News Ticker

PENGALAMAN PERTAMA ITU CANDU

By Agus Khairi - Monday, July 17, 2017
Keinginan untuk bisa menulis sudah terbersit dalam benak ketika baru duduk di bangku kuliah. Lantaran pada saat kuliah sering mendapat selebaran dari mahasiswa yang ikut dalam berbagai organisasi. Sangat keren di pandangan saya saat itu, ketika seorang mahasiswa bisa menulis tentang hal-hal yang menjadi gagasan mereka baik tentang kampus maupun isu hangat yang sedang terjadi. Namun keinginan itu hanyalah menjadi mimpi karena tidak pernah berlatih menulis dengan baik.
Mimpi ingin bisa menulis semakin menjadi-jadi ketika sudah menjadi guru dan sering diminta untuk membuat proposal bantuan. Begitu juga ketika terlibat aktif dalam organisasi kepemudaan di desa yang mebutuhkan keterampilan menuls walaupun sebatas pengantar surat. Ditambah lagi kesukaan saya membaca opini di media semakin membentuk pemikiran bahwa menulis itu adalah sesuatu yang prestise. Tapi sekali lagi keinginan tinggallah keinginan tanpa jadi kenyataan.
Hingga pada saat saya mendapat kesempatan melanjutkan belajar di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), keinginan untuk bisa menulis mulai diasah walupun masih sebatas untuk tugas kuliah. Pada tahap selanjutnya kegiatan menulis mulai saya lakukan dengan membuat blog pribadi dan diisi dengan tugas-tugas kuliah maupun tulisan-tulisan pendek tentang apa saja yang menarik perhatian saya. Senang sekali rasanya bisa mulai menulis walaupun masih jauh dari kata bagus.
Untuk terus memompa semangat dan mengasah pengetahuan tentang menulis, saya sering mengikuti seminar-seminar kepenulisan yang ada di beberapa kampus di Surabaya. Selain kota ini dijuluki kota Pahlawan juga oleh banyak kalangan penggerak literasi (penulis) menyematkan kota Surabaya sebagai Kota Literasi. Julukan yang sangat tepat saya rasa mengingat kegiatan literasi begitu masif di kota ini. Bertemu dengan banyak penulis di berbagai seminar menulis membuat saya semakin semangat untuk terus berlatih menulis. Terlebih lagi salah seorang dosen saya adalah seorang Sastrawan, penulis terkenal dengan banyak karya dan penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Beliau adalah Budi Darma. Kata beberapa orang dosen, saya sangat beruntung bisa diajar oleh Budi Darma.
Arus literasi yang begitu kencang membuat semangat membuncah untuk bisa menuangkan semua ide dalam tulisan. Namun tentu harus banyak bahan untuk bisa menulis dan itu bisa didapatkan dari banyak membaca. Benar apa yang banyak dikatakan dalam seminar-seminar yang saya ikuti bahwa penulis yang baik juga seorang pembaca yang tekun. Untuk itu maka literasi membca pun saya tingkatkan dengan harapan bisa menambah wawasan sebagai bahan untuk menulis. Menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku serta berburu info bazaar buku murah masuk dalam daftar hal yang harus dilakukan.        
 “Menulis bukanlah sebuah pengetahuan namun merupakan keterampilan. Oleh karena itu harus dilatih terus menerus”. Kalimat ini saya dengar dari seorang guru menulis di kelas Menulis Opini di Media yang diselenggarakan oleh Media Guru. Pertemuan untuk ke sekian kalinya dengan penulis yang juga mantan editor Jawa Pos ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan kepenulisan saya. Dengan arahan dari Eko Prasetyo inilah kemudian kegiatan menulis mulai merasa terarah. Dorongan semangat dari Tim Media Guru juga semakin menguatkan tekad untuk menjadi Guru yang bisa menulis.
Kegiatan mengisi blog pribadi yang sempat mandeg kini perlahan sudah mulai dilakukan lagi. Di samping itu juga berbagai tugas menulis dari Eko Prasetyo sebagai Pemimpn redaksi Media Guru terus dilaksanakan dengan tujuan bisa terus melatih kemampuan menulis. Hingga pada suatau ketika Pimpinan Umum Media Guru mengajak semua peserta Kelas Menulis untuk menulis sebuah buku bersama. Ajakan yang disampaikan dalam forum sebuah Group WA Alumni kelas Menulis itu langsung disambut oleh anggota dengan gegap gempita dan semangat yang berkobar, tidak terkecuali saya.
Tidak disangka bahwa berawal dari kelas menulis opini membawa saya ikut terlibat dalam penulisan sebuah buku. Walaupun buku ini ditulis bersama namun tidak megurangi kebanggaan bahwa saya bisa menulis buku. Dengan arahan dari Eko Prasetyo, sang Guru menulis, kami pun mulai menulis naskah tentang kenangan yang berkesan dengan guru. Sontak saya teringat dengan guru SD saya yang begitu lekat dalam ingatan. Akhirnya sebuah buku pun bisa terwujud pada momen suka cita memeriahkan Hari Guru Nasional, 25 Nopember 2016. Tulisan tentang guru oleh guru, sungguh menjadi karya monumental bagi saya.
Membayangkan menulis sebuah buku tentu bukanlah angan-angan saya seorang. Banyak orang ingin bisa menulis untuk mengabadikan gagasan pada sebuah wadah yang tentunya akan bisa dibaca oleh orang lain. Tak terkecuali alumni Kelas Menulis Media Guru. Saling memberi semangat secara daring menghiasi perjalanan dalam menulis naskah buku antologi tersebut. Bagaimana tidak kami dijatah hanya satu pekan untuk menyelesaikan naskah masing-masing.
Tak terbayang bagaimana para pemula dalam kepenulisan buku ini berjibaku untuk bisa menyelesaikan naskah sesuai dangan tenggat waktu. Waktu satu pekan pun menyaring 44 orang penulis yang ambil bagian dalam buku yang diberi judul Terima Kasih Guru. Sebuah karya yang akan menjadi titik awal bagaimana menulis dan menerbitkan sebuah buku. Sungguh pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan juga 33 orang lainnya. Inilah sebuah pembuktian bahwa menulis harus dilatih dan diasah terus menerus tanpa henti. Pengalaman pertama ini seolah candu yang mebuat ketagihan untuk menulis buku berikutnya.