Category 7

News Ticker

Latest Posts

TERIMA KASIH PJ

- Tuesday, October 30, 2018 2 Comments

Mengungkapkan gagasan melalui tulisan memang tidaklah mudah karena mempunyai kaidah dan aturan tertentu. Oleh karenanya belajar teori dan praktiknya menjadi hal yang sangat penting bagi yang ingin bisa menulis. Latihan terus menerus juga menjadi kegiatan yang harus dilakukan agar bisa mengasilkan tulisan yang baik dan bermutu. Salah satu media yang bisa digunakan untuk berlatih menulis adalah blog pribadi. Melalui blog ini kita bisa menuangkan segala gagasan kita tentang apa saja dalam kehidupan sehar-hari dalam bentuk tulisan.
Kendala yang dihadapi oleh orang yang ingin bisa menulis dan/atau menjadi blogger (baca: narablog) adalah konsistensi untuk bisa tetap menulis. Harus ada paksaan dari dalam diri maupun dari luar agar bisa tetap menulis untuk menjadi latihan. Melalui sebuah komunitas hal ini bisa kita usahakan agar bisa terlatih istiqomah menulis. Komunitas One Day One Post (ODOP) adalah salah satu komunitas yang bisa diandalkan. Saya mengenal komunitas ini melalui teman yang juga seorang penulis. Saya ikut seleksi masuk komunitas ini dengan harapan bisa istiqomah menulis.
Apa yang saya harapkan akhirnya bisa terpenuhi dalam komunitas ini. Setiap hari harus menulis dan setiap minggu ada tantangan yang harus diselesaikan. Ini sangat memacu saya untuk treus menggali ide dan mengasah kemampuan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Materi kepenulisan pun banyak dibagikan oleh penulis-penulis alumni ODOP. Dan saya sebentar lagi semoga bisa menjadi alumni ODOP Batch 6. Kesemuanya itu tidak lepas dari para Penanggung Jawab (PJ) yang sudah membantu mengatur group besar maupun kecil sehingga system yang ada bisa berjalan dengan baik. bisa dibayangkan sibuknya para PJ ini mengatur system yang ada sehingga menghantarkan beberapa yang masih bertahan untuk menjadi alumni. Kesibukan sudah pasti tinggi mengingat para PJ juga punya kesibukan pribadi selain mengurus ODOP Batch 6.
Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan banyak terima kasih kepada para PJ yang sudah bertugas mengatur ODOP Batch 6 sehingga bisa berjalan sesuai dengan hajatan para pendirinya. Dan tidak terasa sudah memasuki hari-hari terakhir dan tentunya ini berkat kerja keras para PJ. Dedikasi yang tinggi sudah dicurahkan dan kami para peserta tidak tahu harus membalas dengan apa. Karena komunitas ODOP ini tanpa dipungut biaya sepeserpun. Sudah barang tentu para PJ juga mengemban tugas dengan ikhlas hati. Sekali lagi terima kasih tak terhingga saya sampaikan kepada pada PJ atas dedikasi yang tinggi ini. Semoga ini bisa menjadi pengabdian kepada sesame manusia khususnya bangsa Indonesia agar literasi bangsa ini semakin meningkat dan pada akhirnya akan menaikkan daya saing bangsa. TERIMA  KASIH PJ.  

#TantanganODOP6
#SuratUntukPJ

PEREMPUAN REPUBLIK

- No Comments
Sumber: goodreads

Judul Buku                  : LARASATI
Pengarang                   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                       : Lentera Dipantara
Tahun terbit                 : 2003
ISBN                           : 9789799731296

“Kalau mati dengan berani; kalau hidup denganberani.
Kalau keberanian tidak ada-itulah sebabnya setiap bangsa asing bisajajah kita.”
--Pramoedya Ananta Toer

Pasca proklamasi kemerdekaan Indoensia bukan berarti perjuangan berhenti sampai di sini. Perjuangan pembebasan dari kungkungan kolonialisme (Penjajahan) yang disebut revolusi masih terus dikobarkan. Bagaimana tidak, pasca Jepang ditaklukkan oleh pasukan sekutu maka nusantara berpindah tangan dari Jepang ke Sekutu. Maka, pasukan sekutu datang ke Nusantara dengan melancarkan agresi militer dan menduduki berbagai tempat strategis di pulau Jawa, termasuk Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik yang baru seumur jagung.
Di tengah berlangsungnya perjuangan revolusi mempertahankan republik yang muda belia ini, banyak pergolakan yang terjadi. Tentunya kontak senjata dengan tentara colonial tidak bisa dielakkan lagi. Segala keterbasan yang ada tentu menjadi salah satu penyebab pasukan Republik bersama rakyat menderita banyak kekalahan di antara banyak kemenangan kecil yang bisa diraih. Salah satu kekelahan yang cukup telak adalah jatuhnya pusat pemerintahan Republik yaitu Jakarta ke tangan pasukan Kolonial. Sehingga memaksa pusat pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta.
Mengambil latar waktu masa revolusi inilah, Pramoedya Ananta Toer mencoba menggambarkan gejolak yang terjadi. Melalui sudut pandang seorang Artis, Bintang Film terkenal saat itu, Larasati, Pram mencoba menghadir kan suasana yang terjadi antar individu yang pro terhadap revolusi dan yang kontra. Dengan menghadirkan Ara, sapaan akrab Larasati, sebagai tokoh utama dalam cerita ini, digambarkan pertentangan yang terjadi antar individu tersebut. Dengan latar yang mengambil tempat di pusat pemerintahan yang dikuasai oleh pasukan kolonial, Jakarta, drama mengharukan tersaji melalui kisah heroic para pemuda, dan tentunya gejolak padajiwa Aras ebagai artis yang masih sangat kuat mendukung revolusi namun harus berhubungan dekat dengan para kaum oportunis inlandder yang berpihak kepada penjajah hanya untuk kepentingan perut mereka sendiri.
Dimulai dengan perjalanan Ara untuk pindah dari daerah pedalaman-Yogyakarta- menuju Jakarta, cerita ini menggambarkan bagaimana kisah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan di setiap daerah. Dalam perjalana nmenggunakan kereta api banyak tentara yang mengenal bintang film Ara, dan mereka sempat bertegur sapa walaupun hanya sebentar saja. Memang, Ara terkenal baik di kalangan pasukan Republik maupun di kalangan pasukan penjajah. Berbekal surat pengantar dari salah seorang perwira bernama Oding, Ara bisa masuk ke Jakarta tanpa hambatan dan bertemu dengan kenalan lama yang bernama Mardjohan dan Kolonel Serjo Sentono. Kedua orang oportunis ini mengajak Ara untuk membuat film yang bertujuan untuk propaganda Belanda, namun ditolak oleh Ara dengan tegas karena bertentangan dengan revolusi, semangat yang dijunjung tinggi dan terpatri dalam sanubarinya sebagai orang Republik.
Dengan terang benderang, cerita ini menggambarkan betapa semangat revolusi tidak hanya mengakar kuat pada kalangan pasukan saja, namun setiap insan yang berada di Nusantara dan merasakan kejamnya penjajahan. Inilah yang dialami oleh Ara, seorang bintang film pun bisa berbuat untuk revolusi dengan caranya sendiri. Apalagi pemuda yang masih punya tenaga yang cukup untuk mengangkat senjata. Hal ini digambarkan dengan apik dalam cerita ini di mana sekelompok pemuda tetap berjuang melakukan penyerbuan-penyerbuan kecil terhadap pasukan patrol Belanda namun cukup memberikan efek yang berarti bagi pasukan Belanda. Dengan berani Ara pun sempa tterlibat dalam satu pertempuran dengan para pemuda tersebut melawan pasukan patroli yang melintasi kampung di mana Ibu dari Ara tinggal. Dalam pertempuran tersebut juga terlibat seorang pemuda yang bernama Martabat, yang menyelamatkan Ara dari Mardjohan dan Sentono dan membawa ke kampung ibunya. Pemuda ini berniat menuju pedalaman Yogya untuk bergabung dengan para pejuang Republik, akhirnya terwujud dengan bantuan dari Ara. Penduduk kampung yang sebagian besar kakek-nenek tidak ketinggalan dalam perjuangan revolusi, merekalah yang merawat para pemuda yang terluka dan mengurus yang gugur akibat pertempuran.
Kampung di mana Ibu Ara tinggal merupakan sebuah kampung kumuh namun menjadi tempat persembunyian para pemuda yang tetap gencar melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap pasukan Belanda. Di sinilah akhirnya Ara, tertahan dalam kurun waktu yang cukup lama demi keselamatan ibunya. Adalah seorang Arab bernama Jusman, majikan di mania bunya bekerja sebagai babu, yang menahan ibunya agar Ara mau datang dan tinggal di rumahnya. Jusman merupakan seorang Arab yang berpihak kepada Belanda namun mencintai Ara. Dengan alasan untuk bermain gambus, Ara diajak untuk bergabung pada awalnya. Akhirnya Ara tinggal bersama Jusman sebagai perempuan simpanan tanpa dinikahi secara sah.
Seiring dengan gencarnya perlawanan dari pasukan Republik, akhirnya pasukan Belanda, NICA, terdesak sehingga Jusman pun pergi dari Jakarta untuk menyelamatkan diri. Tentunya ini menjadi keuntungan bagi Ara yang bisa bebas dari kungkungan Jusman. Dengan demikian, Ara bisa keluar dari rumah tersebut dan pada akhirnya bertemu dengan Kapten Oding, seorang perwira yang dicintainya. Dengan pria ini Ara menikmati suasana kemenangan pasukan Republik melalui perjuangan revolusi.
Walaupun berupa fiksi, cerita Larasati bisa menggambarkan bagaimana situasi saat itu berdasarkan pengalaman pengarangnya yaitu Pram. Terlihat jelas bahwa semangat revolusi begitu kuat dalam diri anak bangsa yang punya harapan terhadap Republik. Bahkan para seniman pun terlibat dalam propaganda menentang penjajah dengan keahlian mereka masing-masing. Tentu tidak jarang mereka mendapatkan tindakan represif dari penajajah dan ancaman kelaparan karena kurangnya pekerjaan bagi para seniman progresif seperti Ara d an teman-temannya. Sebaliknya, tindakan yang kontra revolusi pun tidak kalah besarnya dari kaum oportunis anak negeri yang hanya mencari keuntungan sendiri. Begitu juga pada kalangan tokoh tua, yang digambarkan melalui pandangan tokoh utama dan tokoh lainnya, yang memandang para tokoh tua yang kadang juga berlaku korup. Tidak peduli dengan gerakan yang dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok kecil yang mendukung revolusi.

