan. Ajakan berbuat baik di bulan yang baik ini juga tentunya sangat baik. Karena bisa mendatangkan manfaat yang banyak. Semoga.

#Day27
#RWC2019
#OneDayOnePost    

KAWAN SELAMANYA

- No Comments


Pertemuan adalah hal yang sangat dirindukan bersama kawan yang sudah terpisah sekian lama. Karena berbagai alasan antar teman, tidak semuanya, tidak memungkinkan untuk bisa sering bertemu. Teman yang dulu pernah satu kelas saat sekolah, SD, SMP, dan SMA tidak mungkin semuanya bisa bertemu karena alasan pekerjaan dan pernikahan. Belum lagi jarak antar yang satu dengan yang lain tentulah berbeda. Selain itu perbedaan profesi juga sangat memungkinkan untuk membuat pertemanan jarang untuk bisa berkumpul dalam waktu yang banyak. Sehinga reuni menjadi salah satu agenda yang bisa mempertemukan teman ataupun kawan yang sudah berpisah sejak lama.
Mengingat sudah sangat lama berpisah dan jarang bertemu secara intens, maka saya dan teman-teman yang lain menggagas untuk reuni alumni anggota organisasi mahasiswa yang dulu pernah diikuti saat kuliah. Reuni tentunya akan melibatkan banyak anggota mengingat banyak angkatan yang sudah masuk di organisasi tersebut. Melalui momen puasa ini reuni inipun bisa terwujud. Dirangkai dengan buka puasa bersama maka kami semua isa berkumpul di satu tempat untuk temu kangen lintas angkatan.
Reuni yang kami gagas ini, layaknya reuni yang lain, tentunya ajang temu kangen yang isinya adalah canda tawa mengenang saat dulu menjadi anggota organisasi Front Mahasiswa Nasional (FMN). Selain itu, kami menegaskan kembali perkawanan yang dulunya terikat oleh ide dan cita-cita bersama serta kemauan kuat untuk belajar dan berorganisasi. KAWAN SELAMANYA menjadi ide yang kami usung untuk ikatan yang suda lama terjalin tersebut. Bahwa perkawanan tidak hanya pada saat menjadi anggota saja, namun lebih jauh, akan diikat terus sampai kapan pun. Dan reuni yang kami lakukan tersebut pada kahirnya berhasil meneguhkan kembali perkawanan, terbukti dengan akan diadakannya lagi pertemuan selanjutnya setelah lebaran. Tentunya ini adalah bukti bahwa Kawan Selamanya begitu meresap di hati kawan-kawan yang lain.

#Day26
#RWC2019
#OneDayOnePost  

TUNJANGAN HARI RAYA

- Thursday, May 30, 2019 No Comments


Salah satu yang paling ditunggu oleh kaum pekerja pada saat sebelum lebaran adalah uang tunjangan hari raya yang biasa disingkat THR. Bagi kaum pekerja ini merupakan berkah karena mendapat tunjangan di luar upah dan khusus diberikan pada saat menjelang hari raya. Tentu saat-saat butuh dana yang lebih banyak untuk memenuhi bebagai keperluan. Di Indonesia yang terdapat banyak agama tentunya masing-masing pekerja akan mendapat THR pada saat hari raya masing-masing. Inilah salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap keberadaan gama di Negara Indonesia ini.
Namun kalau dilihat, istilah THR ini mendapat perluasan makna di kalangan masyarakat. Istilah THR pada awalnya hanya dipakai di kalangan perusahaan dan kantor saja. Namun saat ini berkembang di kalangan masyarakat yang secara hubungan kerja tidak terikat sama sekali. Sudah lazim kita dengar seorang anak minta THR kepada orang tuanya. Atau cucu kepada nekek dan kakeknya, atau keponakan kepada paman atau bibinya. Sehinga istilah THR ini sekarng tidak hanya untuk kalangan pekerj asaja, namun di kalangan masyarakat biasa pun sudah dipakai sebagai istilah untuk uang belanja saat lebaran.
Terlepas dari siapa yang memakai istilah ini dan memberlakukannya, THR ini adalah sebuah kewajiban dari pemberi kerja terhadap para pekerjanya pada setiap hari raya masing-masing. Dalam konteks Indonesia yang beragam ini, maka merupakan sebentuk perhatian pemerintah terhadap umat beragama. Di sinilah terlihat bahwa Negara hadir dalam keidupan beragama rakyatnya kendatipun bukan merupakan Negara agama. Maka sudah sepatutnya kita berbangga hati hidup di Negara kesatuan Republik Indonesia ini, Negara yang sangat beragam agamanya.
#Day25
#RWC2019
#OneDayOnePost

LIBUR LEBARAN

- No Comments


Saat yang ditunggu-tunggu pada akhir Ramadan adalah libur dalam rangka merayakan lebaran. Semua instansi pemerintah dan swasta akan menerapkan hari libur bagi pegawa dan karyawannya. Khusus untuk pegawai negeri sipil di lingkup pemerintahan, sudah ditetapkan oleh pemerintah bahwa ada sebelas hari Cuti Bersama pada Idul Fitri tahun ini. Cuti kali cukup panjang, lebih lama satu hari disbanding dengan tahun lalu yang masa cutinya sepuluh hari.
Tentunya cuti yang panjang ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka yang mendapat jatah cuti bersama ini. Bagi yang akan mudik tentunya akan mendapat cukup waktu untuk pulang dan tinggal sementara di kampung halaman sebelum balik lagi untuk persiapan bekerja lagi. Bagi yang tidak mudik, tentunya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pesiapan lebaran. Baik itu bersih-bersih rumah maupun membuat kue lebaran bagi kaum perempuan. Cuti bersama ini memang menjadi berkah bagi mereka yang berkeja di instansi permerintah maupun swasta.
Selain persiapan untuk mudik dan yang lainnya, cuti bersama ini juga bisa dimanfaatkan untuk memperbanyak kegiatan ibadah baik siang hari terlebih pada malam harinya. Memanfaatkan cuti di akhir Ramadan ini dengan ibadah tentunya akan sangat bermanfaat dan lebih leluasa. Karena tidak akan khawatir akan masuk kantor besok paginya, kalau melaksanakan itikaf pada malam harinya. Sehingga cuti bersama yang cukup panjang ini bisa lebih bermanfaat lagi dari pada dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat duniawi saja.
#Day24
#RWC2019
#OneDayOnePost

