News Ticker

PEREMPUAN REPUBLIK

By Agus Khairi - Tuesday, October 30, 2018 No Comments
Sumber: goodreads

Judul Buku                  : LARASATI
Pengarang                   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                       : Lentera Dipantara
Tahun terbit                 : 2003
ISBN                           : 9789799731296

“Kalau mati dengan berani; kalau hidup denganberani.
Kalau keberanian tidak ada-itulah sebabnya setiap bangsa asing bisajajah kita.”
--Pramoedya Ananta Toer

Pasca proklamasi kemerdekaan Indoensia bukan berarti perjuangan berhenti sampai di sini. Perjuangan pembebasan dari kungkungan kolonialisme (Penjajahan) yang disebut revolusi masih terus dikobarkan. Bagaimana tidak, pasca Jepang ditaklukkan oleh pasukan sekutu maka nusantara berpindah tangan dari Jepang ke Sekutu. Maka, pasukan sekutu datang ke Nusantara dengan melancarkan agresi militer dan menduduki berbagai tempat strategis di pulau Jawa, termasuk Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik yang baru seumur jagung.
Di tengah berlangsungnya perjuangan revolusi mempertahankan republik yang muda belia ini, banyak pergolakan yang terjadi. Tentunya kontak senjata dengan tentara colonial tidak bisa dielakkan lagi. Segala keterbasan yang ada tentu menjadi salah satu penyebab pasukan Republik bersama rakyat menderita banyak kekalahan di antara banyak kemenangan kecil yang bisa diraih. Salah satu kekelahan yang cukup telak adalah jatuhnya pusat pemerintahan Republik yaitu Jakarta ke tangan pasukan Kolonial. Sehingga memaksa pusat pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta.
Mengambil latar waktu masa revolusi inilah, Pramoedya Ananta Toer mencoba menggambarkan gejolak yang terjadi. Melalui sudut pandang seorang Artis, Bintang Film terkenal saat itu, Larasati, Pram mencoba menghadir kan suasana yang terjadi antar individu yang pro terhadap revolusi dan yang kontra. Dengan menghadirkan Ara, sapaan akrab Larasati, sebagai tokoh utama dalam cerita ini, digambarkan pertentangan yang terjadi antar individu tersebut. Dengan latar yang mengambil tempat di pusat pemerintahan yang dikuasai oleh pasukan kolonial, Jakarta, drama mengharukan tersaji melalui kisah heroic para pemuda, dan tentunya gejolak padajiwa Aras ebagai artis yang masih sangat kuat mendukung revolusi namun harus berhubungan dekat dengan para kaum oportunis inlandder yang berpihak kepada penjajah hanya untuk kepentingan perut mereka sendiri.
Dimulai dengan perjalanan Ara untuk pindah dari daerah pedalaman-Yogyakarta- menuju Jakarta, cerita ini menggambarkan bagaimana kisah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan di setiap daerah. Dalam perjalana nmenggunakan kereta api banyak tentara yang mengenal bintang film Ara, dan mereka sempat bertegur sapa walaupun hanya sebentar saja. Memang, Ara terkenal baik di kalangan pasukan Republik maupun di kalangan pasukan penjajah. Berbekal surat pengantar dari salah seorang perwira bernama Oding, Ara bisa masuk ke Jakarta tanpa hambatan dan bertemu dengan kenalan lama yang bernama Mardjohan dan Kolonel Serjo Sentono. Kedua orang oportunis ini mengajak Ara untuk membuat film yang bertujuan untuk propaganda Belanda, namun ditolak oleh Ara dengan tegas karena bertentangan dengan revolusi, semangat yang dijunjung tinggi dan terpatri dalam sanubarinya sebagai orang Republik.