Buku ini layak untuk dibaca karena menghadirkan drama yang menarik kaitannya dengan perjuangan revolusi. Diceritakan dari sudut pandang seorang perempuan yang begitu gigih bertahan demi revolusi. Cerita ini tidak kental dengan suasana politis yang kerap tergambar dari cerita-cerita tentang perjuangan revolusi yang lain. Namun menghadirkan cerita apik yang begitu menyentuh hati bagi yang membacanya. Dengan membaca buku ini semakin menguatkan pandangan bahwa Pramoedya Ananta Toer memang layak disebut sebagai penulis yang cakap dalam menulis novel atau roman dengan latar belakang sejarah.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6          

KEKUATAN SEBUAH TULISAN: SYAIR WIJI THUKUL

- No Comments

Berbeda dengan Soekarno yang menulis pledoi yang berisikan pandangannya atas tatanan dunia yang dikuasai imperialisme, penyair Wiji Thukul memberikan kritik pedas terhadap pemerintahan orde baru melalui bait-bait puisi. Puisi-puisi karya penyair dari Solo ini sangat membakar dan membangkitkan semangat perlawanan di kalangan aktifis mahasiswa. Syair-syair yang membakar ini dibacakan dalam demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh kalangan gerakan ’98. Begitu membakarnya syair-syair yang berisi ketimpangan pada jaman itu, tidak terpisahkan dari upaya menggalang gelombang aksi mahasiswa untuk menjatuhkan rezim orde baru. Walaupun pada akhirnya, sang penyair harus mengasingkan diri lantaran diburu oleh alat rezim saat itu. Dapat dilihat bagaimana ketakutan rezim terhadap tulisan dalam bentuk syair puisi oleh Wiji Thukul tersebut sehingga timbul tindakan represif dari aparat.
Dari dua contoh yang dikemukanan di atas, cukuplah kiranya untuk dijadikan rujukan bagaimana tulisan mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat. Akibat yang ditimbulkan mampum emberikan dorongan bagi perubahan dalam negara maupun dunia, paling tidak dalam bentuk perubahan pemikiran atau cara pandang terhadap realitas yang ada. Apa yang terjadi di sekitar mereka pada jaman itu dituliskan dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing duapenulis tersebut. Kenyataan yang ada dipertentangkan dengan keadaan yang seharusnya didukung dengan teori dari literatur yang merekabaca. Kemudian diungkapkan dengan bertutur lewat tulisan yang menggemparkan.

Lalu bagaimana dengan insan akademis baik yang masih belajar di kampus maupun alumni yang seharusnya akrab dengan dunia tulis menulis? Kekuatan bisa ditunjukkan melalui tulisan tentang apa saja keresahan di pikiran, sehingga bisa memberikan dorongan untuk perubahan kearah yang lebih baik. Banyak hal yang bisa menjadi bahan tulisan di sekitar kita, tinggal bagaimana kita olah dalam bentuk ide dalam tulisan agar bisa dibagikan kepada orang lain. Dua orang tokoh di atas bisa mendorong perubahan bukan karena dipandang sebagai orang besar yang kemudian melahirkan tulisan, justru dari tulisan merekalah yang membuat nama besar mereka. Jadi jangan menunggu menjadi orang besar baru menulis untuk melakukan perubahan, namun kekuatan tulisanlah yang bisa mendorong perubahan. Karena sejatinya tulisan menyimpan kekuatan yang sangat besar.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6          

KEKUATAN SEBUAH TULISAN: PLEDOI BUNG KARNO

- No Comments
sumber: mugiwara

Tidak berlebihan kiranya kala mengatakan tulisan mempunyai kekuatan yang dahsyat dan menimbulkan dampak yang luar biasa. Dampak dimaksud utamanya kepada pembaca kemudian menjalar kemasyarakat luas. Dari sebuah tulisan mampu diciptakan perubahan pada lingkungan sekitar bahkan sebuah negara pun akan mampu dirubah dimulai dengan tulisan. Dalam berbagai perubahan di banyak negara tidak terlepas dari dampak tulisan.
Melihat bagaimana kekuatan pada tulisan memberikan dampak terhadap perubahan bisa kita telaah dua contoh dari tulisan tokoh yang berbeda latar belakang dan jaman yaitu Soekarno dan Wiji Thukul. Soekarno adalah seorang orator ulung yang pernah dimiliki oleh Bangsa Indonesia yang tentunya sudah terkenal seantero Indonesia Raya. Walaupun Bung Karno, dikenal dengan pidato-pidatonya yang menggemparkan, namun tidak sedikit pidato tersebut ditulis dalam bentuk konsep pidato yang kemudian dibacakan. Yang kedua adalah seorang penyair yang akhir-akhir ini terkenal kembali lantaran kisahnya dibuat dalam bentuk film yang berjudul “Istirahatlah kata-kata”. Keduanya mempunyai latar belakang keahlian dan karya yang berbeda namun mempunyai satu kesamaan dalam mempengaruhi orang lain melalui kekuatan tulisan.
Tulisan Bung Karno yang sangat menggemparkan itua dalah pledoi (pembelaan) yang dibacakan pada persidangan di Landraad, Bandug padatahun 1930. Pledoi yang sangat terkenal tersebut diberi judul “Indonesia Menggugat”. Dalam tulisan ini Bung Karno menyampaikan sidang yang bertujuan untuk membungkam gerakan rakyat yang mulai tumbuh untuk menentang kolonialisme Belanda pada saat itu. Kemudian dalam tulisan ini juga disampaikan tentang Kapitalsme dan Imperialisame yang menjadi penyebab dijajahnya Indonesia pada jaman itu.
Dalam tulisan yang dibacakan pada pidato pembelaan itu, Bung Karno melancarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Kolonial Belanda kala itu. Kritik pedas Soekarno ditujukan terhadap ketimpangan yang diakibatkan oleh kolonialsme yang berlangsung di Bumi Nusantara. Tidak semata melakukan pembelaan atas dirinya pada sidang tersebut, tetapi juga membela masyarakat yang tersebar di nusantara yang terkena dampak kekejaman kolonialis Belanda. Tidak hanya menggugat Belanda, namun juga lewat pledoi tersebut Soekarno menggugat dunia internasional yang didominasi oleh imperialisme (penjajahan gaya baru). Oleh karena itulah tulisan pledoi tersebut begitu fenomenal dan mendunia.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6          

