Category 7

News Ticker

Latest Posts

LITERASI DI TENGAH DIGITAL CITIZEN

- Saturday, March 26, 2016
LITERASI DI TENGAH DIGITAL CITIZEN

Ledakan jumlah digital citizen sudah tidak bisa dibendung lagi menyusul perkembangan perangkat teknologi informasi (IT) berbasis digital yang kian pesat. Perkembangan perangkat IT ini juga didukung dengan semakin berkembangnya provider paket data dengan layanan yang semakin terjangkau untuk bisa mengakses layanan internet. Tak dipungkiri dengan adanya layanan ini sudah membuka ruang komunikasi yang luas sampai ke pelosok-pelosok. Ini ditunjukkan dengan julah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang dan Indonesia menempati peringkat ke-8 pengguna internet terbanyak di dunia (Sumber: https://kominfo.go.id)
Semakin mudahnya akses terhadap dunia digital berupa internet atau sering disebut dengan dunia maya sudah menciptakan suatu masyarakat yang berinteraksi di dunia digital. Sehingga masyarakat ini disebut dengan digital citizen, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan di dunia digital (internet) dalam bentuk blog, sosial media, email melalui perangkat Komputer Personal (PC), Laptop, Tablet dan HP. Menurut  Mossberger dkk, (Isin & Ruppert, 2015) digital citizen didefinisikan sebagai orang yang menggunakan internet secara rutin (regularly) dan efektif (effectively) dalam kesehariannya. Sederhananya adalah orang yang berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubngan dengan dunia digital bisa disebut digital citizen. Dalam bahasa sehari-hari digital citizen lebih popular disebut dengan netizen.
Untuk dapat berpartisipasi di dunia digital (internet: media sosial, blogging, e-mailing, dll) selain menggunakan perangkat yang bisa terhubung dengan dunia tersebut tentunya orang juga harus punya kemampuan untuk masuk dan beraktifitas di dalamnya. Kemampuan inilah kemudian yang disebut dengan literasi digital (digial literacy), yaitu pemahaman tentang bagaimana menggunakan beberapa perangkat digital baik hardware maupun software (search engine dll). Kemampuan ini mutlak diperlukan agar seseorang bisa memanfaatkan apa yang tersedia di dunia digital dan juga agar tidak disebut sebagai orang yang GAPTEK (gagap teknologi) yang mengacu kepada orang yang tidak bisa menggunakan perangkat digital.
Melihat data yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menyebutkan pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang maka bisa dikatakan sudah banyak masyarakat yang melek internet. Namun, apakah digital citizen dengan jumlah tersebut sudah bisa mendapat manfaat besar dari dunia digital dalam hal interaksinya dengan netizen yang lain? Ataukah literasi digital masih sebatas digunakan untuk bersosialisasi di jejaring sosial saja, untuk bersenang-senang atau sarana hiburan saja?
Tentunya literasi digital masih bisa dikembangkan ke arah yang jauh lebih bermanfaat dari sekedar untuk bersenang-senang saja. Sangat memungkinkan literasi digital diarahkan untuk literasi dalam arti sesungguhnya yaitu keberkasaraan, mambaca dan menulis. Membaca pengetahuan apa saja yang bermanfaat dari dunia digital kemudian dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga haknya dengan menulis, dapat dikembangkan menjadi kemampuan yang menghasilakn sebuah karya yang bermanfaat dari sekedar menulis status galau, narasi dan deskripsi tentang sesuatu yang sedang terjadi (update).
Melihat perkembangan saat ini dunia digital menjadi tempat mencurahkan segala apa yang terjadi di dunia nyata oleh para netizen. Sangat mengejutkan kadang melihat tulisan dari para netizen di media sosial begitu panjang dan berisi, yang mana dalam keseharinnya hal tersebut tidak terlihat. Inilah yang penulis maksud kemudian dengan literasi bisa diarahkan dan dikembangkan melalui dunia digital. Dan penulis percaya kita sudah mulai mengarah ke arah itu.
Perkembangan Literasi di tengah Digital Citizen menunjukkan kemajuan yang pesat, hal ini didukung oleh tersedianya bahan bacaan yang banyak sekali di internet. Media cetak sudah mulai mengembangkan diri ke arah media digital, tak terkecuali media-media cetak besar skala nasional. Munculnya para jurnalis untuk media digital dan para blogger merupakan bukti akan majunya literasi digital pada masa sekarang ini. Tersedianya berbagai media sosial juga akan bisa mendukung perkembangan literasi ke depannya.
Harapannya dengan pesatnya perkembangan literasi di dunia digital harus tetap diabadikan dalam karya nyata dalam bentuk karya CETAK yang tentunya bisa menjangkau lebih luas lagi masyarakat yang sesungguhnya perlu ditingkatkan literasinya untuk menghadapai kemajuan zaman dan perkembangan dunia saat ini.           

