News Ticker

BUNDA AISYAH; SOSOK PEREMPUAN TEGAR

By Agus Khairi - Monday, July 17, 2017
“Nak, memanjat itu memang harus dari bawah, tidak bisa langsung ke pucuk. Bersabarlah dan jangan menyerah”.
Kalimat ini begitu lekat di ingatan lantaran diucapkan oleh sosok yang begitu berjasa dalam hidup saya. Kalimat yang mampu membuat tegar dan semangat berkobar-kobar saat sudah mulai kehilangan semangat juang. Begitulah Bunda menanggapi keluhan dan keputusasaan saya yang pada saat itu sedang kuliah semester 3 di STKIP Hamzanwadi Selong (sekarang Universitas Hamzanwadi). Saat itu saya berkata kepada Bunda bagaimana kalau kuliah saya tinggalkan kemudian memilih bekerja karena kekurangan biaya. Sungguh tidak tega melihat Bunda, seorang diri menanggung beban biaya kuliah dan hidup setelah Ayah meninggal dua tahun sebelumnya.
Sejak tahun 2004 Bunda mejadi orang tua tunggal bagi saya setelah Ayah meninggalkan kami untuk selamanya tepat pada tanggal 4 Juni 2004. Saat itu saya sedang menunggu pengumuman kelulusan dari SMA yang akan dikeluarkan pada tanggal 14 Juni 2004 setelah sebelumnya menempuh UN. Akhirnya walaupun dalam keadaan berduka hasil pengumuman yang dinanti cukup membuat suasana hati dan keluarga sedikit bahagia. Saya pun lulus dari SMA Negeri 1 Masbagik.
Hidup harus terus berlanjut. Demikian kata yang tepat bagi saya dan Bunda semenjak kepergian Ayah. Kami hidup berdua di rumah yang ditinggalkan Ayah serta mengurus beberapa petak sawah yang menjadi warisan. Rencana kuliah di Jawa setelah lulus SMA pun pupus lantaran tidak tega meninggalkan Bunda sendirian di rumah. Desakan keluarga untuk tetap di rumah juga mengharuskan saya kuliah di kampus yang dekat dengan rumah. Saya akhirnya kuliah di Perguruan Tinggi swasta yang hanya membuka jurusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan, padahal ini tidak sesuai dengan keinginan Saya dan Bunda.
Dibanding dengan Almarhum Ayah, saya memang lebih dekat dengan Bunda. Saya lebih nyaman becerita dan menyapaikan keluh kesah kepadanya. Saat menginginan sesuatu misalnya, saya lebih memilih meminta kepada Bunda kemudian disampaikan kepada Ayah. Demikian juga sebaliknya, Ayah lebih sering menyampaikan sesuatu hal melalui Bunda, jarang sekali Ayah menyampaikan langsung kepada saya. Bunda akhirnya menjadi penghubung antara Saya dan Ayah.
Dengan kedekatan inilah mungkin yang menyebabkan duka karena kepergian Ayah dapat segera terobati. Sosok Bunda bisa mengisi separuh peran Ayah dalam hidup saya. Termasuk pula dalam memenuhi kebutuhan hidup kami. Tidak mudah saat itu bagi Bunda untuk membiayai hidup sekaligus kuliah saya. Saya pun tentu tidak berpangku tangan, pekerjaan di sawah saya ambil alih dan dibantu oleh Bunda. Kuliah sambil bekerja saya lakoni saat itu. Menjadi petani dengan bekal kemampuan yang tidak pernah ada sebelumnya cukup merepotkan, namun Bunda tetap setia membimbing dengan bekal pengalamannya selama hidup bertani bersama Ayah.
Walaupun dalam keadaan kekurangan, Bunda Aisyah tidak surut semangatnya dalam memperjuangkan pendidikan saya. Semasa Ayah masih hidup pun mereka memang sangat gigih dalam hal pendidikan bagi anaknya. Tentunya ini menjadi dorongan semangat yang luar biasa bagi saya agar terus berusaha agar bisa menyelesaikan pendidikan saya sampai sarjana.
Dalam pandangan saya Bunda Aisyah memang sosok perempuan yang tegar. Walaupun dengan keadaan yang serba kekurangan, Dia tetap terlihat kuat dalam menjalani kehidupan. Tidak pernah saya dengar mengeluh dan terlihat capek. Optimisme selalu tampak dalam wajahnya yang terus mengeriput dimakan usia. Tidak pernah tampak dalam wajahnya dan terdengar dari mulutnya kata patah semangat.
Semangat dan prinsip yang diajarkan oleh Bunda memang terbukti. Belum selesai kuliah pun saya sudah mulai mengajar di sebuah Pesantren dengan bekal ilmu bahasa inggris yang saya dapat di bangku kuliah. Titian karir untuk menjadi guru sesuai dengan kualifikasi pendidikan sudah mulai dirintis dari awal. Hal yang tidak semua teman mahasiswa bisa meraihnya saat itu.
Setelah selesai kuliah saya bisa lebih fokus pada profesi saya sebagi guru. Seiring dengan itu maka keberlangsungan hidup Saya dan Bunda mulai beralih ke pundak saya. Walaupun sesekali Saudara yang lain sering membantu juga. Kesempatan untuk menunjukkan cinta dan bakti pada Bunda Aisyah berganti dari menuntut ilmu sampai sarjana menjadi memenuhi kebutuhan hidup berdua walaupun belum mampu seluruhnya.
Bahagia sekali bisa mengurangi beban Bunda Aisyah. Dengan begitu Bunda sudah bisa banyak meluangkan waktu untuk kegiatan yang tidak menguras tenaga dan terlalu membebani fikiran. Sesekali Bunda pergi ke rumah saudara saya untuk sekedar menengok cucu. Kadang ke rumah nenek dan berlama-lama di sana untuk mengurusinya.
Jadwal kajian dan majlis taklim pun rutin dihadiri oleh Bunda Aisyah. Bahkan tidak jarang tempatnya jauh dan harus menggunakan transportasi bersama ibu-ibu yang lain. Di sinilah peran saya untuk mendukung kegiatan ini. Setiap akan pergi ke kajian yang tempatnya agak jauh maka saya sudah menyiapkan ongkos transportasi kalau itu akan menggunakan angkutan yang biasa digunakan bersama ibu-ibu yang lain. Sangat bahagia rasanya memberikan hasil jerih payah bekerja untuk keperluan Bunda. Tugas mengantar pun selalu siap saya lakukan kalau tempat kajian masih bisa di sekitar desa tempat kami tinggal. Tentunya apa yang saya lakukan tersebut sangat jauh dari cukup dibanding apa yang dilakukan oleh Bunda kepada Saya. Namun setidaknya saya tetap berusaha agar tetap bisa berbuat semampunya demi kebahagiaan Bunda Aisyah.