DISIPLIN KARENA NOMOR

- No Comments

Sumber: sindonews.com

Sudah jamak ditemukan bahwa pada fasilitas pelayanan publik akan ada antrean masyarakat yang akan mendapatkan layanan. Tidak jarang antrean ini akan memanjang karena banyaknya masyarakat yang menunggu untuk dilayani. Fasilitas umum seperti Bank, Pelayanan Pajak Kendaraan (SAMSAT), Bank, dan instansi pemerintah untuk pelayanan administrasi kependudukan mauoun perizinan tidak luput dari antrean masyarakat. Biasanya agar antrean ini tertib maka diatur sedemikian rupa baik dengan nomor antrian maupun berbaris berdasarkan waktu kedatangan. Hal ini sesuai dengan pengertian dari antre sendiri menurut KBBI, yaitu berdiri berderet-deret ke belakang menunggu untuk mendapat giliran. Deretan inilah kemdian yang disebut dengan antrean. Penggunaan nomor antrean ini biasanya bisa membuat masyarakat tertib menunggu karena akan menunggu nomornya disebut. Bagaimana kalau tidak menggunakan nomor antrean? Siapa yang datang lenih awal akan mendapatkan layanan terlebih dulu, namun kadang ini sulit dilaksanakan lantaran budaya antre masyarakat belum terbina dengan baik.
Kejadian terkait budaya antre ini sering saya temukan pada Bank atau fasilitas umum lainnya yang tidak menggunakan nomor antrean. Beberapa hari lalu saat akan mengganti kartu ATM di sebuah Bank di mana saya biasa transaksi keuangan, terlihat betul budaya antre ini bekum semua masyarakat punya. Pada antrean Customer Service (CS) ada beberapa orang yang menunggu giliran, ada dua orang CS yang melayani. Ketika masuk saya melihat masih ada dua orang yang dilayani dan satu orang remaja putri yang menunggu. Saya kemudian menunggu di bangku belakang, deretan kedua dari depan, begitu juga si remaja putri. Lalu datanglah seorang ibu yang duduk di deretan bangku pertama lantaran kosong. Beberapa saat kemudian bangku CS yang kedua kosong, si Ibu langsung duduk di kursi untuk mendapatkan layanan. Dalam hati saya menggerutu melihat tingkah si Ibu karena seharusnya remaja putri inilah yang akan dapat giliran. Namun tanpa memperhatikan nasabah yang lain si Ibu langsung maju, dan remaja putri pun belum bisa dilayani. Saya kemudian maju ke bangku kosong di deretan pertama untuk meunggu giliran, setelah si Ibu selesai saya memberikan isyarat agar si remaja putri maju duluan kaena memang sebenarnya dialah yang akan dapat giliran terlebih dulu dari saya karena lebih awal datang. Hal ini juga sepertinya uput dari CS yang ada maupun pengaturan ari Bank sendiri yang tidak berjalan dengan baik. Namun seharusnya tanpa ada pengaturan pun seharusnya si Ibu tadi paham betul terkait dengan budaya antre ini sehingga tidak terjadi perebutan giliran seperti tadi.
Kejadian yang saya alami tadi masih dalam lingkup yang sangat kecil, namun cukup membuat jengkel dan membuat hak orang lain terbengkalai. Di negeri ini sudah banyak dampak yang sangat fatal yang diakibatkan oleh budaya antre masyarakat kita yang belum terbentuk dengan baik. Beberapa kejadian akibat antre yang tidak baik mengakibatkan jatuhnya korban meninggal saat menunggu layanan. Kejadian ini kemudian tidak jarang ditimpakan kesalahannya pada penyelenggara karena dianggap lalai. Kesemuanya ini tidak akan terjadi apabila budaya dan disiplin antre ini sudah terbentuk dan mendarah daging di dalam pribadi masyarakat kita  Indonesia tercinta ini. Karena budaya masyarakat yang tinggi bisa menjadi gambaran derajat martabat suatu bangsa. Dan kita ingin martabat bangsa Indonesia terangkat agar sama dengan bangsa-bangsa di dunia, bahkan bisa lebih tiinggi dari bangsa yang lain. Oleh karenanya mari pupuk disiplin dan budaya antre ini di kalangan masyarakat Indonesia agar bangsa Indonesia dipandang sebagai bangsa yang bermartabat. SEMOGA.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6     

MENGUNJUNGI MASA DEPAN ALA BANG ZUL

- Friday, October 26, 2018 No Comments

Ada kalimat menarik yang membuat saya tertegun dan membenarkan saat membaca berita di Kanal Humas Pemerintah Provinsi NTB hari ini Kamis tanggal 25 Oktober 2018. Kalimat itu adalah kutipan dari penyampaian Bang Zul, sapaan akrab Gubernur NTB yang baru sebulan dilantik, pada acara diskusi public di Gedung Nusantara 1 Kompleks Gedung DPR RI Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu, seperti disampaikan di berita tesebut bahwa para pemuda Indonesia harus terus mengembangkan diri, agar mampu mendesain masa depan bangsa Indonesia. Menurutnya, untuk bisa mendesain masa depan tersebut maka pemuda Indonesia harus mengunjungi masa depan terlebih dahulu.
Frasa “mengunjungi masa depan terlebih dahulu” langsung melambungkan angan saya dengan cerita-cerita film yang pernah saya tonton. Film tersebut banyak memuat cerita tentang tokoh yang bisa menembus masa depan dengan mesin waktu. Maka demikianlah pemikiran yang terlintas sesaat ketika membaca frasa tersebut. Namun setelah melanjutkan membaca tulisan tersebut maka imajinasi saya berubah menjadi kekaguman dengan pemikiran tersebut. Semakin tertegun dengan dan seklai lagi membenarkan gagasan yang disampaikan. Bang Zul melanjutkan dengan kalimat seperti ini, “Cara mengunjungi masa depan adalah dengan merasakan hidup di negara-negara maju. Di Barat seperti di Eropa, Belanda”. Ya memang benar, demikianlah cara yang tepat untuk mengunjungi masa depan, datang ke negara-negara maju lewat belajar maupun studi banding di sana. Hal ini sejalan dengan program yang akan dijalankan oleh Gubernur ini untuk Pemuda NTB, 1000 mahasiswa tiap tahun akan dikirim ke luar negeri akan menjadi langkah yang sangat tepat untuk mengunjungi masa depan terlebih dahulu demi NTB.
Meniba ilmu di luar negeri memang sudah bukan menjadi hal baru bagi anak bangsa di negeri ini. Sejak zaman sebelum merdeka tidak sedikit pemuda di Negeri ini yang belajar di luar negeri. Pun setelah kemerdekaan banyak pemuda yang dikirm ke luar negeri untuk belajar mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kebutuhan untuk membangun sebuah negeri. Sebut saja yang paling termasyhur saat itu adalah BJ Habibie yang kisahnya sampai dibuat film layar lebar. Sampai sekarang pun kegiatan mengirim mahasiswa belajar ke luar negeri ini masih berlanjut, melalui beasiswa pendidikan oleh Lembaga Pengelola Penddikan (LPDP) pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa yang ingin dan mampu belajar ke luar negeri. LPDP memang menjadi pilihan utama dan popular saat ini, namun tidak sedikit yang menerima beasiswa dari lembaga maupun pemerintah luar. Tentunya kesemuanya ini menjadi program yang sangat baik untuk menyiapkan generasi yang akan mempersiapkan dan menjalani masa depan Indonesia. Menjadi sangat baik lagi bagi Nusa Tenggara barat, sebuah provinsi yang belum tergolong daerah maju, ketika pemerintahnya berkeinginan kuat untuk mengirim pemuda dan mahasiswanya untuk belajar ke luar negeri. Tentunya ini sesuai dengan keinginan awal bahwa peemrintah ingin memberikan kesempatan kepada Pemuda dan Mahasiswa NTB untuk mengunjungi masa depan agar bisa menyiapkan dan merancang seperti apa masa depan Nusa Tenggara Barat yaitu NTB Gemilang.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6 

BERKARIR MELALUI BIDANG KREATIF

- Wednesday, October 24, 2018 1 Comment

Tidak bisa ditampik dalam masa sekarang ini bahwa dunia kerja membutuhkan kualifikasi akademik yang didapat dari bangku kuliah. Sehingga dorongan anak muda untuk mengenyam pendidikan tinggi adalah sebagai bekal untuk mencari kerja. Lapangan kerja yang disasar adalah yang berada di berbagai macam instansi milik pemerintah maupun swasta. Salah satu pekerjaan yang masih menjadi favorit masyarakat adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang baru-baru ini dibuka dan marak diserbu oleh para sarjana. Ribuan lulusan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia bersaing untuk mengisi formasi yang sesuai dengan kualifikasi akademik mereka. Bisa dipastikan satu formasi akan diperebutkan oleh ratusan bahkan ribuan pelamar, karena jumlah yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dari yang mengincar posisi tersebut.
Melihat fenomena di atas maka bisa dipastikan akan banyak yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan jika hanya mengejar PNS saja. Maka tidak jarang kemudian yang berpindah ke instansi swasta yang membutuhkan tenaga dan kualifikasi sarjana dengan semua jurusan. Namun ini tentu tidak bisa menampung banyak tenaga kerja mengingat angkatan kerja yang begitu banyak. Dalam kondisi ini maka langkah yang banyak dilakukan adalah mengembangkan kreatifitas sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh seseorang. Kreatifitas yang dimiliki dikembangkan menjadi usaha yang menghasilkan bahkan membuka lapangan kerja bagi orang lain. Dan tidak sedikit yang berhasil membuka usaha sendiri berdasarkan kreatifitas dan bakat yang dimiliki yang terkadang sangat jauh berbeda dengan kualifikasi akademik yang didapatkan di bangku kuliah.
Usaha yang berdasarkan kreatifitas sedang menjadi tren di era industri 4.0 ini yang membutuhkan kreatifitas tinggi serta dukungan digital dan juga otomasi. Dengan demikian maka kreatifitas yang ada tentunya butuh keahlian tambahan untuk mewujudkannya menjadi bisnis yang menghasilkan. Salah satu keahlian tambahan yang dibutuhkan adalah dalam bidang komputer, baik itu Design Grafis maupun Design Web. Keahlian tambahan ini bisa kita dapatkan dengan mengikuti kursus komputer di Lembaga Kursus. Salah satu tempat kursus komputer di Medan adalah Sanger Learning, dengan tiga jenis kelas yang ada akan memberikan kemudahan untuk mengikuti kursus yang diinginkan. Tiga jenis kelas yang dibuka di Sanger Learning adalah Intensive Class, Regular Class, dan Private Class. Peserta bisa menyesuaikan dengan kebutuhan sendiri untuk mengikuti salah satu jenis kelas yang ada.
Pada era Revolusi Industri 4.0 bisa dikatakan kreatifitas berbasis digital dan jaringan sangat dibutuhkan untuk dapat bersaing. Hal inilah kenapa pemerintah membentuk Badan Ekonomi Kretaif untuk memberikan pembinaan bagi kaum milenial yang berkiprah di bisnis dengan dasar bakat dan kreatifitas yang dimiliki. Sehingga diharapkan tidak hanya bergantung pada instansi pemerintah dengan menjadi PNS maupun menjadi karyawan di instansi swasta. Namun juga diharapkan agar mampu menciptakan peluang usaha sendiri dengan kreatifitas dan bakat yang dimiliki dan dilengkapi dengan kemampuan di bidang digital dan jaringan internet.  

