News Ticker

HUKUMAN DENGAN POINT

By Agus Khairi - Friday, November 9, 2018 5 Comments
sumber: kajinsekolah.com

Dalam lingkungan pendidikan khususnya di sekolah maupun di madrasah kita kerap kali menemukan perilaku siswa yang bermacam-macam. Perilaku tersebut kadang tidak sesuai dengan bagaimana siswa seharusnya di lingkungan pendidikan. Perilaku yang tidak sesuai tersebut kemudian sering kita katakan sebagai pelanggaran tata tertib atau aturan yang berlaku. Pelanggaran terjadi dari hal yang ringan sampai yang berat. Pelanggaran ringan seperti terlambat, tidak rapi dalam berpakaian, tidak mengerjakan tugas dan tindakan indisipliner lainnya. Sedangkan pelanggaran berat seperti berkelahi dan mengambil barang milik siswa lain.
Dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi satuan pendidikan biasanya menerapkan hukuan-hukuman yang beragam. Bisa juga kadang hukuman atas inisiatif guru yang menemukan pelanggaran tersebut di dalam kelas. Ada juga hukuman ditentukan atas dasar aturan masing-masing satuan pendidikan. Pemberlakuan hukuman sudah barang tentu menjadi hal yang wajar mengingat tujuan pendidikan adalah untuk memberikan pelajaran tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi juga sikap posisitf bagi peserta didik. Namun pemberian hukuman terkadang tidak sesuai dengan prinsip pendidikan, sehingga alih-alih membuat siswa jera malah pelanggaran tersebut kerap diulangi lagi. Terkadang tindakan pemukulan terhadap siswa pun bisa terjadi, tentu ini tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Karena akan berhadapan dengan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Undang-undang Perlindungan Anak.
Sebagai sebuah lembaga, satuan pendidikan tentunya harus mempunyai cara untuk mengatur kedisiplinan siswanya dengan baik. salah satunya adalah dengan memberlakukan tata tertib yang mengatur tingkah laku siswa serta sanksi atas pelanggaran tata tertib tersebut. Tata tertib ini tentunya bisa menjadi acuan bagi seluruh warga lingkungan pendidikan dalam bertingkah laku dalam lingkungan satuan pendidikan. Yang menjadi titik tekan dalam pemberian sanksi di sini adalah agar tidak memberikan peluang terjaidnya kekerasan terhadap anak. Namun selain pembinaan, tindakan tegas juga diperlukan agar siswa bisa mematuhi tata tertib yang berlaku. Pemberian point terhadap pelanggaran tata tertib bisa menjadi salah satu pilihan bagi satuan pendidikan dalam memberikan sanksi terhadap tiap pelanggaran yang terjadi. Dengan pemberian point ini juga akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki kesalahannya dengan menetapkan ambang batas point maksimal untuk seluruh pelanggaran. Dengan point maksimal tentu akan mendapat saknsi yang maksimal pula, yaitu biasanya dibina di rumah untuk waktu tertentu atau bahkan bisa dikeluarkan dari satuan pendidikan. Tentu ini akan menjadi dilemma di satuan pendidikan namun ini untuk menjaga marwah lembaga pendidikan setelah berusaha maksimal untuk membina siswanya. Juga untuk memberikan efek jera bagi siswa yang lain agar tidak terjadi lagi pelanggaran serupa.
Pemberlakuan point sanksi ini tentunya perlu mendapatkan persetujuan dari pihak terkait, utamanya wali murid. Dalam hal ini satuan pendidikan bisa memberikan sosialisasi saat penerimaan peserta didik baru agar wali murid mengetahui mekanisme yang berlaku di satuan pendidikan tersebut. Seperti yang dilakukan di Madrasah tempat saya mengajar, tata tertib dibuat dengan point pada tiap pelanggaran dan tindakan yang dilakukan saat menacapai point tertentu. Agar ini bisa berlaku dengan baik dan diindahkan oleh peserta didik maupun wali maka sosialisasi dilakukan kepada wali murid. Setelah itu kepala Madrasah menandatangani tata tertib tersebut sebagai tanda pengesahan, juga meminta masing-masing peserta didik dan walinya untuk menandatangani tata tertib yang sudah diperbanyak sejumlah siswa. Dengan ini diharapkan siswa bisa lebih patuh terhadap tata tertib dan wali murid juga peduli terhadap perkembangan anaknya di sekolah. Dengan demikian maka tata tertib bisa diberlakukan dengan maksimal demi tercapainya tujuan pendidikan.
Model hukuman dengan point ini oleh Jajang Aisyul Muzakki dalam artikelnya yang berjudul Model Pemberian Hukuman dalam Pendidikan Islam disebut Model Ta’did al-Mukhalafah. Model ini mengacu kepada sebuah hadits yang intinya mengatakan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan diberikan ganjaran oleh Tuhan berupa angka, begitu juga setiap kejahatan yang dilakukan akan diberikan point kejahatan. Mengacu kepada hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tersebut, menurut saya meberikan point hukuma sangatlah tepat akrena sesuai dengan prinsip agama. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi kekerasan yang tidak perlu di satuan pendidikan yang berujung pada persoalan hokum di pengadilan. Beda jaman tentu beda perlakuan, maka pemberian sanksi bagi peserta didik pada jaman sekarang ini juga perlu memperhatikan perkembangan lingkungan sekitar dan aturan yang berlaku di negara kita.

#NonFiksi

#ODOPBatch6

5 comments to ''HUKUMAN DENGAN POINT"

ADD COMMENT
  1. Setuju mas, dengan pemberian point terhadap pelanggaran tata tertib bisa menjadi salah satu pilihan dalam memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi.

    ReplyDelete
  2. Yang tak kalah penting menurut saya adalah memastikan apakah anak-anak tahu kesalahannya sebelum kita memberikan sanksi. Karena bila tidak, dia akan cenderung mengulang karena menurut mereka yang dilakukan itu benar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini saya setuju banget sama ibu Endah. Teteup harus disertai penjelasan ya. Anak tetep harus tahu salahnya dimana dan apa yang seharusnya dia lakukan.

      Tapi saya suka metode ini dan bisa sangat efektif bila dijalankan dengan bener. jika dibandingkan dengan hukuman fisik (korban hukuman fisik dulu karena nakal)

      Delete

Tinggalkan jejak di sini