News Ticker

Kejar Tayang Drama Ujian Nasional (UN)

By Agus Khairi - Wednesday, March 2, 2016
“UN  bertujuan  untuk  mengukur  pencapaian  kompetensi  lulusan  pada  mata pelajaran  secara  nasional  dengan  mengacu  pada  Standar  Kompetensi  Lulusan (SKL)” (BSNP:2016).
Mengacu pada tujuan yang disampaikan di atas maka tepat dikatakan bahwa UN merupakan kegiatan evaluasi dalam rangka mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran serempak dilaksanakan secara nasional di Indonesia. Selain itu, UN menjadi instrumen penialain dan pemeringkatan satuan pendidikan secara nasional. Oleh karenanya standar yang digunakan juga sama secara nasional, yakni Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang mengacu pada Standar Isi yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Pendidikan yang berubah-ubah mengikuti perubahan kebijakan kurikulum. SKL inilah kemudian yang digunakan satuan pendidikan sebagai acuan dalam menyiapkan peserta didik untuk menghadapi Ujian Nasional.
Sudah menjadi kebiasaan sejak lama bahwa UN menjadi prioritas utama pada tiap satuan pendidikan yang ada. Sehingga kegiatan persiapan dalam bentuk kelas atau jam pelajaran tambahan akan meningkat drastis bagi siswa kelas terakhir. Kegiatannya adalah membahas SKL UN pada tahun bersangkutan dan membahas soal-soal UN terdahulu serta prediksi soal dari sejumlah penerbit buku penyedia Persiapan UN. Kegiatan persiapan akan lebih meingkat lagi saat waktu pelaksanaan UN telah dekat. Tidak jarang mata pelajaran yang di-UN-kan mendapat porsi jam lebih banyak dari mata pelajaran lain bahkan ditiadakan jam pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. Pagi dan sore tidak lepas dari kagiatan dalam rangka pelaksanaan UN. Hasil dari pesiapan ini kemudian kerap diukur dengan diadakannya uji coba (try out) beberapa kali sebelum pelaksanaan UN. Tidak jarang kegiatan try out ini menggangu kegiatan pembelajaran kelas lain karena ruangan dipakai oleh peserta try out sehingga kelas di bawah kelas terakhir ini diliburkan.
  Melihat kegiatan persiapan yang demikian antusias dan padat tidak ubahnya seperti drama TV atau sinetron yang kejar tayang. Bagaimana tidak, hanya untuk kegiatan UN yang memang sudah diatur sedemikian rupa yang hanya mengukur tingkat keberhasilan dengan angka-angka saja dipersiapkan demikian hebat pada saat menjelang pelaksanaan dan pada menit terakhir (red:kelas terkahir) saja. Padahal bila ditinjau dari SKL yang ditentukan maka dapat dilihat bahwa materi yang akan diujikan adalah materi yang sejak kelas pertama seharusnya sudah dibelajarkan pada masing-masing tingkatan satuan pendidikan. Seolah-olah apa yang telah dilaksanakan dulu tidak berimbas sehingga perlu dibahas ulang dalam bentuk terbatas hanya untuk keperluan UN saja. Hal demikian tentu baik jika tidak menggangu proses pembelajaran pada tingkat di bawahnya. Sangat bermanfaat jika tidak menguras waktu dan tenaga peserta didik dari pagi sampai sore hanya untuk persiapan UN saja. Padahal untuk tingkat SMP dan SMA waktu diberikan tiga tahun untuk menguasai standar isi yang ada.
Pada akhirnya UN juga tidak lebih dari sekedar drama yang terbungkus dengan slogan JUJUR pada tiap pelaksanaannya. Tidak bias dipungkiri bahawa beberapa tahun sebelumnya, bahkan tiap kali pelaksanaan UN dihebohkan dengan ditemukannya kunci jawaban yang beredar di kalangan peserta. Apalagi saat kelulusan peserta didik ditentukan dengan hasil UN saja. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa banyak oknum wali murid bahkan dari satuan pendidikan memfasilitasi peserta untuk mendapatkan kunci jawaban UN. Hal demikian dilakukan dengan berbagai motif masing-masing, di antaranya adalah agar anaknya bias lulus dan masuk sekolah atau perguruan tinggi favorit yang diinginkan sedangkan satuan pendidikan ingin agar nama baik tetap terjaga baik dengan kelulusan 100%.

Tentunya hal demikian sangat menusuk nurani pendidik, namun juga dilematis seakan itu diperlukan dengan carut-carut dunia pendidikan saat ini. Demikian juga dengan tahun ini walaupun kelulusan diserahkan kepada satuan pendidikan namun praktik DRAMA UN bias dipastikan tetap tayang degan tujuan agar nama satuan pendidikan tetap baik dan mendapat peringkat baik secara nasional serta peserta didik dapat masuk sekolah dan perguruan tinggi favorit yang diinginkan oleh peserta didik dan/atau orang tua. Namun tidak perlu berputus asa dengan terus megharapkan system yang baik tanpa ada DRAMA dalam dunia pendidikan yang KEJAR TAYANG.