Embun

- Friday, March 25, 2016

Embun
Karya: Nasifatul Fajriyati


Butiran embun di balik dedaunan yang semalaman terlelap
Seketika Matahahari menyinari butiran-butiran beningnya
Kaki-kaki kecil melangkah melewati pematang sawah yang masih basah
sesekali membentang tangan mencicipi embun pagi ini
Beningnya menghiasi padi-padi yang mulai berisi
Embun...
Kucicipi pagi ini

    Pancor Kopong, 23-10-2015

Malam

- Tuesday, March 22, 2016

Malam

Karya: Rosanti

Di malam ini kau dan aku duduk berdua

di bawah sang rembulan berhiaskan bintang
diselimuti kelamnya malam
tatapanmu penuh arti,menyiratkan sebuah rasa
rasa yang tak pernah ku rasakan selama ini
kau membawaku dalam hingar-bingar cinta
ku terlarut dan terjerumus ke dalamnya
sehingga aku terjatuh ke jurang nafsu cinta

Semalam

-

Semalam

Karya: Nasifatul Fajriyati



Untuk semalam diujung mimpi
Mendera malam gelap di jalan setapak menuju surga
Berteriak sepi dalam kegelapan
Mencari celah pagar bercahaya
Menembus hening dari balik jendela

Untuk semalam di halaman rumah
Menunggu lama datangnya pagi
Diiringi suara merdu burung malam
Dengan matanya menembus api

Untuk semalam di pojok ruangan
Duduk bersila di depan lentera
yang menemani semalaman
malam gelap mati lampu

Untuk semalam dengan puing-puing cerita
Ditemani angin kita bicara

Untuk semalam penghantar tidur
Jalan menuju ruang sepi

             Masbagik,18-01-2016

BERBALAS KRITIK ALA ELITE POLITIK

- Saturday, March 19, 2016
BERBALAS KRITIK ALA ELITE POLITIK



Gemar berbalas kritik sudah lekat dengan para elit politik di Indonesia dan kemudian tersebar luas di media masa dan media sosial. Hal ini kemudian sering menjadi trending topic yang ramai dibicarakan dan diulas di media cetak maupun elektronik. Seperti halnya dengan apa yang menjadi trending topic pekan ini, yaitu berbalas kritik antara Mantan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Presiden joko Widodo (Jokowi).
Hal ini bermula saat SBY menyampaikan kritik terhadap pemerintah di sela-sela pertemuannya dengan kader dan masyarakat di Pati, 16 maret 2016 dalam agenda Tour de Java Partai Demokrat. SBY mengkritik pemerintah yang sedang giat membangun infrastruktur di tengah ekonomi sulit seperti saat sekarang ini. Kritik juga sudah sering dilontarkan oleh Pak SBY terkait program pemerintahan Jokowi dan sikap para menteri yang gaduh di ruang public dengan perang pendapat di media. Dia kerap membandingkan keadaan sekarang ini dengan saat dia masih menjabat sebagai Presiden. Namun hal ini ditanggapi dengan santai oleh Presiden Joko Widodo tanpa menunjukkan sikap reaktif.
Namun beberapa hari ini ramai dibicarakan di media bahwa Jokowi menjawab kritik SBY dengan blusukan ke Mega Proyek Hambalang yang mangkrak. Seperti diketahui bahwa beberapa hari setelah kritik SBY terhadap pemerintah dilontarkan, Jokowi melakukan kunjungan ke Hambalang, Bogor, Jum’at, 18 Maret 2016 untuk meninjau proyek Pusat Olahraga yang mangkrak karena sedang bermasalah lantaran dana dikorupsi oleh beberapa elit. Dalam kunjungan tersebut juga ikut serta menteri terkait dan Staf Kepresidenan. Pada kesempatan itu Presiden Jokop Widodo menyampaikan keprihatinannya terkait dengan proyek yang menghabiskan uang triliyunan rupiah dari APBN.
Lantas kenapa blusukan sang Presiden ini dikatakan sebagai jawaban atas kritik SBY terhadap pemerintah? Tentu ini terkait dengan Megaproyek Hambalang yang sejatinya dilakukan pada saat pemerintahan SBY namun belakangan mangkrak sampai sekarang karena anggarannya dikorupsi secara berjamaah dan kasusunya sedang ditangani oleh KPK dan pihak yang berwenang. Dengan mengemukanya kembali Kasus Hambalang maka secara langsung ini menunjukkan kinerja Sang Mantan Presiden (SBY) pada saat menjabat dulu dan tak urung menjadi pukulan telak baginya.

Kritik dijawab dengan kerja. Demikianlah ungkapan yang lekat dengan Presiden Jokowi di kala didera dengan banyak kritik baik dari legislatif maupun elite politik. Dengan ditunjukkannya kekurangan orang yang memberikan kritik semoga bukan berarti Presiden Jokowi anti kritik. Pun demikian dengan yang sering melontarkan kritik, tidak hanya dengan kata-kata saja tetapi dengan solusi yang dapat diterapkan dengan kondisi kekinian. Penting untuk melihat kinerja sendiri agar tidak menjadi alat untuk dierang balik oleh orang yang dikritik.            

