News Ticker

SAATNYA DAERAH MENGEJAR KETERTINGGALAN UNTUK BERSAING

By Agus Khairi - Sunday, December 11, 2016
SAATNYA DAERAH MENGEJAR KETERTINGGALAN UNTUK BERSAING

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) resmi diluncurkan Kemdikbud pada 2015 dan diatur dalam Permendikbud No. 23/2015. Tujuannya, menumbuhkan kegemaran membaca bagi siswa SD hingga sekolah menengah. Tetapi, pemerataan program ini belum dapat dikatakan tercapai.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, Gubernur Dr. Zainul Majdi mempertegas kegiatan tersebut lewat Safari Gerakan Nasional Membaca. Sayangnya, di beberapa kabupaten pelaksanaan gerakan ini justru mati suri.
Sebagai guru setempat, penulis merasa prihatin. Pasalnya, NTB merupakan salah satu daerah percontohan dari GLS ini. Selain NTB, daerah percontohan lainnya adalah Jakarta, Sumatera Utara, Riau, dan NTT.
Pada akhir tahun 2016, setahun setelah GLS diluncurkan secara nasional, barulah terlihat gerakan ini dimulai. Itupun masih sebatas pada sekolah percontohan yang ditunjuk yaitu SMAN 1 Gunung Sari Lombok Barat. Sosialisasi sekaligus peluncuran program GLS ini dilakukan oleh Sekretaris Dinas pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat, Hendra pada tanggal 1 oktober 2016 lalu (radarlombok.co.id). Padahal banyak instansi terkait yang bisa digerakkan dalam mendukung GLS di NTB. Tentunya yang paling utama adalah Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Daerah yang ada di masing-masing daerah. Apalagi, Perpustakaan di NTB kerap ikut serta dalam lomba nasional dan mendapat juara baik Pustakawan maupun secara kelembagaan.
Tidak terlihatnya pelaksanaan di lembaga pendidikan yang merupakan sasaran dari GLS tersebut mengesankan gerakan ini tidak ada gaung ke daerah-daerah. Utamanya Lombok Timur yang merupakan kabupaten dengan penduduk terbanyak di NTB. Dengan demikian tentunya hajatan yang besar dari gerakan ini tidak akan bisa tercapai sesuai dengan harapan. Ada beberapa penyebab mengapa hal ini bisa terjadi sejak GLS diluncurkan secara nasional.
Pertama, sosialisasi tentang gerakan ini belum menjangkau ke semua lembaga pendidikan yang ada di daerah ini. Kendati GLS menjadi gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan, namun sosialisasi yang massif belum menyentuh kepada ujung tombak pelaksana kegiatan tersebut yakni sekolah/madrasah. Hasilnya gaung gerakan membaca 15 menit di lembaga pendidikan yang ada di masing-masing Kabupaten di NTB masih belum banyak terdengar.   
Kedua, inisiatif dari pemangku kebijakan di daerah yaitu di tingkat kabupaten yang tidak proaktif menindaklanjuti arahan dari pemprov terkait dengan kegiatan meningkatkan minat baca ini. Terlihat sangat lamban bila dibandingkan dengan lamanya gerakan ini diluncurkan secara nasional. Satu tahun merupakan waktu yang sangat lama sampai program ini diluncurkan. Itu pun masih dalam tahap sosialisasi dan pencanangan pada salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai percontohan oleh pemprov. Sedangkan sekolah percontohan lainnya yaitu SMAN 3 Sumbawa belum terdengar kabar pelaksanaan program GLS.
Kalau pada sekolah percontohan saja baru disosialisasikan setahun setelah GLS diluncurkan secara nasional, bagaimana dengan Kabupaten yang sekolahnya pun tidak ditunjuk sebagai percontohan seperti Lombok Timur?
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Kalimat yang sering digunakan tersebut penulis rasa tidak tepat digunakan dalam hal Gerakan Literasi Sekolah di Kabupaten Lombok Timur. Jika saja ada kesigapan dari pemangku kebijakan, yakni Dinas DIKPORA, dalam menanggapi gerakan ini maka pelaksanaan di lembaga pendidikan sudah bisa berjalan dengan massif. Mengingat hampir seluruh lembaga pendidikan yang ada di daerah ini sudah menyediakan waktu rata-rata 30 menit sebelum pelajaran dimulai. Waktu 30 menit ini digunakan dengan kegiatan peningkatan iman dan taqwa (IMTAQ) bagi siswa-siswa dengan membaca Al Qur’an, Ceramah Agama, dan sholat duha. Tersedianya waktu ini tentu juga bisa dimanfaatkan dengan mengisi kegiatan membaca buku bagi siswa.
Program pembiasaan IMTAQ yang ada menjadi modal yang sangat besar bagi pelaksanaan program GLS di daerah ini. Bisa dikatakan dengan adanya pembiasaan tersebut siswa sudah terbiasa dengan kegiatan sebelum pelajaran dimulai. Sehingga bagaimana sekolah/madrasah bisa mengisi waktu ini dengan kegiatan membaca buku. Bisa dilakukan dengan membagi 30 menit tersebut menjadi dua kegiatan yakni IMTAQ dan membca buku atau dengan bergantian setiap harinya antara GLS dengan IMTAQ.
Selain ketersediaan waktu, ada Perpustakaan Daerah (PUSDA) di Lombok Timur yang bisa mendukung GLS ini. Pihak sekolah/madrasah bisa menjalin kerjasama dengan PUSDA dalam rangka penyediaan bahan bacaan. Bisa dengan peminjaman secara berkala walaupun masih terbatas jumlahnya.
Selain itu, pengadaan buku bisa dilakukan dengan meminta siswa menyiapkan buku secara mandiri. Baik itu buku baru maupun buku yang sudah dimiliki masing-masing siswa di rumah. Satu siswa satu buku dengan jenis bebas selain buku pelajaran. Buku-buku ini bisa menjadi kumpulan buku di kelas. Setelah selesai dengan buku yang dibawa masing-masing maka siswa bisa betukar buku dengan temannya di kelas. Setelah semua bertukar antar siswa di kelas, maka kumpulan buku bisa di tukar dengan kumpulan buku kelas lain. Sehingga dalam waktu yang lama, lembaga pendidikan bisa menyediakan buku bacaan dalam rangka pelaksanaan GLS.

Keterbatasan buku tentu bukan menjadi alasan mendasar terhambatnya program GLS bagi lemabaga pendidikan di Lombok Timur maupun NTB secara umum. Namun yang dibutuhkan adalah kemauan pemerintah daerah untuk menggerakkan instansi terkait dan gagasan kreatif dari pimpinan masing-masing lembaga pendidikan.