#TantanganODOP6
            #onedayonepost
#odopbatch6

#nonfiksi

Memilihmu

- Tuesday, October 23, 2018 8 Comments


Aku memilihmu bukan tiba-tiba
Memilihmu tidak dalam hitungan pekan apa lagi hari
Tidak juga dalam waktu sekejap mata
Butuh waktu berselang demi menetapkan hati

Aku memilihmu bukan karena paras semata
Karena cantikmu tidak  hanya rupa wajah dan tubuh
Cantik budi dan hati yang utama
Bagiku cantikmu adalah utuh

Aku memilihmu bukan untuk waktu yang berbatas
Bukan pula untuk sepanjang usia
Sungguh aku memilihmu untuk waktu yang tak terbatas

Waktu yang pada akhirnya nanti melintasi batas dunia

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

TENTANG IKHTIAR SEORANG PENUNTUT ILMU

- Monday, October 22, 2018 1 Comment

Malam minggu kemarin saat berkunjung ke Madrasah tempat saya mengajar untuk mengawasi kegiatan pelantikan anggota Pramuka, saya bertemu dengan alumni MTs NW Tanak Maik. Alumni ini adalah dulunya seorang siswa yang aktif dan berprestasi di Madrasah. Setelah selesai di MTs dia langsung melanjutkan ke Madrasah Aliyah yang masih satu Yayasan dengan  MTs. Sehingga masih sering bertemu dan berinteraksi. Seperti biasa, saat bertemu siswa ini mengucapkan salam takzim dan menjabat tangan saya dan guru-guru yang lain.
Setelah duduk saya coba membuka perbincangan dengan bertanya, “Sekarang kuliah di mana?” Dia langusng menjawab bahwa setelah lulus MA tahun kemarin ini dia tidak bisa melanjutkan kuliah. Alasan yang diungkapkan adalah tidak ada izin dari orang tua lantaran tidak ada biaya. Kalau mendengar penuturannya, tidak hanya tentag biaya namun juga alasan tidak diberikan kuliah karena keinginan orang tua, dalam hal ini Bapaknya, yang setengah hati melihat anaknya kuliah. Dengan berderai air mata dan terisak siswa ini kemudian menceritakan bagaimana tanggapan orang tuanya saat minta izin untuk melanjutkan studi ke perguruang tinggi. Siswa satu ini memang terkenal sangat mudah menangis kalau menceritakan hal-hal yang agak sedih. Sampai kemudian dia menceritakan bahawa saat ini dia sedang bekerja sebagai penjaga toko di dekat Pasar kecamatan.
Mendengar ceritanya saya juga merasa terharu namun berusaha tetap bersikap biasa. Namun ini langsung menguak lembaran masa lalu saya bagaimana saat mau kuliah dengan keterbatasan dana. Namun saya lebih beruntung darinya karena mempunyai orang tua yang mengutamakan pendidikan anaknya dari yang lainnya. Masalah biaya tentu akan diusahakan kemudian. Akhirnya saya langsung memberikan pandangan agar dia tenang dan tidak berkecil hati karena tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi saat ini. Saya tekankan bahwa ini hanyalah soal waktu saja, tetaplah berkeinginan kuat untuk kuliah dan berdoa agar dimudahkan. Dia terlihat bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang saya utarakan.
Saya kemudian melanjutkan untuk memberikan semangat kepada siswa saya ini. Mulailah saya menceritakan bagaimana saya dulu berusaha agar bisa tetap kuliah dengan keterbatasan dana yang ada. Ini relevan dengan kondisi yang dihadapi oleh siswa saya ini sehingga saya juga semangat untuk bercerita kisah perjuangan saya hingga bisa kuliah S2 di Surabaya. Saya kemudian menyampaikan agar dia tetap menjaga keinginan dan semangat untuk kuliah. Pekerjaan yang dijalani sekarang jadikan sebagai ikhtiar untuk menuju kuliah nantinya, maksimalkan ikhtiar dengan tetap menjalani proses sekarang ini sambil tetap meminta pertolongan Allah melalui doa dan sholat sunnah duha dan tahajjud. Kesemuanya itu sangat penting agar kita bisa tetap menjaga usaha untuk mewujudkan apa yang kita inginkan dan cita-citakan.
Saya juga bersyukur dulunya tetap memupuk keinginan untuk bisa lanjut kuliah ke jenjang S2 serta tetap berusaha dengan mencari informasi beasiswa. Karena untuk bisa kuliah dengan biaya sendiri hampir bisa dikatakan tidak mungkin bagi saya. Namun semuaya terjawab dengan ikhtiar yang maksimal, do’a, tetap mencari informasi beasiswa, serta ikut pelatihan persiapan TOEFL agar skor bisa terus meningkat dan memenuhi standar. Sampai-sampai orang-orang di sekiar pun, para tetangga dan keluarga, merasa terkejut tiba-tiba saya minta izin untuk berangkat kuliah. Karena mereka tidak menyangka bahwa pada kondisi saat itu tidak memungkinkan saya akan melanjutkan kuliah ke jenjang S2 apa lagi di luar daerah yang tentunya menelan biaya yang tidak sedikit. Bahkan tidak sampai di situ saja, beberapa kawan pemuda di kampung saya pun merasa termotivasi untuk ikut berburu beasiswa agar bisa kuliah S2. Begitulah keyakinan akan ada jalan untuk bisa menuntut ilmu serta ikhtiar yang maksimal akan diganjar dengan kemudahan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Jadi, ikhtiar yang maksimal dan terarah harus terus diusahakan untuk mencapai cita-cita, perkara hasil tentu tidak akan membohongi proses yang telah dijalani.            

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6   

BERTAHAN DI ERA INDUSTRI 4.0

- Sunday, October 21, 2018 4 Comments
sumber: https://www.aquare.la

Dua hari yang lalu saya menonton sebuah talk show di sebuah TV Swasta Nasional yang membahas tentang Industri 4.0 dan peluang ekonomi kreatif di Indonesia. Nara sumber pada acara tesebut adalah Menteri Komunikasi dan Informatika RI dan salah satu pakar dalam bidang yang dibahas ini. Walaupun saya mengikuti pada akhir-akhir diskusi namun saya bisa menangkap beberapa hal yang membuat saya tertarik dengan isi perbincangan ini karena berkaitan dengan digital. Tentu ini bisa saya kaitkan dengan literasi digital yang sangat penting perannya pada era sekarang ini dan masa yang akan datang. Apalagi ini kaitannya dengan industri 4.0 yang disebut-sebut sebagai industri yang berbasis digital.
Revolusi Indsutri 4.0 sendiri menurut Wikipedia diartikan sebagai tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologo pabrik. Cakupannya adalah system siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Secara sederhana industri 4.0 ini memungkinkan segala aktifitas ini dilakukan dengan system digital dan dalam jaringan. Sehingga menuntut kecakapan dalam menggunakan perangkat teknologi digital yang tersambung jaringan internet secara terus menerus. Bisa dibayangkan seperti apa pekerjaannya dan jenis tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan industri ini. Literasi digital mutlak diperlukan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang dalam menjalani kehidupan pada masa Industri 4.0 ini.
Selain literasi digital ada hal lain yang diungkapakan oleh nara sumber pada acara talk show tersebut dan membuat saya sangat tertarik dan membenarkan apa yang disampaikan tersebut. Walaupun Revolusi Industri 4.0 ini akan berbasis pada digital dan otomasi, namun ada beberapa hal yang masih membutuhkan human touch (baca: sentuhan manusia). Di antaranya adalah pertanian dan perkebunan yang masih membutuhkan tanah maupun media lain. Adapun keterlibatan mesin sangat memungkinkan akan lebih besar namun tetap dibutuhkan sentuhan maupun pemikiran manusia. Maka dalam hal ini kemampuan yang sangat dibutuhkan adalah critical thinking (baca: berpikir kritis). Dengan kemampuan berpikir kritis ini maka akan dapat ditemukan permasalahan yang ada dan bagaimana menyelesaikannya ke depan. Maka salah satu kemampuan yang termasuk dalam berpikir kritis yaitu problem solving yang akan sangat berguna pada era Indsutri 4.0 ini.
Kalau dikaitkan dengan kurikulum pendidikan yang ada sekarang yang mengakomodir kemampuan siswa dalam bidang High Order Thinking Skill (HOTS) maka bisa dikatakan kita sudah pada jalur yang tepat. Tinggal bagaimana pelaksanaan di lapangan agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan di dari perencanaan. Dengan demikian maka kita berharap generasi milenial sebagai tonggak pelaksana siap dengan berlakunya industri 4.0 pada masa sekarang maupun yang akan datang.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6                