Tragedi Malam

- Sunday, March 13, 2016
Tragedi Malam

Fitriani

Malam tanpa lampu lentera
cahaya petir jadi penerang
lihatlah langit kelabu
di hiasi guruh-gemuruh

Siapa tak takut?
ketika hujan,mati lampu,
terdengar suara burung hantu kedinginan
menjerit dalam keresahan

Kamu, kamu
 ya kamu
ku titip lilin
Sebagai penerang
Walau hanya sebatang

                                            

MEMBUMIKAN LITERASI DI BUMI PATUH KARYA

- Saturday, March 12, 2016
MEMBUMIKAN LITERASI DI BUMI PATUH KARYA

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa literasi di Lombok Timur, Bumi Patuh Karya, akan tumbuh subur layaknya tanaman pada musim penghujan. Yang mana pada saat itu tanaman cukup mendapat asupan air dan mineral yang dibutuhkan. Pun demikian dengan literasi akan berkembang di Lombok Timur dengan didukung oleh sumber daya yang cukup memadai. Sumber daya tersebut berupa sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.
Bagi sebagian orang kata literasi bisa menjadi kata yang asing karena jarang didengar maupun digunakan. Literasi berasal dari kata asing yaitu bahasa Inggris literacy yang berarti mampu membaca dan menulis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat ditemukan padan kata (sinonim) dari kata literasi yaitu keberaksaraan, kemampuan membaca dan menulis. Dari pengetian tersebut dapat diperluas bahwa literasi adalah kemampuan berbahasa dalam bahasa tertentu dalam bentuk baca dan tulis. Sehingga sering kita mendengar istilah buta aksara, yang mana seseorang dikatakan buta aksara bilamana tidak bisa membaca dan menulis.
Melihat pengertian di atas tentu literasi sangat penting bagi ummat manusia untuk dapat berinterakasi dan berkomunikasi di dalam masyarakat. Demikian pentingnya literasi ini sehingga berbagai program dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas buta aksara yang masih banyak di masyarakat kita dikarenakan kurang kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Usaha ini dilakukan dengan melaksanakan pendiidkan yang bersifat non formal oleh lembaga-lembaga yang didirikan oleh masyarakat (red:PKBM) dengan dana dari pemerintah. Dengan demikian maka hasil dari program tersebut dapat meningkatkan literasi masyarakat yang tentnya berdampak bagi diri pribadi maupun masyarakat itu sendiri. Tidak hanya itu dengan meningkatnya angka melek huruf maka Indeks Pembanguan Manusia (IPM) suatu daerah bisa meningkat.
Literasi dalam hal ini tentu tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis dasar saja tetapi memiliki arti yang luas. Membaca misalnya tidak hanya kemudian sebatas membaca seperlunya saja terkait dengan tuntutan tertentu. Contoh, murid sekolah membaca sesuai dengan tuntutan kurikulum saja, sebatas mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Begitu juga dengan kelompok masyarakat yang lain, membaca seperlunya dan ketika merasa butuh saja. Membaca harus diperluas kegiatannya ke arah kegiatan rutin yang mana membaca dimaksudkan untuk menambah ilmu pengetahuan tentang apa saja yang sedang berkembang di dunia. Dalam hal menulis juga harus diartikan secara luas yakni menulis adalah sebuah penciptaan suatu karya dalam bentuk bahasa tulis yang mana hal ini dilakukan untuk meuangkan ide dan gagasan yang didapat dari pengalaman berupa membaca dan interaksi sosial sehari-hari dengan lingkungan sekitar.
Namun realita yang ditemukan di masyarakat adalah tidak semua orang suka membaca yang kemudian bisa menjadi hobi. Sehingga banyak data yang dikemukakan tentang rendahnya minat baca masyarakat di suatu daerah tak terkecuali di Nusa Tenggara Barat (laporan hasil Kunjungan Kerja Komisi X DPR-RI di NTB tanggal 24-28 Februari 2015). Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya adalah sarana dan prasarana yang berupa perpustakaan masih terbatas jumlahnya. Sehingga belum bisa menjangkau semua daerah di wilayah ini. Selain itu juga rendahnya daya beli masyarakat terkait dengan bahan bacaan dikarenakan pendapatan masih dipergunakan sebagian besar untuk keperluan hidup sehari-hari. Banyak lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk memberikan kases bacaan namun koleksi yang masih sangat terbatas.
Begitu juga dengan menulis, tidak semua orang bisa menuangkan ide yang dimiliki dalam bentuk tulisan. Sebagian besar dilakukan dengan bahasa lisan di forum-forum diskusi. Hal ini bisa dimaklumi karena menulis bukanlah hal yang mudah dilakukan tanpa latihan yang keras. Menulis harus dilatih sesering mungkin dan sebelumnya memperkaya diri dengan bahan yang bisa didapatkan salah satunya yang utama adalah dari membaca. Kalau boleh membandingkan porsi yang dibutuhkan dalam kegiatan literasi ini adalah 60% membaca dan 40% menulis. Karena dengan banyak membaca maka akan menambah wawasan dan ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.
Lantas bagaimana dengan literasi di Bumi Patuh Karya (red:Lombok Timur)?
