News Ticker

MEMBANGUN SEKOLAH/MADRASAH RAMAH ANAK #2

By Agus Khairi - Wednesday, September 19, 2018 No Comments

Unsur-unsur pemenuhan hak atas anak dalam pelaksanaan kurikulm dapat diatur berdasarkan masing-masing standar pendidikan yang ada. Pertama, dalam isi kurikulum, dimuat kerangka dasar dan muatan kurikulum dengan konsep perlindungan anak. Beban belajar serta kalender pendidikan mempertimbangkan hak dan kepentingan bagi anak sebagai peserta didik. Belajar bukan berarti harus merampas hak-hak anak selain pendidikan, misalnya bermain dan pengembangan bakat serta minat.
Kedua, proses pelaksanaan kurikulm menjadi sangat penting dalam mewujudkan S.M-RA. Sekolah/madrasah harus menjalankan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak yaitu bermain. Guru sebagai fasilitator di dalam kelas harus menerapkan metode atau model pembelajaran yang menyenangkan. Dalam perkembangan model pembelajaran dewasa ini dikenal dengan Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan (PAIKEM).
Ketiga, menerapkan standar yang menjadi bagian dari syarat kelulusan yang tidak hanya mengacu pada nilai kognitif yang berupa angka saja. Sekolah/madrasah perlu menyusun lebih rinci standar tersebut berdasarkan konsep budi pekerti atau karakter yang ada dalam Kompetensi Inti (KI) pada tiap mata pelajaran. Sehingga tersusun standar kelulusan yang mengcau pada pencegahan tindakan kekerasan oleh anak serta meningkatkan pengamalan budi pekerti luhur di lembaga pendidikan.
Keempat, sarana dan prasarana tidak kalah penting dalam mendukung mewujudkan S/M-RA. Lembaga pendidikan mengupayakan sarana dan prasarana dapat mendukung proses menciptakan S/M-RA. Kondisi lingkungan disesuaikan dengan dunia anak dengan tersedianya fasilitas bermain dan olah raga. Alat-alat permainan dan olah raga ini tentunya tetap mengacu kepada tujuan pendidikan bagi anak. Perpustakaan dan/atau koleksi buku untuk mendukung proses pembelajaran yang mengacu pada Model PAIKEM.
Kelima, guru yang termasuk dalam salah satu standar pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting dalam S/M-RA. Bagaimana tidak, guru adalah penggerak dari keseluruhan konsep yang ada dalam Kurikulum yang akan diterapkan. Oleh karena itu, sangat penting guru memahami tugasnya yang sudah diatur dalam tugas pokok dan fungsinya. Kemampuan pedagogy harus dikuasai dengan baik agar faham tentang perkembangan peserta didik. Dengan demikian tidak ada lagi kasus kekerasan yang melibatkan guru seperti yang banyak diberitakan oleh media.
Selain lima hal di atas, lembaga pendidikan juga bisa melakukan kerja sama dengan pihak terkait. Kerja sama dilakukan agar program yang dijalankan bisa optimal dan berterima oleh warga sekolah/madrasah serta masyarakat luas, utamanya wali murid. Pihak yang dapat diajak kerja sama adalah dinas di daerah yang menangani perlindungan anak, dalam beberapa daerah biasanya tergaung dalam Dinas yang menangani Perempuan dan Keluarga Berencana. Selain itu juga ada Lembaga Perlindungan Anak di tiap-tiap daerah Kabupaten maupun Provinsi sebagai perpanjangan tangan KPAI. Kerja sama bisa dilakukan dalam hal pembinaan dan sosialisasi terhadap warga sekolah/madrasah maupun wali murid serta masyarakat secara luas.
Pada intinya dalam mewujudkan S/M-RA bukan berarti sekolah/madrasah akan merasa terbebani oleh syarat-syarat khusus yang melekat dengan istilah ramah anak. Namun lebih kepada bagaimana merancang apa yang sudah ada di dalam kurikulum sekolah/madrasah itu sendiri. Tentunya dengan lebih mempertegas ide pemenuhan hak atas anak tanpa harus ada kurikulm khusus yang bisa memberatkan baik secara materi maupun muatan kurikulum. Sehingga tidak ada alasan untuk sekolah/madrasah tidak ramah anak.     

   

No Comment to " MEMBANGUN SEKOLAH/MADRASAH RAMAH ANAK #2 "

Tinggalkan jejak di sini