SEMBUH DENGAN MENULIS (Bagian 2): Cerita Felix

- No Comments
sumber: https://www.meutiarahmah.com

Alasan kedua kenapa saya katakan menulis itu menyembuhkan adalah dari pengalaman seorang penulis. Penulis tersebut akrab dipanggil Felix, berasal dari NTT. Pengalaman itu dia ceritakan pada saat bedah buku kumpulan cerpennya pada acara rutin Ngaji Sastra di Pusat Bahasa Univesitas Negeri Surabaya (UNESA). Menurut pengakuan dari Felix bahwa cerpen-cerpen pada buku tersebut dia tulis saat sedang menghadapi sakit berat yang mengharuskannya kembali ke kampung halamannya di NTT dari tempatnya menimba ilmu di Malang.
Saat berjuang menghadapi penyakitnya itulah Felix mengisi hari-harinya dengan menulis. Kegiatan menulis dia lakukan di sela-sela pengobatannya yang dilakukan baik secara medis maupun tradisional, yang menurut pengakuannya dilakukan oleh dukun di kampungnya. Diakui oleh Felix bahwa menulis pada saat dia berjuang melawan penyakitnya yang oleh orang-orang kampung sampai disebut dia gila, membuat dia berangsur-angsur membaik. Pada akhirnya sembuh total kemudian kembali ke Malang dan menerbitkan buku Kumpulan Cerpen yang isinya, menurut pembedah saat itu, psikopat karena berisi adegan-adegan yang cukup mengerikan bahkan sangat mengerikan. Kemungkinan besar ini dipengaruhi oleh keadaan penulis saat itu. Dari proses kreatif yang membuatnya lebih baik yang diceritakan oleh Felix disimpulkan pada acara Ngaji Sastra 4 saat itu bahwa sastra itu menyembuhkan.
Alasan ketiga kenapa saya katakan menulis itu menyembuhkan adalah hasil dari pengamatan dan refleksi yang saya lakukan sendiri. Menyembuhkan dalam hal ini saya artikan dengan membuat seseorang merasa lebih baik dari segi perasaan. Penyakit yang dimaksudkan di sini adalah kegelisahan atau kalau istilah yang digunakan saat ini adalah galau. Merujuk pada pengalaman Bu Budi pada penyampaian sebelumnya tentang terapi untuk para galauer memang secara empirik bisa dibuktikan. Aktifitas menulis mampu mengurangi rasa galau tentang banyak hal yang dirasakan oleh Si Penulis. Mulai dari kegelisahan tentang fenomena yang sedang berkembang di sekitarnya seputar politik, ekonomi, sosial sampai masalah asmara.
Selain dari membaca tulisan, karena tulisan dengan topik yang sama sudah banyak ditulis oleh pada penulis. Kalau kita amati pada kehidupan sehari-hari, bisa dijadikan bukti empirik bahwa menulis menjadi salah satu pilihan dalam urusan menghalau galau di hati. Bukti tersebut bisa kita lihat pada banyak status di dinding media sosial salah satunya Facebook. Menulis di media sosial menjadi pilihan banyak pemilik akun untuk menumpahkan isi perasaannya, utamanya kegalauannya terhadap sesuatu yang tidak jarang sampai menuliskan hujatan dan umpatan. Hal ini diyakini bisa membuat perasaan terasa lebih plong layaknya bagi kebanyakan orang yang rajin menulis di Dairy pribadinya sebelum tergantikan oleh media sosial pada saat ini.

Dari ketiga alasan di atas tentu dapat dilihat bagaimana menulis itu bisa membuat perbaikan pada diri seseorang, kalau dalam tulisan ini kita sebut menyembuhkan. Tentunya hal yang demikian itu terkait dengan faktor dorongan semangat atau motivasi yang didapat dari kegiatan menulis. Bisa menjadi faktor utama maupun faktor pendukung dalam proses penyembuhan tersebut. Dengan demikian mari menulis apa saja yang menjadi kegalauan pada diri kita, tidak peduli panjang pendeknya tulisan tersebut yang terpenting adalah menulis karena menulis itu menyembuhkan. 

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6                

SEMBUH DENGAN MENULIS (Bagian 1): Terapi Menulis Bu Budi

- No Comments
sumber: http://biangnews4.blogspot.com

Jika ada yang bertanya tentang apa manfaat menulis maka salah satu jawaban yang saya utarakan adalah menulis itu menyembuhkan. Menulis bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang ada pada diri si penulis. Namun tentu bukan penyakit yang sifatnya fisik seperti luka pada tubuh si penulis. Oleh karena itu saya katakan menulis itu menyembuhkan bukan menggunakan menulis itu obat.
Jawaban yang saya kemukakan di atas berdasarkan atas pengalaman yang saya dapat baik dari membaca, mengamati dan refleksi maupun mengikuti kegiatan bedah buku. Dalam tulisan ini akan saya kemukakan setidaknya 3 pengalaman kenapa bisa dikatakan menulis itu meyembuhkan. Di antaranya adalah pengalaman mengikuti bedah buku, ikut dalam komunitas menulis serta refleksi dari pengalaman sehari-hari dan hasil membaca.
Pertama, alasan mengapa menulis itu menyembuhkan akan saya jawab dengan pengalaman seorang guru yang melakukan terapi kepada muridnya dengan tulisan. Adalah Bu Budiarini seorang guru pada sebuah sekolah di Mojokerto Jawa Timur yang menuliskan pengalamannya melakukan terapi kepada siswanya yang “sakit” dengan menggunakan tulisan. Bu Budi, begitu panggilan akrabnya, saya kenal di sebuah komunitas menulis para guru besutan Media Guru Indonesia. Sakit yang diderita oleh siswa di sini bukan berarti sakit secara fisik, namun yang dimaksud di sini adalah siswa tersebut bermasalah.
Pengalaman menangani siswa yang bermasalah inilah yang dituliskan dalam bentuk buku oleh Bu Budi yang diberi judul Writing Therapy for Galauer. Buku ini berisi pengalaman Bu Budi dalam menangani siswa bermasalah walaupun bukan seorang Guru Konseling (banyak yang menyebutkannya dengan Guru BP) tetapi dia adalah seorang Guru Bahasa Indonesia. Namun, menurut saya, justru karena itulah terapi yang digunakan adalah menulis bukan terapi ala psikiater atau konselor. Menurut pengalaman yang dibagikan dalam buku itu bahwa terapi itu berhasil.

Terapi menulis yang digunakan oleh Bu Budi tersebut adalah di luar lazimnya terapi bagi siswa yang bermasalah. Kalau menggunakan istilah yang banyak digunakan saat ini adalah anti mainstream. Bagaimana tidak dikatakan di luar metode terapi yang biasanya dilakukan, setiap siswa yang ditangani oleh Bu Budi pada saat konseling siswa disodorkan kertas dan pulpen. Alih-alih siswa diberi nasihat panjang lebar namun Bu Budi hanya memberikan alat dan media tulis kemudian meminta siswanya untuk menulis. Menulis apa saja yang ingin ditulis oleh muridnya, tentu sebagian besar siswa yang diterapi menceritakan permasalahan yang dirasakannya lewat tulisan tersebut. Begitulah seterusnya, tiap pertemuan untuk terapi siswa diminta untuk menulis. Dalam waktu yang beragam, sebulan, dua bulan, bahkan sampai 3 bulan, banyak kemajuan yang ditunjukkan oleh terapi menulis tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi menulis tersebut berhasil menangani siswa yang “sakit” tersebut.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6                