BERBURU BERBAGAI KEUTAMAAN

- No Comments


Pada sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan saat yang banyak terdapat keutamaan. Keutamaan tersebut akan bisa diraih dengan melakukan aktifitas ibadah mulai dari salat tarawih sampai pada waktu salat malam. Tidak heran kemudian berbagai kegiatan difasilitasi oleh beberapa masjid agar jamaah bisa melaksanakan ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan ini. Salat amlam dan I’tikaf menjadi kegiatan yang sangat dianjurkan oleh para ulama.
Salah satu yang menjadi daya tarik dan motivasi kaum muslimin beribadah pada sepuluh malam terakhir ini adalah malam lailatul qadar. Malam di mana keutamaannya lebih baik dengan seribu bulan. Jadi wajar kemudian banyak yang mendambakan bisa bertemu dengan malam yang mulia ini. Nmaun tidak ada yang tahu persis kapan lailatul qadar ini turun, walaupun sudah dikatakan dalam berbagai keterangan bahwa saatnya pada sepuluh malam terakhir. Jadi tidak ada salahnya pada malam-malam angka ganjil diisi dengan kegiatan ibadah sehingga bisa bertemu dengan malam ini.
  Berhubung lailatul qadar ini tidak diketahui persis turunnya maka harus dilakukan dengan strategi yang tepat, yaitu menunggu sembari mengerjakan berbagai ibadah. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan adalah, pertama, I’tikaf di masjid dengan memperbanyak salat malam dan berdo’a kepada Allah agar diampuni dosa-dosa dan diijabah. Kedua, memperbanyak zikir dan sholawat kepad rasul dengan memilih berbagai amalan zikir dan solawat yang anyak dipakai oleh para ulama. Agar kegiatan ini tidak terasa berat karena kondisi ngantuk, maka bisa dilakukan secara berjamaah, artinya dilakukan dengan banyak orang di satu tempat walaupun kegiatannya sendiri-sendiri. Dengan demikian, menunggu merupakan strategi yang tepat agar dapat bertemu dengan malam lailatul Qadar yang tidak diketahui kapan persisnya waktu turunnya.
#Day23
#RWC2019
#OneDayOnePost

SAYA PERNAH MUDIK

- Tuesday, May 28, 2019 No Comments


Kegiatan tahunan yang mungkin hanya ada di Indonesia, yang menjadi tradisi nusantara, adalah pulang ke kampung halaman saat menjelang lebaran Idul Fitri. Tradisi yang kemudian disebut mudik ini menjadi sorotan media nasional dan daerah karena merupakan peristiwa besar dan layak untuk diberitakan. Dari segala sisi diliput media sampai arus baliknya, lengkap dengan serba-serbi mudik dan arus balik tersebut. Pemerintah juga tidak kalah persiapannya memberikan fasilitas mudik kepada warganya. Dari persiapan jalan raya, moda transportasi sampai bagaimana agar menjamin kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus mudik. Benar-benar peristiwa yang melibatkan banyak orang dan menyedot perhatian.
Melihat hiruk pikuk mudik, yang hanya bisa saya ikuti perkembangannya lewat media, membuat saya berpikir bagaimana rasanya mudik. Namun sampai pada mendapat kesempatan belajar di luar daerah, saya berkesempatan merasakan mudik. Sebanyak dua kali lebaran, saya ikut merasakan bagaimana hebohnya suasana mudik. Dari merencanakan tanggal keberangkatan, berburu tiket murah, memilih moda transportasi, sampai riuh rendahnya saat di perjalanan. Betul-betul mobilitas orang yang butuh prhatian serius dari banyak pihak. Saya berpikir kemudian, wajar jika ini mejadi persipaan secara nasional dan menjadi pemberitaan nasional juga.
Dua kali merasakan harus mudik saat menjelang lebaran tentunya cukup memberikan pelajaran bahwa persiapan yang demikian hebohnya hanya untuk satu kata, yaitu pulang. Tentunya ini sangat lekat dengan mereka yang dalam waktu yang lama tidak di kampung halaman. Dari yang hanya sekedar beberapa tahun sampai mereka yang benar-benar tinggal menetap di daerah lain. Pasti akan sangat merindukan saat-saat untuk pulang, melali mudik inilah keinginan itu bisa dipenuhi. Sesuatu yang akan terus berlangsung saya kira, tidak peduli bagaimanapun canggihnya alat komunikasi. Karena berkumpul dengan keluarga tidak bisa tersalurkan lewat canggihnya media. Dan saya menjadi mengerti bagaimana semuanya itu, karena setidaknya saya pernah merasakan mudik walaupun hanya dua kali. Sesuatu yang mungkin saja tidak sedikit orang yang tidak pernah merasakannya.

#Day22
#RWC2019
#OneDayOnePost