News Ticker

MEMBUMIKAN LITERASI DI BUMI PATUH KARYA

By Agus Khairi - Saturday, March 12, 2016
MEMBUMIKAN LITERASI DI BUMI PATUH KARYA

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa literasi di Lombok Timur, Bumi Patuh Karya, akan tumbuh subur layaknya tanaman pada musim penghujan. Yang mana pada saat itu tanaman cukup mendapat asupan air dan mineral yang dibutuhkan. Pun demikian dengan literasi akan berkembang di Lombok Timur dengan didukung oleh sumber daya yang cukup memadai. Sumber daya tersebut berupa sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.
Bagi sebagian orang kata literasi bisa menjadi kata yang asing karena jarang didengar maupun digunakan. Literasi berasal dari kata asing yaitu bahasa Inggris literacy yang berarti mampu membaca dan menulis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat ditemukan padan kata (sinonim) dari kata literasi yaitu keberaksaraan, kemampuan membaca dan menulis. Dari pengetian tersebut dapat diperluas bahwa literasi adalah kemampuan berbahasa dalam bahasa tertentu dalam bentuk baca dan tulis. Sehingga sering kita mendengar istilah buta aksara, yang mana seseorang dikatakan buta aksara bilamana tidak bisa membaca dan menulis.
Melihat pengertian di atas tentu literasi sangat penting bagi ummat manusia untuk dapat berinterakasi dan berkomunikasi di dalam masyarakat. Demikian pentingnya literasi ini sehingga berbagai program dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas buta aksara yang masih banyak di masyarakat kita dikarenakan kurang kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Usaha ini dilakukan dengan melaksanakan pendiidkan yang bersifat non formal oleh lembaga-lembaga yang didirikan oleh masyarakat (red:PKBM) dengan dana dari pemerintah. Dengan demikian maka hasil dari program tersebut dapat meningkatkan literasi masyarakat yang tentnya berdampak bagi diri pribadi maupun masyarakat itu sendiri. Tidak hanya itu dengan meningkatnya angka melek huruf maka Indeks Pembanguan Manusia (IPM) suatu daerah bisa meningkat.
Literasi dalam hal ini tentu tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis dasar saja tetapi memiliki arti yang luas. Membaca misalnya tidak hanya kemudian sebatas membaca seperlunya saja terkait dengan tuntutan tertentu. Contoh, murid sekolah membaca sesuai dengan tuntutan kurikulum saja, sebatas mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Begitu juga dengan kelompok masyarakat yang lain, membaca seperlunya dan ketika merasa butuh saja. Membaca harus diperluas kegiatannya ke arah kegiatan rutin yang mana membaca dimaksudkan untuk menambah ilmu pengetahuan tentang apa saja yang sedang berkembang di dunia. Dalam hal menulis juga harus diartikan secara luas yakni menulis adalah sebuah penciptaan suatu karya dalam bentuk bahasa tulis yang mana hal ini dilakukan untuk meuangkan ide dan gagasan yang didapat dari pengalaman berupa membaca dan interaksi sosial sehari-hari dengan lingkungan sekitar.
Namun realita yang ditemukan di masyarakat adalah tidak semua orang suka membaca yang kemudian bisa menjadi hobi. Sehingga banyak data yang dikemukakan tentang rendahnya minat baca masyarakat di suatu daerah tak terkecuali di Nusa Tenggara Barat (laporan hasil Kunjungan Kerja Komisi X DPR-RI di NTB tanggal 24-28 Februari 2015). Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya adalah sarana dan prasarana yang berupa perpustakaan masih terbatas jumlahnya. Sehingga belum bisa menjangkau semua daerah di wilayah ini. Selain itu juga rendahnya daya beli masyarakat terkait dengan bahan bacaan dikarenakan pendapatan masih dipergunakan sebagian besar untuk keperluan hidup sehari-hari. Banyak lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk memberikan kases bacaan namun koleksi yang masih sangat terbatas.
Begitu juga dengan menulis, tidak semua orang bisa menuangkan ide yang dimiliki dalam bentuk tulisan. Sebagian besar dilakukan dengan bahasa lisan di forum-forum diskusi. Hal ini bisa dimaklumi karena menulis bukanlah hal yang mudah dilakukan tanpa latihan yang keras. Menulis harus dilatih sesering mungkin dan sebelumnya memperkaya diri dengan bahan yang bisa didapatkan salah satunya yang utama adalah dari membaca. Kalau boleh membandingkan porsi yang dibutuhkan dalam kegiatan literasi ini adalah 60% membaca dan 40% menulis. Karena dengan banyak membaca maka akan menambah wawasan dan ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.
Lantas bagaimana dengan literasi di Bumi Patuh Karya (red:Lombok Timur)?