HIDUP DENGAN BANYAK PERAN

- Thursday, October 18, 2018 4 Comments

Sejak awal saya ingin hidup bermanfaat bagi banyak orang, dan ini lumrah saya rasa dan banyak dipikirkan oleh orang lain juga. Sehingga wajar ketika memasuki dunia kampus saya langsung melibatkan diri di banyak kegiatan organisasi mahasiswa. Ketika sudah selesai dari kampus tentunya beberapa peran mulai dijalani dalam masyarakat karena dilihat ada keinginan dan kemampuan tentunya. Keinginan yang kuat dari awal inilah pula yang menyebabkan saya harus banyak belajar dari berbagai kegiatan kelompok semasa di kampus dulu maupun di luar kampus. Walaupun memang keinginan menjadi modal utama namun juga harus dibarengi dengan kemampuan agar benar-benar bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Menjalani banyak peran di masyarakat memang tidak semua orang melakukannya. Tapi bisa dikatakan tiap orang paling sedikit memiliki dua peran dalam hidupnya, pertama menjadi kepala atau anggota keluarga dan pekerja. Dua peran ini bisa dikatakan menjadi peran yang wajib bagi orang yang sudah dewasa. Namun tidak menutup kemungkinan bagi sebagian orang memiliki peran yang lebih dari dua dalam kehidupannya. Bagi saya ini menjadi konsekuensi dari hidup sebagai makhluk sosial, apa lagi berada di lingkungan perkampungan yang masih kental dengan ikatan sosialnya. Seperti saya, setidaknya ada enam peran yang saya jalani dalam kehidupan saya beberapa waktu ini dan  kedepannya.
Pertama, sebagai kepala keluarga sejak menikah pada tanggal 22 September 2018 yang silam. Ini menjadi peran saya yang paling baru dan merupakan sebuah keharusan bagi saya. Menjadi kepala keluarga tentunya banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Juga tanggung jawab yang besar ada di pundak untuk menjamin kehidupan anggota keluarga. Peran yang satu ini juga akan banyak berkaitan dengan peran-peran lain saya selanjutnya dalam kehidupan. Seperti tuntutan untuk menjalani peran saya yang kedua yaitu profesi guru. Walaupun ini sudah lama saya jalani namun karena ini menjadi profesi tentunya sangat berkaitan erat dengan peran sebagai kepala keluarga. Profesi guru ini menjadi peran utama dalam kehidupan saya setelah kepala keluarga.
Peran yang ketiga adalah berkaitan dengan profesi saya sebaai guru yaitu kepala madrasah. Sejak tahun 2012 lalu saya sudah menjalani peran sebagai kepala madrasah di MTs NW Tanak Maik. Sebagai kepala tentunya saya harus memimpin lembaga pendidikan ini dengan menjalankan setidaknya 3 tugas yaitu, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan keuangan dan manajemen madrasah. Peran sebagai kepala Madrasah mengharuskan saya untuk bisa fokus pada bagiamana agar madrasah bisa berjalan sesuai dengan visi dan misi yang sudah ditetapkan.
Peran yang keempat yang saya jalani adalah sebagai peneliti di lembaga survey. Peran ini semakin menguat dua bulan terakhir ini dengan bergabungnya saya dengan lembaga survey lokal yang lebih memberikan ruang untuk mengeluarkan ide dan gagasan. Yang kelima adalah sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Masbagik Timur, desa tempat saya tinggal selama ini. Peran BPD ini tentunya sangat vital di desa karena termasuk dalam pemerintah desa yang bertugas salah satunya adalah untuk mengawasi berjalannya program desa. Pada lingkup yang lebih kecil lagi, yaitu di kampug tempat saya tinggal, sejak 2013 lalu saya dipilih sebagai ketua Pemuda. Dengan demikian saya banyak berkutat dengan urusan kepemudaan yang jaringannya meluas ke desa bahkan ke luar desa sendiri. Peran kelima ini sesuai dengan keinginan saya sejak lama yaitu memajukan kehidupan pemuda di tempat saya. Peran yang lain adalah saya aktif di beberapa organisasi pemuda seperti Karang Taruna dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Selain itu juga aktif di beberapa komunitas yang sesuai dengan keilmuan yang saya dalami yaitu berkaitan dengan literasi.
 Hidup dengan banyak peran seperti saya ini tentu membutuhkan pengelolaan waktu yang baik agar semua peran bisa dijalani dengan baik sesuai dengan kadarnya. Peran yang banyak ini mengharuskan saya untuk bisa proporsional membagi waktu agar semuanya bisa berjalan pada jalurnya. Ada dua kategori dari semua peran ini menurut saya, yang pertama adalah sebuah keharusan dan tuntutan, yang ini menjadi prioritas utama. Peran ini tentunya yang berhubungan dengan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Yang kedua adalah kategori pengabdian dan hobi, tentunya ini menjadi prioritas kedua, namun harus tetap berjalan setelah prioritas utama terpenuhi. Dengan pembagian ini saya tentunya bisa mengatur waktu dan perhatian agar semuanya bisa maksimal sesuai dengan kadarnya masing-masing. Sehingga harapan untuk hidup dengan banyak peran bisa tercapai dan berjalan sesuai harapan dan tentunya bisa memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat di sekeliling. Peran lain yang belum bisa terwujud adalah peran sebagai seorang penulis nonfiksi maupun kolumnis. Harapannya ini bisa terwujud pada waktu yang akan datang. Semoga.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6     

HIDUP UNTUK MEMBERI

- Wednesday, October 17, 2018 No Comments

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
(Hadist)

Sejak memasuki dunia kampus pada tahun 2004 dulu, saya langsung tertarik dengan dunia aktifis mahasiswa. Saya kagum dengan mereka yang berkumpul dan berorganisasi dan membicarakan hal-hal yang menyangkut kemaslahatan orang lain. Di samping juga kemaslahatan sendiri sebagai kelompok mahasiswa menjadi perhatian yang tidak luput dari pembicaraan dan tindakan mereka. Akhirnya saya terjun ke dunia aktifis mahasiswa bersamam teman-teman-teman yang lain. Di sinilah saya belajar mengenai permasalahan dan penyelesaiannya baik yang bekembang di lingkungan kampus maupun di negera secara umum, bahkan pemaslahan dunia tidak lepas dari diskusi-diskusi dan kajian kami. Ini semakin membuat saya bersemangat terlibat dan aktif dalam dunia katifis mahasiswa.
Kegiatan saya yang begitu banyak di kampus berbanding terbalik dengan saat saya masih di bangku sekolah. Walaupun tergolong sebagai anak yang mendapat prestasi secara akademik namun saya menjadi pribadi yang tidak pandai bersosialisasi. Saya terpinggirkan dari kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan diri, sehingga sangat bepengaruh pada keberanian saya untuk mengemukakan pendapat di muka umum, terutama di dalam kelas. Hal inilah juga yang mendorong saya untuk aktif di dunia aktifis mahasiswa. Saya bertekad harus bisa public speaking yang menjadi kelemahan saya di dalam kelas sejak di bangku sekolah. Banyka kegiatan yang kami lakukan baik itu diskusi, kemah bersama, sampai demonstrasi untuk menyuarakan aspirasi. Aktifitas ini terus berlangsung di tengah kesibukan saya kuliah sampai akan menyelesaikan kuliah dan wisuda.
Selain untuk bisa public speaking, dorongan kuat juga untuk terjun ke duni aaktifis mahasiswa adalah untuk pembekalan diri agar bisa bermanfaat di lingkungan sendiri saat sudah selesai di kampus. Dan memang tepat apa yang saya harapkan, dengan banyaknya aktifitas yang saya lakukan saat kuliah maka implikasinya adalah saat saya berada di tengah-tengah masyarakat. Tekad untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain saya wujudkan ketika sudah berada di komunitas asal saya. Berbagai pengalaman yang saya dapatkan saat kuliah saya terapkan di rumah, tanpa memikirkan apa yang akan saya dapatkan. Pada prosesnya maka saya pun terpilih menjadi ketua pemuda di kampung kemudia berlnajut menjadi ketua Karang Taruna di desa. Kesemuanya ini saya niatkan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Hal pertama yang saya bangun adalah kerangka berpikir teman-teman pemuda agar bisa menjadi generasi yang betul-betul siap menggantikan generasi tua. Dengan banyak berdiskusi dan berlatih public speaking saya mencoba untuk mendorong agar teman-teman pemuda bisa tampil di muka umum dan mengemukakan pendapatnya dengan baik. karena saat itu, hal inilah yang sangat kurang di lingkungan saya. Alhamdulilah dengan mendorong secara aktif maka semakin banyak pemuda yang bisa tampil di muka umum dengan baik sehingga kekurangan yang selama ini dilamai bisa tertutupi. Hal ini kemdia meadapat sambutan yang baik di kalangan tua, sehingga ini bisa menjadi dorongan semangat bagi kami pemuda untuk terus belajar menajdi lebih baik.
Keinginan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain banyak mendorong saya dan teman-teman mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan seremonial. Mulai dari Perayaan Hari Besar Islam, Peringatan Hari Besar Nasional sampai kegiatan sosial diselenggarakan oleh komunitas pemuda. Hal ini tentu mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat danmenjadi dorongan semangat. Hal yang menjadi tugas rumah saya dan teman-teman yang lain saat ini adalah bagaimana membangun perekonomian komunitas pemuda agar berdaya. Semoga ke depan hal ini bisa tercapai agar pemberdayaan ekonomi bisa tercapai di kalangan pemuda.      

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6

MUSRENBANG RKPDES, MASBAGIK TIMUR FOKUS DI PEMBERDAYAAN

- No Comments

Pada hari selasa, 16 Oktober 2018 bertempat di aula kantor desa Masbagik Timur diadakan musyawarah rencana pembangunan desa (musrenbangdes) dengan agenda pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDES) tahun 2019. Musyawarah ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait baik dari kecamatan maupun dari desa Masbagik Timur sendiri. Hadir pada acara ini yaitu Camat Masbagik, Tim Pendamping Desa, BPD, LKMD, Kepala Dusun dan perwakilan warga dan kelompok perempuan.
Acara ini dibuka oleh Kepala Desa Masbagik Timur, Marunah, yang mengemukakan pandangan-pandangan terhadap visi ke depan pembangunan desa yang Ia pimpin. Dalam sambutannya Kepala Desa menekankan disiplin dan partisipasi semua unsur dalam memberikan masukan terhadap rencana pembangunan desa. Dengan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, Kepala Desa ingin dana desa yang begitu besar tidak hanya untuk pembangunan fisik berupa rabat dan talut saja namun juga untuk pembangunan manusia. Hal senada dilontarkan oleh Camat MasbagiK bahwa pentingnya membangun pola pikir masyarakat dan pembuat kebijakan bahwa pembangunan manusia jauh lebih penting dilakukan untuk investasi jangka panjang.