Sama halnya dengan apa yang dihadapi oleh daerah lain yaitu minat baca masih sangat rendah seperti apa yang dikemukakan sebelumnya. Namun kita tidak perlu patah semangat dalam memasyarakatkan literasi di Lombok Timur. Karena daerah ini mempunyai daya dukung yang cukup besar. Dalam hal meningkatkan minat baca masyarakat, dapat didukung dengan adanya Perpustakaan Daerah yang merupakan bagian dari system tata kerja di Kabupaten Lombok Timur yakni Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi yang pernah menjadi juara tingkat nasional. Selain itu juga banyak sekolah dan madrasah yang sudah mempunyai perpustakaan masing-masing walaupun koleksi yang masih terbatas. Dalam hal peyediaan sarana membaca ini masyarakat juga tidak mau ketinggalan dengan mendirikan taman bacaan Masyarakat (TBM) di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (DIKPORA) bagian Pendidikan Luar Sekolah. Di samping itu juga pemerintah sudah mengusahakan dengan adanya perpustakaan desa dan perpustakaan masjid yang dapat diakses oleh masyarakat. Keberadaan beberapa perguruan tinggi juga merupakan daya dukung yang besar bagi peningkatan minat baca masyarakat.
Daya dukung yang besar yang dimiliki oleh Lombok Timur tentu tidak serta merta berdampak pada meningkatnya minat baca masyarakat secara menyeluruh tanpa adanya dorongan dalam bentuk program yang nyata. Tidak ada salahnya melihat apa yang dilakukan oleh Wali Kota terbaik ketiga dunia, Ibu Tri Rismaharini di Surabaya. Pada tahun 2014 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dicanangkan ‘Surabaya kota Literasi” yang kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Pendidikan setempat untuk mewajibakn siswa membaca buku di sekolah di luar jam belajar selama 15 menit. Dan hal ini bisa berjalan di sekolah favorit di kota ini, SMAN 5 Surabaya (Khoiri, Kompasiana.com).
Sangat memungkinkan untuk mendorong minat baca masyarakat utamanya generasi muda yang bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan yang ada. Mengingat Lombok Timur mempunyai banyak sekali lembaga pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat dalam bentuk Yayasan pendidikan dan pondok Pesantren yang sebagian besar mempunyai lembaga pendidikan dari tingkat PAUD sampai Pendidikan menengah, bahkan beberapa sudah menyelenggarakan Pendidikan Tinggi. Keterbatasan koleksi tidak harus menjadi halangan dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan minat baca masyarakat Lombok Timur. Dengan meluangkan waktu beberapa menit saja di masing-masing lembaga pendidikan dirasa cukup untuk menggugah minat baca para siswa dan santri. Selain itu di tengah masyarakat juga sudah banyak tersedia TBM dan Perpus Desa yang bisa dimnafaatkan untuk mendapatkan buku. Tinggal mengupayakan sebuah kebijakan dari pemangku kebijakan yang cukup bisa “memaksa” untuk membiasakan masyarakat membaca.
Ada satu kegiatan yang sudah berjalan oleh Perpustakaan Daerah yaitu Book Fair yang hampir setiap tahun dilaksanakan. Pada kegiatan ini diselenggarakan berbagai lomba yang tujuannya tentu untuk menggugah minat baca masyarakat di samping pameran buku-buku murah oleh berbagai penerbit dan Toko Buku. Kegiatan ini patut diapresiasi dalam upayanya secara rutin memberikan akses baca dan informasi bagi masyarakat, namun tentu perlu terus ditingkatkan dengan ragam acara yang betul-betul mengarah langsung kepada tujuan membangun budaya literasi utamanya membaca.
Selain meningkatkan minat baca masyarakat, kegiatan menulis juga perlu terus digugah sejak dini dari lembaga pendidikan yang ada. Sekali lagi, kebijakan dari pemangku kebijakanlah yang dirasa cukup ampuh untuk “memaksa” masyarakat untuk gemar menulis. Walaupun tidak dapat dinafikan bahwa semangat mandiri untuk menulis dari generasi muda Lombok Timur patut diapresiasi setinggi-tingginya. Banyak kalangan muda yang berada di lembaga pendidikan menengah maupun tinggi berkelompok membentuk komunitas dalam rangka mengembangkan berbagai potensi dan minat mereka dalam hal menulis walaupun masih dalam lingkup cipta karya sastra. Sebut saja, Lembaga Rumah Sungai (LmRS) NTB yang terus mengembangkan komunitas teater dan sastra di sekolah dan madrasah swasta maupun negeri melaui Komunitas Sastra dan Seni (KONTRAS) Pelajar Lombok Timur, ada Sanggar Narariawani STKIP Hamzanwadi Selong, Teater Bening, Komunitas Rabu Langit (KRL) dan komunitas lain yang melaksanakan kegiatan rutin untuk menampilkan karya mereka dengan cara masing-masing.
Terkait dengan budaya menulis ini, sebetulnya bisa kita lihat dari salah satu media social yaitu facebook. Pada kenyataannya para pemilik akun Facebook ini sering membuat status (red:menulis) di dinding akun mereka. Sosial media cenderung dijadikan sebagai tempat untuk mencurahkan apa yang ada di fikiran. Bahkan sebagai tempat membaca informasi tentang berbagai hal yang dibutuhkan dari berbagai akun maupun halaman tertentu kemudian dibagikan di akun pribadi mereka. Kecenderungan ini menurut saya bisa dijadikan sebagai langkah awal dalam mengembangkan literasi bagi masyarakat. Tentunya bukan sekedar bisa menulis saja tetapi tidak berisi atau mempunyai gagasan yang bisa digunakan oleh orang lain.
Pada akhirnya, upaya membumikan literasi di Bumi Patuh Karya bukanlah hal yang tidak mungkin dicapai dengan begitu besar potensi pendukung yang bisa diarahkan untuk tujuan tersebut. Sembari terus menutupi setiap kekurangan yang bisa menjadi kendala bagi kemajuan literasi generasi muda pada khususnya dan masyarakat secara umum.
           

