News Ticker

DISIPLIN KARENA NOMOR

By Agus Khairi - Tuesday, October 30, 2018 No Comments

Sumber: sindonews.com

Sudah jamak ditemukan bahwa pada fasilitas pelayanan publik akan ada antrean masyarakat yang akan mendapatkan layanan. Tidak jarang antrean ini akan memanjang karena banyaknya masyarakat yang menunggu untuk dilayani. Fasilitas umum seperti Bank, Pelayanan Pajak Kendaraan (SAMSAT), Bank, dan instansi pemerintah untuk pelayanan administrasi kependudukan mauoun perizinan tidak luput dari antrean masyarakat. Biasanya agar antrean ini tertib maka diatur sedemikian rupa baik dengan nomor antrian maupun berbaris berdasarkan waktu kedatangan. Hal ini sesuai dengan pengertian dari antre sendiri menurut KBBI, yaitu berdiri berderet-deret ke belakang menunggu untuk mendapat giliran. Deretan inilah kemdian yang disebut dengan antrean. Penggunaan nomor antrean ini biasanya bisa membuat masyarakat tertib menunggu karena akan menunggu nomornya disebut. Bagaimana kalau tidak menggunakan nomor antrean? Siapa yang datang lenih awal akan mendapatkan layanan terlebih dulu, namun kadang ini sulit dilaksanakan lantaran budaya antre masyarakat belum terbina dengan baik.
Kejadian terkait budaya antre ini sering saya temukan pada Bank atau fasilitas umum lainnya yang tidak menggunakan nomor antrean. Beberapa hari lalu saat akan mengganti kartu ATM di sebuah Bank di mana saya biasa transaksi keuangan, terlihat betul budaya antre ini bekum semua masyarakat punya. Pada antrean Customer Service (CS) ada beberapa orang yang menunggu giliran, ada dua orang CS yang melayani. Ketika masuk saya melihat masih ada dua orang yang dilayani dan satu orang remaja putri yang menunggu. Saya kemudian menunggu di bangku belakang, deretan kedua dari depan, begitu juga si remaja putri. Lalu datanglah seorang ibu yang duduk di deretan bangku pertama lantaran kosong. Beberapa saat kemudian bangku CS yang kedua kosong, si Ibu langsung duduk di kursi untuk mendapatkan layanan. Dalam hati saya menggerutu melihat tingkah si Ibu karena seharusnya remaja putri inilah yang akan dapat giliran. Namun tanpa memperhatikan nasabah yang lain si Ibu langsung maju, dan remaja putri pun belum bisa dilayani. Saya kemudian maju ke bangku kosong di deretan pertama untuk meunggu giliran, setelah si Ibu selesai saya memberikan isyarat agar si remaja putri maju duluan kaena memang sebenarnya dialah yang akan dapat giliran terlebih dulu dari saya karena lebih awal datang. Hal ini juga sepertinya uput dari CS yang ada maupun pengaturan ari Bank sendiri yang tidak berjalan dengan baik. Namun seharusnya tanpa ada pengaturan pun seharusnya si Ibu tadi paham betul terkait dengan budaya antre ini sehingga tidak terjadi perebutan giliran seperti tadi.
Kejadian yang saya alami tadi masih dalam lingkup yang sangat kecil, namun cukup membuat jengkel dan membuat hak orang lain terbengkalai. Di negeri ini sudah banyak dampak yang sangat fatal yang diakibatkan oleh budaya antre masyarakat kita yang belum terbentuk dengan baik. Beberapa kejadian akibat antre yang tidak baik mengakibatkan jatuhnya korban meninggal saat menunggu layanan. Kejadian ini kemudian tidak jarang ditimpakan kesalahannya pada penyelenggara karena dianggap lalai. Kesemuanya ini tidak akan terjadi apabila budaya dan disiplin antre ini sudah terbentuk dan mendarah daging di dalam pribadi masyarakat kita  Indonesia tercinta ini. Karena budaya masyarakat yang tinggi bisa menjadi gambaran derajat martabat suatu bangsa. Dan kita ingin martabat bangsa Indonesia terangkat agar sama dengan bangsa-bangsa di dunia, bahkan bisa lebih tiinggi dari bangsa yang lain. Oleh karenanya mari pupuk disiplin dan budaya antre ini di kalangan masyarakat Indonesia agar bangsa Indonesia dipandang sebagai bangsa yang bermartabat. SEMOGA.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6     

Tags:

No Comment to " DISIPLIN KARENA NOMOR "

Tinggalkan jejak di sini