Sama halnya dengan apa yang dihadapi oleh daerah lain yaitu minat baca masih sangat rendah seperti apa yang dikemukakan sebelumnya. Namun kita tidak perlu patah semangat dalam memasyarakatkan literasi di Lombok Timur. Karena daerah ini mempunyai daya dukung yang cukup besar. Dalam hal meningkatkan minat baca masyarakat, dapat didukung dengan adanya Perpustakaan Daerah yang merupakan bagian dari system tata kerja di Kabupaten Lombok Timur yakni Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi yang pernah menjadi juara tingkat nasional. Selain itu juga banyak sekolah dan madrasah yang sudah mempunyai perpustakaan masing-masing walaupun koleksi yang masih terbatas. Dalam hal peyediaan sarana membaca ini masyarakat juga tidak mau ketinggalan dengan mendirikan taman bacaan Masyarakat (TBM) di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (DIKPORA) bagian Pendidikan Luar Sekolah. Di samping itu juga pemerintah sudah mengusahakan dengan adanya perpustakaan desa dan perpustakaan masjid yang dapat diakses oleh masyarakat. Keberadaan beberapa perguruan tinggi juga merupakan daya dukung yang besar bagi peningkatan minat baca masyarakat.
Daya dukung yang besar yang dimiliki oleh Lombok Timur tentu tidak serta merta berdampak pada meningkatnya minat baca masyarakat secara menyeluruh tanpa adanya dorongan dalam bentuk program yang nyata. Tidak ada salahnya melihat apa yang dilakukan oleh Wali Kota terbaik ketiga dunia, Ibu Tri Rismaharini di Surabaya. Pada tahun 2014 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dicanangkan ‘Surabaya kota Literasi” yang kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Pendidikan setempat untuk mewajibakn siswa membaca buku di sekolah di luar jam belajar selama 15 menit. Dan hal ini bisa berjalan di sekolah favorit di kota ini, SMAN 5 Surabaya (Khoiri, Kompasiana.com).
Sangat memungkinkan untuk mendorong minat baca masyarakat utamanya generasi muda yang bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan yang ada. Mengingat Lombok Timur mempunyai banyak sekali lembaga pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat dalam bentuk Yayasan pendidikan dan pondok Pesantren yang sebagian besar mempunyai lembaga pendidikan dari tingkat PAUD sampai Pendidikan menengah, bahkan beberapa sudah menyelenggarakan Pendidikan Tinggi. Keterbatasan koleksi tidak harus menjadi halangan dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan minat baca masyarakat Lombok Timur. Dengan meluangkan waktu beberapa menit saja di masing-masing lembaga pendidikan dirasa cukup untuk menggugah minat baca para siswa dan santri. Selain itu di tengah masyarakat juga sudah banyak tersedia TBM dan Perpus Desa yang bisa dimnafaatkan untuk mendapatkan buku. Tinggal mengupayakan sebuah kebijakan dari pemangku kebijakan yang cukup bisa “memaksa” untuk membiasakan masyarakat membaca.
Ada satu kegiatan yang sudah berjalan oleh Perpustakaan Daerah yaitu Book Fair yang hampir setiap tahun dilaksanakan. Pada kegiatan ini diselenggarakan berbagai lomba yang tujuannya tentu untuk menggugah minat baca masyarakat di samping pameran buku-buku murah oleh berbagai penerbit dan Toko Buku. Kegiatan ini patut diapresiasi dalam upayanya secara rutin memberikan akses baca dan informasi bagi masyarakat, namun tentu perlu terus ditingkatkan dengan ragam acara yang betul-betul mengarah langsung kepada tujuan membangun budaya literasi utamanya membaca.
Selain meningkatkan minat baca masyarakat, kegiatan menulis juga perlu terus digugah sejak dini dari lembaga pendidikan yang ada. Sekali lagi, kebijakan dari pemangku kebijakanlah yang dirasa cukup ampuh untuk “memaksa” masyarakat untuk gemar menulis. Walaupun tidak dapat dinafikan bahwa semangat mandiri untuk menulis dari generasi muda Lombok Timur patut diapresiasi setinggi-tingginya. Banyak kalangan muda yang berada di lembaga pendidikan menengah maupun tinggi berkelompok membentuk komunitas dalam rangka mengembangkan berbagai potensi dan minat mereka dalam hal menulis walaupun masih dalam lingkup cipta karya sastra. Sebut saja, Lembaga Rumah Sungai (LmRS) NTB yang terus mengembangkan komunitas teater dan sastra di sekolah dan madrasah swasta maupun negeri melaui Komunitas Sastra dan Seni (KONTRAS) Pelajar Lombok Timur, ada Sanggar Narariawani STKIP Hamzanwadi Selong, Teater Bening, Komunitas Rabu Langit (KRL) dan komunitas lain yang melaksanakan kegiatan rutin untuk menampilkan karya mereka dengan cara masing-masing.
Terkait dengan budaya menulis ini, sebetulnya bisa kita lihat dari salah satu media social yaitu facebook. Pada kenyataannya para pemilik akun Facebook ini sering membuat status (red:menulis) di dinding akun mereka. Sosial media cenderung dijadikan sebagai tempat untuk mencurahkan apa yang ada di fikiran. Bahkan sebagai tempat membaca informasi tentang berbagai hal yang dibutuhkan dari berbagai akun maupun halaman tertentu kemudian dibagikan di akun pribadi mereka. Kecenderungan ini menurut saya bisa dijadikan sebagai langkah awal dalam mengembangkan literasi bagi masyarakat. Tentunya bukan sekedar bisa menulis saja tetapi tidak berisi atau mempunyai gagasan yang bisa digunakan oleh orang lain.
Pada akhirnya, upaya membumikan literasi di Bumi Patuh Karya bukanlah hal yang tidak mungkin dicapai dengan begitu besar potensi pendukung yang bisa diarahkan untuk tujuan tersebut. Sembari terus menutupi setiap kekurangan yang bisa menjadi kendala bagi kemajuan literasi generasi muda pada khususnya dan masyarakat secara umum.