Ditemui setelah pembukaan acara, kepala Desa Masbagik Timur menjelaskan apa yang telah disampaikannya pada saat memberikan sambutan pada acara musrenbangdes. “Pembangunan yang akan kita fokuskan di Masbagik Timur adalah pembangunan non fisik, kita ingin masyarakat bisa berdaya sehingga bisa mandiri ke depannya. Tidak lagi bergantung kepada dana pemerintah dan bantuan saja”. Lanjutnya, “selain itu juga perlu dibangun kemandirian usaha desa untuk menopang pembanguan ke depan”. Ditambahkan oleh Kepala Desa, “dengan menjadi mandiri, ke depannya desa kita tidak lagi bergantung dengan dana dari pemerintah pusat, bila perlu kita tolak bantuan yang ada kalau kita sudah mandiri.”


Ditemui secara terpisah, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Salman membenarkan apa yang disampaikan oleh Kepala Desa Masbagik Timur. “Memang betul, sudah saatnya pembangunan kita arahkan kepada pemberdayaan dan investasi jangka panjang. “Sudah saatnya pembangunan manusia menjadi fokus untuk pembangunan di Desa kita ini”, imbuhnya.   
Kegiatan musrenbangdes Masbagik Timur berakhir pada siang hari dengan menelurkan beberapa keputusan seprti yang diharapakan oleh Kepala Desa dan banyak lalangan bahwa pembangunan tahun 2019 nanti akan dititikberatkan pada pemberdayaan dan kemandirian usaha melalui BUMDes. Selalin itu juga kegiatan pemberdayaan pemuda melalui Karang Taruna dan POKDARWIS juga mendapat perhatian yang besar pada tahun 2019 nanti. Sehingga diharapkan apa yang menjadi cita-cita Kepala Desa yang tertuang dalam visi dan misinya bisa terwujud pada masa pemerintahannya.  

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6

#nonfiksi       

TENTANG PILIHAN (Bagian 2): LAIN DULU LAIN SEKARANG

- No Comments

Pada pemilihan legislatif 2019 yang akan datang begitu banyak orang yang terlibat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan sampai akademisi pun ikut terlibat. Semua tentunya membawa cita-cita ingin memajukan daerah dan negeri ini melalui jalur parlemen sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak menutup kemungkinan juga ada dorongan-dorongan lain secara pribadi yang membuat banyak kalangan terlibat dan berebut kursi anggota legislatif, baik dari pusat sampai ke daerah-daerah. Ada yang sudah menjadi anggota legislatif maupun orang-orang yang baru terlibat. Mereka tersebar dalam berbagai partai politik yang ada yang digunakan sebagai kendaraan politik untuk menuju kursi anggota legislatif.
Yang menarik pada tahun 2019 ini maupun tahun sebelumnya 2014 yaitu keterlibatan aktifis massa yang berlatar belakang ormas pemuda dan mahasiswa. Memang tidak sedikit yang sudah duduk di kursi anggota legislatif, terutama aktifis 98 yang berjuang untuk mewujudkan reformasi. Namun efeknya begitu besar sampai daerah-daerah mulai terasa sejak 2014 lalu dan meningkat pada PEMILU tahun 2019 mendatang, yang mana tahapannya sudah dimulai sejak September kemarin. Tentunya usia mereka masih tergolong muda dan sangat potensial jika dilihat dari kemampuan dan cita-cita pembangunan dan perbaikan seperti yang diusung sejak menjadi aktifis dulu.
Melihat keikutsertaan para aktifis ini dalam pemilu legislatif tidak sedikit yang menyangsikan kinerja mereka ke depannya. Banyak yang ragu akan prinsip dan cita-cita perjuangan mereka akan masih sesuai dengan saat mereka belum menjadi anggota legislatif. Keraguan ini tidak jarang datang dari teman mereka sendiri yang tidak masuk dalam putaran politik praktis. Ini terlihat dari banyaknya perdebatan yang terjadi maupun komentar yang muncul di lini massa media sosial Facebook. Beberapa anggapan yang mengemuka adalah bahwa para aktifis yang terlibat politik praktis sudah tergiur dengan empuknya kursi jabatan. Mereka dikatakan sudah lupa akan perjuangan yang mereka kobarkan lewat luar parlemen. Melalui parlemen jalanan, dulu mereka kerap menyuarakan aspirasi dan tuntutan rakyat yang dibawanya.
Mendapat tanggapan demikian, tentu para calon anggota lgislatif dari kalangan aktifis pemuda ini menyampaikan sanggahan untuk justifikasi atas pilihan yang mereka ambil. Menurut mereka, cita-cita perjuangan tidaklah berubah, masih seperti sedia kala saat dulu masih menjadi aktifis massa. Hanya saja taktik yang berubah, dulu melalui luar parlemen kalau sekarang berusaha melalui dalam parlemen. Keadaanlah yang membuat mereka harus merubah taktik perjuangan tanpa harus menafikan perjuangan lewat luar parlemen atau luar kekuasaan. Keadaan yang membutuhkan perbaikan dari dalam system itu sendiri. Butuh orang-orang baik untuk mengisi kursi-kursi penentu kebijakan agar kebijakan yang ditelurkan berpihak kepada rakyat.
Begitulah dinamika keterlibatan para aktifis pemuda dan mahasiswa yang menjadi calon anggota legislatif. Di satu sisi mendapat cemoohan dari kawan yang masih tetap di jalur luar parlemen, di satu sisi juga ini merupakan pilihan politik yang sah menurut undang-undang yang berlaku. Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keadaan sudah berubah, lain dulu lain sekarang, lain keadaan berbeda pula taktik perjuangan. Tidak ada yang salah selama ketika duduk di legislatif nanti mereka masih tetap di jalur perjuangan dan cita-cita mulia sejak dulu yaitu mewujudkan rakyat yang sejahtera. SEMOGA.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6  

SAATNYA BANGUN CINTA (Bagian 2): IKHLAS YANG BERTANGGUNG JAWAB

- No Comments

Dalam usaha membangun cinta bahwa saling menerima keadaan menjadi hal yang sangat penting. Karena tentunya ketika hidup bersama maka tidak ada hal yang bisa disembunyikan dari pasangan masing-masing terkait dengan karakter dan kebiasaan. Tidak ada istilah jaga image dari masing-masing individu karena semuanya terlihat dalam keseharian. Sehingga dalam usaha membangun cinta maka menerima apa yang ada menjadi hal yang sangat penting untuk terus menjaga kokohnya bangunan cinta.
Saling menerima keadaan masing-masing dari pasangan tentu dapat dilakukan dengan dasar keihklasan. Dengan begitu maka rasa kecewa terhadap keadaan pasangan bisa dihilangkan dari diri masing-masing. Namun tentunya tidak selamanya ikhlas menerima ini akan terus dipertahankan sehingga timbul tindakan membiarkan atas kekurangan-kekurangan yang ada. Tentunya ini bukan tindakan yang tepat juga mengingat kekurangan yang ada bisa saja bersifat alamiah dan permanen tapi juga ada kekurangan yang masih bisa diperbaiki. Maka keihklasan dalam hal ini bukanlah ikhlas menerima begitu saja apa yang ada, namun masih dimungkinkan usaha-usaha perbaikan ke arah yang lebih baik atas kekurangan yang ada.
Saat kita melakukan usaha-usaha menuju ke arah perbaikan inilah sebagai bentuk tanggung jawab pada diri masing-masing dari pasangan. Tidak ada pembiaran terhadap kekurangan yang ada pada masing-masing individu melainkan timbul usaha untuk memperbaiki. Upaya perbaikan yang dilakukan tentunya berupa teguran mulai dari yang ringan sampai ke teguran yang keras. Hal ini disesuaikan dengan tingkat kekeliruan yang dilakukan oleh pasangan.
Keikhlasan menerima disertai tanggung jawab untuk memperbaiki menjadi usaha saya dan pasangan untuk membangun cinta. Usaha untuk mencintai, bukan hanya untuk dicintai. Usaha untuk mecintai ini terwujud dalam ikhlas yang bertanggung jawab. Tidak pasrah dengan seperti apa adanya pasangan tapi berusaha untuk memberikan teguran untuk perbaikan sebagai wujud cinta. Karena pasrah dengan keadaan yang ada tanpa usaha perbaikan adalah bentuk dari rasa ingin dicintai, takut akan perasaan pasangan yang berubah ketika melakukan pebaikan-perbaikan terhadap diri pasangan. Jangan sampai perasaan ingin dicintai ini mengalahkan tanggung jawab yang seharusnya kita jalankan dalam usaha mencintai pasangan. Membangun cinta memang perlu keikhlasan untuk menerima seperti apa pasangan, namun keikhlasan yang bertanggung jawab adalah hal selanjutnya yang dilakukan sebagai bentuk rasa mencintai bukan hanya agar dicintai.

