News Ticker

MEMBACA: DARI KEGEMARAN HINGGA BUDAYA

By Agus Khairi - Friday, October 12, 2018 No Comments

Banyak orang menjadikan membaca sebagai kebutuhan, namun pada saat-saat tertentu. Tentu, karena membaca dilakukan saat dibutuhkan saja, kalau merasa tidak butuh bisa saja ada rasa malas untuk membaca. Membaca sebagai kebutuhan ini bisa dikatakan terjadi saat, sebagain besar, dalam masa belajar di lembaga pendidikan formal. Dari sejak SD hingga perguruan tinggi, tentunya kita akan dipaksa untuk sesuai tuntutan kebutuhan pelajaran atau mata kuliah pada jenjang pendidikan tertentu. Lalu, bagaimana setelah selesai dari masa belajar di lembaga pendidikan? Mungkinkah ada bisa dij wab dengan perbandingan antara pengunjung toko buku yang jauh lebih sedikit dengan toko pakaian di sebuah pusat perbelanjaan? Atau juga perbandingan antara pengunjung toko buku dari kalangan mana saja?
Karena tidak menjadi kebutuhan lagi, bisa saja setelah selesai belajar di lembaga pendidikan, membaca tidak lagi sering dilakukan. Karena digantikan dengan kegiatan yang lain, bekerja tentunya. Aktifitas membca akan dilakukan jika ada kebutuhan lagi untuk mencari tambahan informasi maupun pengetahuan mengenai hal tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan. Tentu hal ini tidak salah, karena dorongan membaca belum berganti dari kebutuhan ke dorongan yang lain. Dorongan lain untuk membaca selain sebagai kebutuhan adalah ketika membaca sudah menjadi kegemaran, hobi, atau kesenangan. Orang yang mempunyai kegemaran membaca tentu akan mengisi waktu-waktu luang dengan membaca. Kegiatan membaca yang dilandasi dengan kegemaran tentu tidak akan terasa memberatkan, melainkan akan terasa ringan sehingga apa yang diinginkan melalui membaca akan tercapai, yaitu rasa senang. Ketika sudah menjadi kesenangan maka membaca menjadi pilihan utama untuk menghibur diri, dibandingkan dengan jenis hiburan lain yang bertebaran di lingkungan sekitar.
Karena membaca dilakukan teus menerus dengan dilandasi kesenangan, maka kesenangan membaca tersebut bis aberubah menjadi kebiasaan. Semakin sering kegiatan membaca dilakukan oleh seseorang maka akan menjadi terbiasa. kebiasaan membaca in tentunya bisa memenuhi dua tujuan membaca sekaligus, mendapatkan pengetahuan sesuai kebutuhan dan menambah wawasan tentang hal-hal di lingkungan, selanjutnya juga akan memenuhi hasrat kegemaran membaca sebelumnya. Jadi secara bersamaan dahaga akan ilmu pengetahuan dan pemenuhan hobi bisa tercapai dalam satu kegiatan. Bagi orang yang sudah terbiasa membaca atau ingin membiasakan membaca maka membawa buku menjadi sebuah keharusa ketika bepergian ke mana saja. Saat ke luar kota kita bisa membawa buku untuk dibaca saat menunggu di ruang tunggu, saat dalam perjalanan kereta api atau pesawat terbang, maupun pada saat-saat senggang di tempat lainnya setelah menempuh perjalanan.


Bagi orang yang biasa membaca akan menjadikan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi dahaga akan bahan bacaan. Buku akan menjadi kebutuhan yang akan terus-menerus dipenuhi demi memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan untuk pengembangan diri dan menambah wawasan tentang situasi terkini di dunia. Saat inilah membaca sudah menjadi bagian dari karakter sesorang. Karakter diri yang terus butuh akan bacaan, yang pada hakikatnya adalah karakter pembelajar. Pada akhirnya nanti membaca akan menjadi sebuah budaya yang berkembang di masyarakat dengan diawali dari kebutuhan, kemudian menjadi kegemaran, kebiasaan, dan menjadikan karakter diri. Dengan demikian maka budaya membaca di tengah masyarakat akan menjadikan bangsa Indonesia yang literat. tidak lagi ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Karena data membuktikan bahwa negara-negara yang maju secara ekonomi pun tidak lepas dari bangsa yang punya daya literat tinggi. Tentunya untuk menjadikan membaca menjadi budaya, oerlu dimulai dari rumah, orang tua bisa menjadi contoh, dan pada akhirnya penulis juga sudah mulai dari diri sendiri.
Sebuah puisi dari Taufiq Ismail berikut ini bisa menjadi penutup dari tulisan ini agar semakin mempertegas bahwa budaya membaca perlu didorong terus agar tidak terjadi apa yang dikhawatirkan pada puisi berjudul “Kupu-kupu di dalam Buku”.

“Kupu-kupu di dalam Buku”
(puisi karya Taufiq Ismail)

Ketika duduk di setasiun bis, di garbing kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perputakaan yang yang mengandung ratusan ribu buku dan
cahaya lampunya terang-benderang, kulihat anak-anak muda
dan anak-anak tua sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk
yang dipajang terbentang, orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil
bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya
tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian katanya,
“tunggu mama buku ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis
dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku di baca,
di tempat penjualan buku laris di beli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

1996


# komunitasonedayonepost
#ODOP_6

No Comment to " MEMBACA: DARI KEGEMARAN HINGGA BUDAYA "

Tinggalkan jejak di sini