    

KENAWA, SAVANA YANG TERAPUNG

- Saturday, March 5, 2016
KENAWA, SAVANA YANG TERAPUNG


Nusa Tenggara Barat memang dianugerahi dengan panorama alam yang sangat indah, dengan dua pulau utama dengan keelokan mulai dari pesisir pantai hingga puncak gunung. Selain itu, NTB juga dianugerahi dengan pulau-pulau kecil (gili) yang mempunyai keindahan masing-masing yang berbeda. Gili-gili tersebut seolah-olah menjadi satelit bagi dua pulau besar yakni Pulau Lombok dan Sumbawa. Masing-masing Pulau tersebut mempunyai satelit yang sudah terkenal dengan keindahannya bahkan sampai mancanegara.

Salah satu pulau kecil yang beberapa tahun terakhir sudah terekspose dan mulai banyak dikunjungi wisatawan local dan mancanegara adalah Pulau Kenawa. Pulau kecil yang yang terletak di wilayah kabupaten Sumbawa barat (KSB) dekat dengan pelabuhan Pototano. Walaupun tidak begitu luas namun pulau ini sangat indah dengan pantai yang berpasir putih dan rumput bak savana dan satu bukit kecil di ujung pulau. Begitu indah dengan rumput hijau pada saat musim hujan dan hamparan pasir putih serta air yang jernih dengan terumbu karang yang masih terjaga. Sehingga sangat cocok untuk berenang dan snorkeling. Dengan permukaan yang tertutup padang rumput tidak salah kiranya kalau saya sebut Pulau Kenawa ini dengan Savana Terapung.

Untuk dapat berwisata ke pulau ini tidaklah sulit karena akses yang sangat mudah. Bagi wisatawan yang akan berkunjung melalui pulau Lombok tentunya harus menyebrang menggunakan kapal penyebrangan dari pelabihan Kayangan (Labuhan Lombok) menuju Pelabuhan Pototano. Setelah itu melanjutkan penyebrangan dari dermaga kecil khusus untuk ke pulau ini yang berada di samping kiri Pelabuhan Pototano menggunakan jasa penyebrangan oleh para nelayan setempat. Sedangkan bagi wisatawan yang dari pulau Sumbawa tentu makin mudah untuk mengakses tempat ini karena hanya perlu datang ke dermaga penyebrangan untuk pulau kenawa.

Tidak lengkap rasanya berwisata ke pulau in tanpa menginap, karena daratan yang tertutup rumput ini sangat cocok untuk mendirikan tenda. Tentu dengan membawa perbekalan dari seberang karena di tempat cukup sulit untuk mendapatkan makanan untuk mengganjal perut walaupun ada pedagang di pulau ini. Namun masih terbatas pada makanan ringan dan tentunya harga yang lumayan mahal. Di samping itu tersedia juga beberapa gazebo dekat dengan pantai untuk berteduh pada siang hari karena di pulau ini hampir tidak ada pohon besar. Hanya beberapa pohon bakau yang tedapat di pinggir pantai saja, selebihnya dalah hamparan rumput.



Selain menikmati pantai berpasir putih dengan terumbu karang yang masih terjaga, di tempat ini juga bias digunakan sebagai spot untuk menikmati sunset. Dari atas bukit yang terdapat di ujung pulau ini dapat dinikmati indahnya saat-saat menjelang terbenamnya matahari dengan semburat cahaya yang terpantul di laut. Dan jika cuaca sedang cerah maka ketika menghadap ke barat dapat dilihat Gunung Rinjani di Lombok yang berdiri dengan kokoh serta beberapa pulau kecil lainnya. Selain bias memanjakan mata, tempat ini juga sangat cocok untuk menyegarkan kembali fikiran setelah penat dengan aktifitas sehari-hari karena suasananya yang tenang khas dengan suara ombak yang menjilat pantai dan udara yang bersih. Jadi, pulau ini sangat direkomendasikan bagi anda yang ingin menikmati suasana camping, pantai dan sunset sekaligus. Selamat Berlibur. Wonderful NTB.