#komunitasonedayonepost

#ODOP_6  

TENTANG PILIHAN (Bagian 1): PILIHAN TERSANDERA STIGMA

- Saturday, October 13, 2018 No Comments

Dua kali perhelatan pemilihan umum, utamanya pemilihan presiden dan wakil presiden, yaitu tahun 2014 dan 2019 yang akan datang entah mengapa begitu sulit dalam menentukan pilihan. Bukan karena sulit menentukan mana yang terbaik dari yang baik-baik, namun sulitnya dalam mempunyai pilihan. Bagaimana tidak, saat sudah mempunyai pilihan sejak 2014 yang lalu maka bersiap-siap mendapat julukan salah satu dari dua istilah yang begitu tidak enak didengar. Sungguh tidak elok untuk disematkan pada manusia yang sudah mempunyai akal dan berbudaya. Bahkan lebih jauh lagi, perkara agama pun menjadi pembeda di antara yang seagama sekalipun. Yang mana saudara seiman bahkan sampai mengatakan saudaranya yang lain kafir karena beda pilihan. Menganggap diri paling beragama saat memilih salah satu pasangan calon atau partai tertentu.
Sulitnya mempunyai pilihan pada tahun politik terakhir ini tidak terasa pada tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) tidak santer terdengar pada tahun-tahun politik sehingga pilihan apapun itu tidak terlalu membebani pribadi masing-masing. Tidak ada saling cap ini dan itu, tidak ada yang merasa paling beriman lantaran pilihan politik. Kesemuanya itu sirna lantaran narasi-narasi SARA yang dikemukakan sejak tahun pemilihan umum 2014 dan dipelihara sampai saat ini. Tentu dengan tujuan politik semata, bukan tentang kepentingan umat beragama. Padahal banyak hal lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan tentunya, tidak semata terkait dengan narasi-narasi yang dibangun akhir-akhir ini melalui media sosial dan media massa.
Saling serang dan bertahan dalam sebuah kompetisi seperti pemilihan umum tentu tidak ada salahnya. Tergantung pada tentang apa yang menjadi isi dari serangan terhadap lawan. Tentu yang paling elok adalah adu program ke depan maupun yang sudah dijalankan. Namun kemudian ini menjadi celah yang empuk bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) untuk saling menyudutkan bahkan menjatuhkan. Nafsu menjatuhkan ini bahkan sampai pada tataran pribadi sang calon yang mana ilmu cocokologi (berusaha mengaitkan) merajalela di dunia maya dan sangat gampang disebarluaskan. Perang pernyataan di media massa oleh para elit politik juga menjadi tontonan bagi masyarakat, sehingga diskusi dan adu gagasan sudah jarang di dunia nyata. Dunia maya menjadi arena tarung bebas bagi para elit dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang terus memupuk kebencian.
Stigma-stigma yang berkaitan dengan SARA memang cukup membuat pilihan politik menjadi berat, apa lagi sudah menjurus ke stigma berkaitan dengan iman dan agama. Belum tentu dengan memilih partai A seseorang kemudian bisa diukur tingkat keimanannya, seperti gampangnya seseorang menganggap dirinya lebih beriman daripada yang lain karena memilih partai B yang kebetulan berciri religius. Jika ini dipelihara terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan timbul celah-celah perpecahan yang semakin lebar. Akan lebih sulit lagi jika menjadi kelompok minoritas pada suatu lingkungan dengan pilihan yang berbeda. Banyak sudah ditemukan perpecahan di bawah hanya karena pilihan politik di tingkat pusat, yang sampai menyentuh ranah perkawanan. Yang mana perkawanan ini bisa rusak gara-gara beda pilihan.
Oleh karena itu mari sudahi saling semat-menyematkan stigma negatif hanya karena beda pilihan politik. Akan lebih baik jika masing-masing kita menonjolkan kebaikan-kebaikan masing-masing calon yang menjadi pilihan dan menegasikan keburukan-keburukan yang dimiliki. Karena sesungguhnya kontestasi politik praktis adalah ajang adu gagasan berkemajuan, bukan saling buka aib. Tentu tidak salah mendasarkan agama sebagai landasan untuk menentukan pilihan, karena sudah diatur dalam masing-masing agama yang ada. Namun bukan menjadi dasar untuk memberikan stigma negatif kepada saudara seiman yang kebetulan berbeda pilihan, karena bisa saja kriteria yang digunakan adalah lebih besar kepada kemampuan di luar agama. Mengingat kompleksitas persoalan yang dihadapai negeri ini, melalui pemilihan umum yang akan datang maka penting untuk melahirkan pemimpin yang betul-betul kompeten dalam mengelola NKRI ini secara menyeluruh.  

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6                       

MEMBACA: DARI KEGEMARAN HINGGA BUDAYA

- Friday, October 12, 2018 No Comments

Banyak orang menjadikan membaca sebagai kebutuhan, namun pada saat-saat tertentu. Tentu, karena membaca dilakukan saat dibutuhkan saja, kalau merasa tidak butuh bisa saja ada rasa malas untuk membaca. Membaca sebagai kebutuhan ini bisa dikatakan terjadi saat, sebagain besar, dalam masa belajar di lembaga pendidikan formal. Dari sejak SD hingga perguruan tinggi, tentunya kita akan dipaksa untuk sesuai tuntutan kebutuhan pelajaran atau mata kuliah pada jenjang pendidikan tertentu. Lalu, bagaimana setelah selesai dari masa belajar di lembaga pendidikan? Mungkinkah ada bisa dij wab dengan perbandingan antara pengunjung toko buku yang jauh lebih sedikit dengan toko pakaian di sebuah pusat perbelanjaan? Atau juga perbandingan antara pengunjung toko buku dari kalangan mana saja?
Karena tidak menjadi kebutuhan lagi, bisa saja setelah selesai belajar di lembaga pendidikan, membaca tidak lagi sering dilakukan. Karena digantikan dengan kegiatan yang lain, bekerja tentunya. Aktifitas membca akan dilakukan jika ada kebutuhan lagi untuk mencari tambahan informasi maupun pengetahuan mengenai hal tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan. Tentu hal ini tidak salah, karena dorongan membaca belum berganti dari kebutuhan ke dorongan yang lain. Dorongan lain untuk membaca selain sebagai kebutuhan adalah ketika membaca sudah menjadi kegemaran, hobi, atau kesenangan. Orang yang mempunyai kegemaran membaca tentu akan mengisi waktu-waktu luang dengan membaca. Kegiatan membaca yang dilandasi dengan kegemaran tentu tidak akan terasa memberatkan, melainkan akan terasa ringan sehingga apa yang diinginkan melalui membaca akan tercapai, yaitu rasa senang. Ketika sudah menjadi kesenangan maka membaca menjadi pilihan utama untuk menghibur diri, dibandingkan dengan jenis hiburan lain yang bertebaran di lingkungan sekitar.
Karena membaca dilakukan teus menerus dengan dilandasi kesenangan, maka kesenangan membaca tersebut bis aberubah menjadi kebiasaan. Semakin sering kegiatan membaca dilakukan oleh seseorang maka akan menjadi terbiasa. kebiasaan membaca in tentunya bisa memenuhi dua tujuan membaca sekaligus, mendapatkan pengetahuan sesuai kebutuhan dan menambah wawasan tentang hal-hal di lingkungan, selanjutnya juga akan memenuhi hasrat kegemaran membaca sebelumnya. Jadi secara bersamaan dahaga akan ilmu pengetahuan dan pemenuhan hobi bisa tercapai dalam satu kegiatan. Bagi orang yang sudah terbiasa membaca atau ingin membiasakan membaca maka membawa buku menjadi sebuah keharusa ketika bepergian ke mana saja. Saat ke luar kota kita bisa membawa buku untuk dibaca saat menunggu di ruang tunggu, saat dalam perjalanan kereta api atau pesawat terbang, maupun pada saat-saat senggang di tempat lainnya setelah menempuh perjalanan.


Bagi orang yang biasa membaca akan menjadikan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi dahaga akan bahan bacaan. Buku akan menjadi kebutuhan yang akan terus-menerus dipenuhi demi memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan untuk pengembangan diri dan menambah wawasan tentang situasi terkini di dunia. Saat inilah membaca sudah menjadi bagian dari karakter sesorang. Karakter diri yang terus butuh akan bacaan, yang pada hakikatnya adalah karakter pembelajar. Pada akhirnya nanti membaca akan menjadi sebuah budaya yang berkembang di masyarakat dengan diawali dari kebutuhan, kemudian menjadi kegemaran, kebiasaan, dan menjadikan karakter diri. Dengan demikian maka budaya membaca di tengah masyarakat akan menjadikan bangsa Indonesia yang literat. tidak lagi ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Karena data membuktikan bahwa negara-negara yang maju secara ekonomi pun tidak lepas dari bangsa yang punya daya literat tinggi. Tentunya untuk menjadikan membaca menjadi budaya, oerlu dimulai dari rumah, orang tua bisa menjadi contoh, dan pada akhirnya penulis juga sudah mulai dari diri sendiri.
Sebuah puisi dari Taufiq Ismail berikut ini bisa menjadi penutup dari tulisan ini agar semakin mempertegas bahwa budaya membaca perlu didorong terus agar tidak terjadi apa yang dikhawatirkan pada puisi berjudul “Kupu-kupu di dalam Buku”.

“Kupu-kupu di dalam Buku”
(puisi karya Taufiq Ismail)

Ketika duduk di setasiun bis, di garbing kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perputakaan yang yang mengandung ratusan ribu buku dan
cahaya lampunya terang-benderang, kulihat anak-anak muda
dan anak-anak tua sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk
yang dipajang terbentang, orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil
bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya
tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian katanya,
“tunggu mama buku ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis
dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku di baca,
di tempat penjualan buku laris di beli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

1996


# komunitasonedayonepost
#ODOP_6