News Ticker

TENTANG PILIHAN (Bagian 1): PILIHAN TERSANDERA STIGMA

By Agus Khairi - Saturday, October 13, 2018 No Comments

Dua kali perhelatan pemilihan umum, utamanya pemilihan presiden dan wakil presiden, yaitu tahun 2014 dan 2019 yang akan datang entah mengapa begitu sulit dalam menentukan pilihan. Bukan karena sulit menentukan mana yang terbaik dari yang baik-baik, namun sulitnya dalam mempunyai pilihan. Bagaimana tidak, saat sudah mempunyai pilihan sejak 2014 yang lalu maka bersiap-siap mendapat julukan salah satu dari dua istilah yang begitu tidak enak didengar. Sungguh tidak elok untuk disematkan pada manusia yang sudah mempunyai akal dan berbudaya. Bahkan lebih jauh lagi, perkara agama pun menjadi pembeda di antara yang seagama sekalipun. Yang mana saudara seiman bahkan sampai mengatakan saudaranya yang lain kafir karena beda pilihan. Menganggap diri paling beragama saat memilih salah satu pasangan calon atau partai tertentu.
Sulitnya mempunyai pilihan pada tahun politik terakhir ini tidak terasa pada tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) tidak santer terdengar pada tahun-tahun politik sehingga pilihan apapun itu tidak terlalu membebani pribadi masing-masing. Tidak ada saling cap ini dan itu, tidak ada yang merasa paling beriman lantaran pilihan politik. Kesemuanya itu sirna lantaran narasi-narasi SARA yang dikemukakan sejak tahun pemilihan umum 2014 dan dipelihara sampai saat ini. Tentu dengan tujuan politik semata, bukan tentang kepentingan umat beragama. Padahal banyak hal lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan tentunya, tidak semata terkait dengan narasi-narasi yang dibangun akhir-akhir ini melalui media sosial dan media massa.
Saling serang dan bertahan dalam sebuah kompetisi seperti pemilihan umum tentu tidak ada salahnya. Tergantung pada tentang apa yang menjadi isi dari serangan terhadap lawan. Tentu yang paling elok adalah adu program ke depan maupun yang sudah dijalankan. Namun kemudian ini menjadi celah yang empuk bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) untuk saling menyudutkan bahkan menjatuhkan. Nafsu menjatuhkan ini bahkan sampai pada tataran pribadi sang calon yang mana ilmu cocokologi (berusaha mengaitkan) merajalela di dunia maya dan sangat gampang disebarluaskan. Perang pernyataan di media massa oleh para elit politik juga menjadi tontonan bagi masyarakat, sehingga diskusi dan adu gagasan sudah jarang di dunia nyata. Dunia maya menjadi arena tarung bebas bagi para elit dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang terus memupuk kebencian.
Stigma-stigma yang berkaitan dengan SARA memang cukup membuat pilihan politik menjadi berat, apa lagi sudah menjurus ke stigma berkaitan dengan iman dan agama. Belum tentu dengan memilih partai A seseorang kemudian bisa diukur tingkat keimanannya, seperti gampangnya seseorang menganggap dirinya lebih beriman daripada yang lain karena memilih partai B yang kebetulan berciri religius. Jika ini dipelihara terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan timbul celah-celah perpecahan yang semakin lebar. Akan lebih sulit lagi jika menjadi kelompok minoritas pada suatu lingkungan dengan pilihan yang berbeda. Banyak sudah ditemukan perpecahan di bawah hanya karena pilihan politik di tingkat pusat, yang sampai menyentuh ranah perkawanan. Yang mana perkawanan ini bisa rusak gara-gara beda pilihan.
Oleh karena itu mari sudahi saling semat-menyematkan stigma negatif hanya karena beda pilihan politik. Akan lebih baik jika masing-masing kita menonjolkan kebaikan-kebaikan masing-masing calon yang menjadi pilihan dan menegasikan keburukan-keburukan yang dimiliki. Karena sesungguhnya kontestasi politik praktis adalah ajang adu gagasan berkemajuan, bukan saling buka aib. Tentu tidak salah mendasarkan agama sebagai landasan untuk menentukan pilihan, karena sudah diatur dalam masing-masing agama yang ada. Namun bukan menjadi dasar untuk memberikan stigma negatif kepada saudara seiman yang kebetulan berbeda pilihan, karena bisa saja kriteria yang digunakan adalah lebih besar kepada kemampuan di luar agama. Mengingat kompleksitas persoalan yang dihadapai negeri ini, melalui pemilihan umum yang akan datang maka penting untuk melahirkan pemimpin yang betul-betul kompeten dalam mengelola NKRI ini secara menyeluruh.  

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6                       

Tags:

No Comment to " TENTANG PILIHAN (Bagian 1): PILIHAN TERSANDERA STIGMA "

Tinggalkan jejak di sini