PRONUNCIATION ERRORS OF PLURAL SOUND (-S/-ES) BY KEMENAG CLASS STUDENTS AT THE STATE UNIVERSITY OF SURABAYA ACADEMIC YEAR 2015

- Thursday, March 3, 2016
Agus Khairi
NIM. 157835401
Language and Literature Program
Post Graduate Program
The State University of Surabaya

Abstract
This research is aimed to analyze the pronunciation errors of plural form, that is –s sound in English produced by KEMENAG Class students. The data collected from recording presentations and discussions are involved within it. This research focused on how the subject produce the allomorph of –s sound in plural form, those are [z], [s], and [əz] sound. The findings are divided into three parts of word lists; those are words with final voiced non-sibilant segment, voiceless non-sibilant and sibilant segment.  The result shows that one hundred percents of [s] sounds are pronounced properly, five percents of [z] sounds are pronounced properly and ninety five percents are error, while one hundred percents of [əz] sounds are error.

Key word: pronunciation error, plural sound –s
1.    Introduction
English is a foreign language for Indonesian people because there are two languages are used before it. Those languages are local language and Bahasa Indonesia. As a foreign language, English is difficult for Indonesian people who learn it. The learners’ difficulty in pronouncing makes phonological errors or mispronunciations occur when English is used. While, pronunciation is important in communication in order to make understand between speaker and hearer. That is same with Mathew (1997, p. 8) argues that “pronunciation will be a vital key to enabling students to communicate in the English, in the move towards communicative goals.” In phonological errors the sounds were produced not proper with the native sound of English should be. It is because there are many different sounds in English that change based on the word and its change syntactically or phonologically.
To know to what extent English learner pronounce sound of English many researches about phonological errors are conducted. One of them is conducted by Nani Indrajani Tiono and Arlene Maria Yostanto, students of English Department, Faculty of Letters, Petra Christian University. They studied about  English  phonological  errors  produced  by  English  department students,  particularly  English  consonantal  sounds  that  do not exist in Indonesian phonetics system – [v], [θ], [ð], [ʒ], [dʒ], and [t∫] – and the patterns  of  those  errors (Tiono & Yostanto, 2008). The result shows that the students produced thirty-four kinds of phonological errors and that the deviations occurred most frequently before, after, or in between vowels.
The finding of the study reviewed above is errors in English consonantal sounds. It was in specific consonant, which are the consonants that do not exist in Indonesian phonetic system. In this paper, the researcher wants to know phonological errors of morpheme of suffix –s in plural form of English. Morpheme –s in plural form has different pronunciation based on the singular word followed it. This present study would investigate how it is pronounced by KEMENAG Class students of The State University of Surabaya.

2.    Theoretical Framework
2.1     Second Language Acquisition and Error
“Second language acquisition refers to the subconscious or conscious process by which a language other than mother tongue is learnt in a natural or a tutored setting” (Ellis, 1989, p. 6). Subconscious process can be interpreted by process of language acquisition indirectly. For instance, the person who stays in foreign country is able to speak using foreign language by acquiring the language in daily life. Contrary with conscious process in second language acquisition, the language is acquired by learning the language systematically in education institution.  Second language acquisition is generally meant with language learning besides mother tongue.
In acquiring second language, the learner may get difficulty that is affected by first language. As Ellis (1989, p. 6) stated that “there was a strong assumption that most of the difficulties facing the L2 learner were imposed by his or her first language.” The difficulties occur perhaps this is because the difference between first language and second language. It can be the rule of how to construct the sentence or smaller unit that can be used to form sentence such as phrase or clause and can be in phonological area that is how to pronounce word.
Furthermore, the difference between first language and second language may make errors. “Error is some of the utterances produced by learners are not well formed according to the rules of the adult grammar” (Ellis, 1989, p. 9). In other word, L2 learners do not memorize the second language rules when produce utterances. The result is difference utterances with target language that can make strange and not understandable. The Error in phonological well known as speech error. Kovač (2011) argues that “speech errors are deviations from the speaker's communicative intention.” This error occurs when second language learners pronounce word that is not appropriate with first language sound.
It can be seen the difference between L1 and L2 influence how the second language learner produce the target language. As Ellis (1989, p. 19) stated that “second language acquisition (SLA) is strongly influenced by the learner’s first language.” The influence can be in accent of second language learners or can be in pronouncing words. Especially in English, many changes happen in pronouncing word based on the change of word itself. For instance, the change can be found in form of past participle word and plural form. The pronunciations are difference with the original word and after change into past participle or plural form.    
Moreover, first language influence occurs in any level of second language learners including adult learners. The influence can be seen in phonological area such as accent and pronunciation. Based on O'Grady and Archibald (2000, p. 418) “one of the most obvious characteristics of adult second language speech is that it is ‘accented’ as the result of phonological and phonetic transfer from the native language”. It is extremely clear that first language phonological and phonetic influence how second learners pronounce word in target language. Errors are caused by learner’s first language called interlingual error. As Tizazu (2014) stated that “Interlingual transfer is seen as a process in which learners use their knowledge of the first language in learning a second language.”
Speech errors occur not only when the second language learners pronounce the original single word in target language but can occur caused of syntactic changes (V. A. Fromkin, 1973, p. 230). For instance, single noun change to plural noun like bus change into busses. The plural ending –es is pronounced as [s] sound but [əz] sound, that sound changes caused of syntactic changes based on the preceding segment. Syntactically, plural change only in ending of noun by adding –s/-es but it can make difference in pronounce it based on preceding segment. It is clear that syntactic change can make different pronunciation and cause error for second language learners.
       
