News Ticker

TERIMA KASIH GURU GALAK

By Agus Khairi - Monday, July 17, 2017 2 Comments
Setelan baju polo dan celana training dengan sepatu ket dan tidak lupa peluit dengan tali merah melingkar di leher tergambar seketika saat Saya mencoba mengenang Bapak Guru yang satu ini. Seorang guru yang cukup memberikan kesan ketika menempuh sekolah untuk tingkat dasar. Dia akrab di panggil dengan Pak Toyib.
Pak Toyib adalah seorang guru olah raga di SDN Pungkang (sekarang SDN 2 Masbagik Timur-Lombok). Dia berasal dari Bima dan sudah bertugas di SD tempat saya sekolah. Oleh siswa dan alumni SD bahkan masyarakat di sekitarpun lebih mengenal Pak Toyib dengan Guru yang galak.
Seperti pada umumnya pelajaran olah raga kami dapatkan sekali seminggu sejak duduk di kelas pertama SD. Sejak itulah saya sudah mengenal Pak Toyib, seorang guru olah raga yang cukup disegani atau lebih tepatnya ditakuti oleh siswa utamanya siswa kelas tinggi. Bagaimana tidak, Pak Toyib terkenal dengan kegalakannya terhadap siswa yang tidak disiplin suka bolos dan jarang masuk.
Sampai kelas dua kesan yang timbul di hati saya hanyalah guru galak. Tentu cukup menakutkan bagi saya dengan kesan tersebut. Sehingga setiap pertemuan saat pelajaran olah raga hal itu terus membayangi. Namun kesan tersebut mulai mulai sedikit berkurang saat saya duduk di kelas 3. Hal itu lantaran saya dan teman-teman kelas harus bertemu rutin dengan Pak Toyib setiap hari di kelas. Pak Toyib harus mengisi kelas kami setiap hari sebagai guru pengganti. Dia menggantikan Guru kelas saya yang pada saat itu tidak bisa masuk mengajar karena sakit yang cukup parah. Sehingga Pak Toyib sebagai satu-satunya guru yang tidak menjadi guru kelas ditugaskan untuk menjadi guru kelas saya.
Setiap hari saya dan teman-teman di kelas tiga harus bertemu dengan Pak Toyib. Tidak hanya diajarkan olah raga tetapi juga pelajaran yang lain. Berbagai pengetahuan terus diajarkan kepada saya dan teman-teman. Kesan baik yang mulai tertanam di hati saya semakin tumbuh seiring dengan pertemuan setiap hari dengan pak Toyib. Walaupun kerap mendapat hukuman dari Pak Toyib atas kelakuan yang tidak disiplin, misalnya tidak membersihkan kelas dan halaman. Hukuman berupa berdiri di lapangan dengan satu kaki di angkat merupakan salah satu yang diterapkan oleh Pak Toyib. Hal ini cukup membuat jera sehingga saya dan teman-teman tidak berani meninggalkan tugas membersihkan kelas dan halaman.
Hukuman dari Pak Toyib bukanlah satu-satunya hal yang masih membekas di benak saya. Ada satu peristiwa yang sampai sekarang tidak terlupakan. Peristiwa tersebut bermula dari satu pelajaran berhitung yaitu menghafal perkalian 1 sampai dengan 10. Secara bertahap kami mulai menghafal perkalian di rumah dan maju ke depan kelas untuk menghafal secara bergantian. Demikian seterusnya sampai Saya pun bisa menghafal perkalian 1-10 dengan lancar. Sangat membanggakan pada saat itu bisa menyelesaikan tugas dari Pak Toyib dan mengungguli teman-teman yang lain.
Pada suatu hari ketika sedang berbincang-bincang di dalam kelas yang pada saat itu kosong karena Pak Toyib tidak masuk ke kelas saya. Tiba-tiba ada seorang teman dari kelas 4 datang dan mengatakan bahwa Pak Toyib memanggil saya dan slah seorang teman ke kelas 4. Saya bertanya-tanya ada apakah gerangan, begitu juga dengan teman-teman saya. Akhirnya saya berangkat ke kelas yang dimaksud yang agak jauh dengan kelas saya karena masing-masing terletak pada ujung bangunan sekolah saya.
Sampai di kelas 4 saya langsung diperkenalkan oleh Pak Toyib. Saya terheran-heran karena pada saat itu di depan kelas sudah ada beberepa siswa yang berdiri. Rasa penasaran asya terjawab setelah pak Toyib meminta saya untuk menunjukkan hafalan saya tentang perkalian. Ternyata kelas 4 saat itu masih banyak yang tidak hafal perkalian, persisnya saya lupa namun seingat saya di atas perkalian 2. Saya pun kemudian beraksi dan mulai menunjukkan hasil hafalan saya.
Rasa gugup sekaligus bangga bercampur saat menghafalkan perkalian di depan kelas 4. Saya bisa menyelesaikan apa yang diminta oleh Pak Toyib walaupun agak terbata-beta karena sedikit gugup. Setelah itu saya disuruh untuk kembali ke kelas.
Sesampainya di kelas, teman-teman pun bertanya-tanya tentang pemanggilan itu dan dijawab oleh teman yang tadinya ikut dengan saya. Setelah mengetahui perihal pemanggilan itu mereka menyampaikan. Mendapat pujian dari teman-teman membuat saya merasa senang sekali. Hasil hafalan selama berhari-hari dapat ditunjukkan kepada guru dan bahkan kakak kelas.
Permintaan Pak Toyib untuk tampil di depan kakak kelas merupakan pujian sekaligus pengakuan buat saya. Pujian guru merupakan suatu penghargaan yang luar biasa bagi siswa. Hal itu sangat ampuh untuk memberikan dorongan semangat baik kepada saya pribadi, teman-teman kelas maupun siswa di kelas 4. 
Apa yang saya raih pada saat itu tentunya tidak lepas dari peran Pak Toyib, seorang guru galak yang telaten mengajar, membimbing dan memberikan semangat kepada saya dan teman-teman. Seorang guru pengganti yang mengisi hari-hari belajar kami selama satu tahun pelajaran. Bermula dari rasa takut hingga menjadi terbiasa dengan perlakuan Pak Toyib yang sangat disiplin. Begitu besar jasanya kepada saya dan teman-teman yang saat itu tidak bisa diajarkan oleh guru kelas yang seharusnya megajar di kelas kami.
Jasa pak Toyib tidak akan pernah terlupa begitu pula dengan guru-guru yang lain sehingga membuat saya sampai pada sekarang ini. Terima kasih Pak Toyib, terima kasih Pak Guru Galak.

2 comments to ''TERIMA KASIH GURU GALAK"

ADD COMMENT

Tinggalkan jejak di sini