News Ticker

MEDIA SOSIAL, KAUM MILENIAL DAN DEMOKRASI

By Agus Khairi - Sunday, September 23, 2018 No Comments
Melihat pemilu pada tahun 2014 lalu dapat dikatakan bahwa keterlibatan kaum milenial (baca: kaum muda) pada pesta demokrasi cukup signifikan. Selain keterlibatan secara electoral dalam pemilihan di bilik suara namun juga dengan keterlibatan saat kampanye. Dengan angka 11 persen dari toal pemillih 186 juta (Kompas, 2014) menunjukkan banyaknya pemilih pemula atau kaum milenial yang memilih. Ini tidak lepas dari peran penyelenggara yang terus mendorong agar partisipasi pemilih pemula terus meningkat.
Melihat partisipasi kaum milenial di pemilu 2014 bisa menjadi gambaran untuk keterlibatan pemilih di pemilu 2019 mendatang. Hiruk pikuk kaum milenial terlihat dari penggunaan media sosial untuk kampanye calon legislative maupun presiden. Tidak jarang terjadi perdebatan yang sengit di media sosial, dan berujung pertengkaran. Tetapi juga tidak jarang membuka ruang diskusi yang mendidik bagi pengguna media sosial. Tentunya ini situasi yang perlu diarahkan agar betul-betull bisa menjadi pendidikan politik bagi pengguna media soail yang didominasi oleh kaum milenial. Sehingga mereka tidak abai dengan kondisi negaranya sendiri.
Pasca reformasi memang dapat dilihat perkembangan media massa menjadi alat control yang dapat digunakan untuk menilai kebijakan pemerintah. Apalagi kran media dibuka selebar-lebarnya oleh pemerintah agar media massa bisa menjalankan fungsinya sebagai salah satu pilar demokrasi. Orang bisa menngkritik pemerintah dengan leluasa di media, sehingga sangat efektif juga untuk penggalangan opini public.  
Dalam ruang demokrasi tentu ini sangat menggembirakan, mengingat ide dan gagasan kaum milenial bisa jadi jarang muncul di atas kertas. Media sosial inilah yang bisa menjadi corong untuk mereka mengeluarkan ide, gagasn dan harapan terhadap para calon pemimpin yang akan ikut dalam kontestasi pilcaleg dan pilpres. Apa lagi dengan kemajuan gawai dan sumber daya manusia saat ini, diperkirakan pemilu 2019 akan menjadi perang grafis, informasi akan banyak beredar dalam bentuk gambar-gambar atau meme. Di sinilah dibutuhkan daya kritis (critical thinking) para pengguna media sosial khususnya kaum milenial agar tidak terjebak dengan berita bohong (hoax). Karena ini akan menyebabkan iklim demokarasi yang tidak baik kalau media sosial dibanjiri dengan berita hoax. Akhirnya kaum milenial harus bersiap dengan daya kritis tinggi untuk menggunakan media sosial dalam alam demokrasi di negeri tercinta Indonesia ini.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6      

Tags:

No Comment to " MEDIA SOSIAL, KAUM MILENIAL DAN DEMOKRASI "

Tinggalkan jejak di sini