2.2     The Pronunciation of Plurals
As the other language, English nouns have plural form by adding –s/-es in the end of noun. The suffix –s can be form in –s or –es based on letter in the end of each word. For instance, the word mango has plural form mangoes, suffix –s become –es because the vowel in the end of word. Word cat has plural form cats, suffix –s is not change because of the word cat is ended by consonant. Those are mainly rules of how plurals formed in English.
In phonology, suffix –s is kind of morpheme. Morpheme is “a minimal unit of meaning or grammatical function” (Yule, 2010, p. 67). Morpheme is not only form of word but it can be part of word. Morpheme in form of word has meaning and morpheme in form of grammatical function can be determiner of word, also can form new meaning of word. Suffix –s here as grammatical function because it is used to form plural. It is not minimal unit of meaning because when suffix –s is independent, it doesn’t have meaning at all. It can be plural meaning when it combines with noun.
 Morpheme –s has variation in how to pronounce it depends on word that is followed. It has different sound of plural based on the context. As in V. Fromkin, Rodman, and Hyams (2011, p. 227) “often, certain morphemes are pronounced differently depending on their context.” In case of pronunciation, the different depends on the final sound of word. The variation of how the plural is pronounced called allomorphs (Carstairs-McCarthy, 2002, p. 22). The Allomorphs of –s are [z], [s], and [əz].
According to V. Fromkin et al. (2011, p. 229), “the distribution of plural allomorphs in English is conditioned by the final segment of the singular form.” The sound of final segment of singular must be known well by the speaker when pronouncing the word. It is because the sound of morpheme –s depend on how the final sound of singular is pronounced. For instance, words cab, cap and bus have plural forms cabs, caps and buses. Those plural forms have different sound of morpheme –s based on the final segment of singular form. The word cab has final segment voiced non-sibilants then the ending of plural is pronounced as [z]. The next is word cap that has final segment voiceless non-sibilant then the ending of plural is pronounced as [s]. The last is word bus that has final segment sibilant the ending plural is pronounced as [əz]. Based on those examples can be concluded the rule of plural pronunciation as stated in V. Fromkin et al. (2011, p. 229) as bellow:
Allomorph
Environment
[z]
After voiced non-sibilant segments
[s]
After voiceless non-sibilant segments
[əz]
After sibilant segment
    
Here are the examples of words that have three kinds of segments are mentioned above:
Table 1. Words with three Kinds of Segment.
voiced non-sibilant segments
Non-sibilant segments
sibilant segment
cab
cad
bag
love
lathe
cam
can
call
bar
spa
boy
cap
cat
back
cuff
faith
bus
bush
buzz
garage
match
badge
                                              Taken from (V. Fromkin et al., 2011, p. 229)

In phonetic symbol can be written as below:
Allomorph
Environment
[z]
After [b], [d], [g], [v], [ð], [m], [n], [ŋ], [l], [r], [ɑː], [ɔɪ]
[s]
After [p], [t], [k], [f], [θ]
[əz]
After [s], [ʃ], [z], [ʒ], [tʃ], [dʒ]

Difference sound of –s sound or allomorph of -s are matter of how final sound of the word it followed. As stated in Carstairs-McCarthy (2002, p. 22) “three allomorphs are distributed in an entirely regular fashion, based on the sound immediately preceding the suffix.” Above has already mentioned there are three kinds of final sound are followed by plural –s sound. The first is voiced non-sibilant segment, that produced by passing air through the glottis and cause vibration and without hissing sound. The second is voiceless non-sibilant segment. When produced this sound the air flows freely through the glottis into the oral cavity and without hissing sound. The last is sibilant segment, that is produced by the air is not blocked at any point and there is no plosion. Then sibilant sounds are sound with clear hissing noise (Hamann & Schmitz, 2005, p. 11).


3.    Method
The present study is qualitative research which is conducted to find out the errors in pronunciation of plural form (suffix –s). The subject is The Students of PPs UNESA KEMENAG Class 2015. Data is gotten from recording of Class Presentation by Students and limited by taking three recording video presentation. Those are involved three presenters and participants in discussion session. The researcher will collect the utterances of plural form and will be analyzed whether it is proper pronunciation or not based on the phonetic rules of English. Then, the finding will be presented in list of plural form and the result of data analysis.