Dengan terang benderang, cerita ini menggambarkan betapa semangat revolusi tidak hanya mengakar kuat pada kalangan pasukan saja, namun setiap insan yang berada di Nusantara dan merasakan kejamnya penjajahan. Inilah yang dialami oleh Ara, seorang bintang film pun bisa berbuat untuk revolusi dengan caranya sendiri. Apalagi pemuda yang masih punya tenaga yang cukup untuk mengangkat senjata. Hal ini digambarkan dengan apik dalam cerita ini di mana sekelompok pemuda tetap berjuang melakukan penyerbuan-penyerbuan kecil terhadap pasukan patrol Belanda namun cukup memberikan efek yang berarti bagi pasukan Belanda. Dengan berani Ara pun sempa tterlibat dalam satu pertempuran dengan para pemuda tersebut melawan pasukan patroli yang melintasi kampung di mana Ibu dari Ara tinggal. Dalam pertempuran tersebut juga terlibat seorang pemuda yang bernama Martabat, yang menyelamatkan Ara dari Mardjohan dan Sentono dan membawa ke kampung ibunya. Pemuda ini berniat menuju pedalaman Yogya untuk bergabung dengan para pejuang Republik, akhirnya terwujud dengan bantuan dari Ara. Penduduk kampung yang sebagian besar kakek-nenek tidak ketinggalan dalam perjuangan revolusi, merekalah yang merawat para pemuda yang terluka dan mengurus yang gugur akibat pertempuran.
Kampung di mana Ibu Ara tinggal merupakan sebuah kampung kumuh namun menjadi tempat persembunyian para pemuda yang tetap gencar melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap pasukan Belanda. Di sinilah akhirnya Ara, tertahan dalam kurun waktu yang cukup lama demi keselamatan ibunya. Adalah seorang Arab bernama Jusman, majikan di mania bunya bekerja sebagai babu, yang menahan ibunya agar Ara mau datang dan tinggal di rumahnya. Jusman merupakan seorang Arab yang berpihak kepada Belanda namun mencintai Ara. Dengan alasan untuk bermain gambus, Ara diajak untuk bergabung pada awalnya. Akhirnya Ara tinggal bersama Jusman sebagai perempuan simpanan tanpa dinikahi secara sah.
Seiring dengan gencarnya perlawanan dari pasukan Republik, akhirnya pasukan Belanda, NICA, terdesak sehingga Jusman pun pergi dari Jakarta untuk menyelamatkan diri. Tentunya ini menjadi keuntungan bagi Ara yang bisa bebas dari kungkungan Jusman. Dengan demikian, Ara bisa keluar dari rumah tersebut dan pada akhirnya bertemu dengan Kapten Oding, seorang perwira yang dicintainya. Dengan pria ini Ara menikmati suasana kemenangan pasukan Republik melalui perjuangan revolusi.
Walaupun berupa fiksi, cerita Larasati bisa menggambarkan bagaimana situasi saat itu berdasarkan pengalaman pengarangnya yaitu Pram. Terlihat jelas bahwa semangat revolusi begitu kuat dalam diri anak bangsa yang punya harapan terhadap Republik. Bahkan para seniman pun terlibat dalam propaganda menentang penjajah dengan keahlian mereka masing-masing. Tentu tidak jarang mereka mendapatkan tindakan represif dari penajajah dan ancaman kelaparan karena kurangnya pekerjaan bagi para seniman progresif seperti Ara d an teman-temannya. Sebaliknya, tindakan yang kontra revolusi pun tidak kalah besarnya dari kaum oportunis anak negeri yang hanya mencari keuntungan sendiri. Begitu juga pada kalangan tokoh tua, yang digambarkan melalui pandangan tokoh utama dan tokoh lainnya, yang memandang para tokoh tua yang kadang juga berlaku korup. Tidak peduli dengan gerakan yang dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok kecil yang mendukung revolusi.

Buku ini layak untuk dibaca karena menghadirkan drama yang menarik kaitannya dengan perjuangan revolusi. Diceritakan dari sudut pandang seorang perempuan yang begitu gigih bertahan demi revolusi. Cerita ini tidak kental dengan suasana politis yang kerap tergambar dari cerita-cerita tentang perjuangan revolusi yang lain. Namun menghadirkan cerita apik yang begitu menyentuh hati bagi yang membacanya. Dengan membaca buku ini semakin menguatkan pandangan bahwa Pramoedya Ananta Toer memang layak disebut sebagai penulis yang cakap dalam menulis novel atau roman dengan latar belakang sejarah.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6          

Tags:

No Comment to " PEREMPUAN REPUBLIK "

Tinggalkan jejak di sini