4.    Discussion
In this discussion will present the finding of the research found when analyzed the recording discussions. The finding will be categorized based on the segment of noun that should be followed by Allomorph of plural –s, there are three sound of it, is that [z], [s], [əz]. Those categories are Voiced non-sibilant segment, voiceless non-sibilant segment and sibilant segment.
a.    Voiced Non-sibilant Segment
This kind of segment of word is followed by sound [z] in plural form. The finding provided as follows:

Table 2. Words with Voiced Non-sibilant Segment
Number
Finding
Correct/Error Pronunciation
Word Produced
Sound of Plural
Correct
Error
1
questions
[s]

×
2
learners
[z]
×

3
phenomenons
[s]

×
4
values
[s]

×
5
morals
[s]

×
6
characters
[s]

×
7
gods
[s]

×
8
names
[s]

×
9
cultures
[s]

×
10
legs
[s]

×
11
pictures
[s]

×
12
capitals
[s]

×
13
words
[s]

×
14
ways
[s]

×
15
members
[s]

×
16
fields
[s]

×
17
societies
[s]

×
18
terms
[s]

×
19
examples
[s]

×
20
goals
[s]

×
% of Correct/Error
5%
95%
   
From the table above, can be seen there are twenty plural words produced and five percents pronounced properly, while fifty five percents plural words were not pronounced properly. The subjects tended to make errors in pronounce [z] sound, they did not pronounce as phonological rule stated that voiced non-sibilant segment must be followed [z] sound in plural form. It means that suffix –s in those twenty words above must be pronounced by [z] sound but the subjects pronounced them by sound [s] except one word that is learners      
b.   Voiceless Non-sibilant Segment
This kind of segment of word is followed by sound [s] in plural form. The finding provided as follows:
Table32. Words with Voiceless Non-sibilant Segment
Number
Finding
Correct/Error Pronunciation
Word Produced
Sound of Plural
Correct
Error
1
things
[s]
×

2
students
[s]
×

3
myths
[s]
×

4
characteristics
[s]
×

5
legends
[s]
×

6
interpretations
[s]
×

7
definitions
[s]
×

8
restaurants
[s]
×

9
communications
[s]
×

10
persons
[s]
×

11
combinations
[s]
×

12
interpretations
[s]
×

13
minutes
[s]
×

14
groups
[s]
×

15
events
[s]
×

16
parties
[s]
×

% of Correct/Error
100%

The table above showed words with voiceless non-sibilant segment, there are sixteen words found from the data collecting. In the table can be seen all of the words pronounced properly based on phonological rule that stated the word with voiceless non-sibilant segment must be followed by [s] sound in plural form. It seems that the [s] sound is commonly pronounced by the subjects as plural form of those words.    
c.    Sibilant Segment
This kind of segment of word is followed by sound [əz] in plural form. The finding provided as follows:
Table 4. Words with Sibilant Segment
Number
Finding
Correct/Error Pronunciation
Word Produced
Sound of Plural
Correct
Error
1
places
[s]

×
2
goddesses
[s]

×
3
paraphrases
[s]

×
4
sentences
[s]

×
5
senses
[s]

×
6
circumstances
[s]

×
7
sources
[s]

×
8
differences
[s]

×
% of Correct/Error

100%

In the table above can be seen there are eight words are found in collecting data from the recording. Those words have final sibilant segment that must be followed by [əz] in plural form. The suffix –s must be pronounced as [əz] sound based on the phonological rule. But in the table above can be seen all of the plural forms are pronounced by [s] sound. It means that the subjects tent too make errors in pronouncing [əz] sound in plural form.   

5.    Conclusion
From the findings and analysis, it was found that from the three objects in this study there are two objects almost one hundred percents error in pronouncing and one abject is one hundred percents pronounced properly that is plural form with final voiceless non-sibilant segment. While those two objects that errors pronunciation are plural forms with final voiced non-sibilant segment and sibilant segment. There are ninety five percents errors pronunciation in word that have final voiced non-sibilant segment and five percent are pronounced properly. In pronouncing plural form with final sibilant segment, one hundred percents from findings are errors pronunciation.
Hopefully, this research can be made as evaluation for the subjects and member of the class in produced plural form. It cannot be allowed that error pronunciation especially in plural form usually happen in daily speaking. They have to remind that English will be used in lecturing activities and other scientific activities later on.  They must more pay attention in pronounce plural form mainly in words that have final voiced non-sibilant segment and sibilant segment in order to be able to speak English fluently.               

References
Carstairs-McCarthy, A. (2002). An Introduction of Morphology: Words and Their Structure. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Ellis, R. (1989). Understanding Second Language Acquisition. Oxford: Oxford University Press.
Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2011). An Introduction to Language. Canada: Cengage Learning.
Fromkin, V. A. (1973). Speech Errors as Linguistuc Evidence.
Hamann, C., & Schmitz, C. (Eds.). (2005). Phonetics and Phonology: Reader for First Year English Linguistic. Oldernburg: University of Oldernburg.
Kovač, M. M. (2011). Speech Errors in English as Foreign Language: A Case Study of Engineering Students in Croatia. 1(1).
Mathew, I. B. D. (1997). Errors in Pronunciation Of Consonants by Indonesian, Gayo and Acehnese Learners of English as A Foreign Language. (Master of Arts), Edith Cowan University.  
O'Grady, W., & Archibald, J. (2000). Contemporary Linguistic Analysis: An Introduction. Canada: Pearson Education Canada Inc.
Tiono, N. I., & Yostanto, A. M. (2008). A Study of English Phonological Errors Produced by English Department Students 10(1).
Tizazu, Y. (2014). A Linguistic Aanalysis Of Errors In Learners’ Compositions: The Case Of Arba Minch University Students International Journal of English Language and Linguistics Research.

Yule, G. (2010). The Study of Language (4 ed.). New York: Cambridge University Press.